Konten dari Pengguna

Fakta Nobel Sastra yang Harus Kamu Tahu

Sapta Arif

Sapta Arif

Mencintai membaca dan hobi menulis

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sapta Arif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanggal 10 Desember menjadi tanggal yang istimewa di sebuah negeri yang jauh di benua Eropa. Di hari itu, ratusan pujangga dari seluruh belahan dunia akan berkumpul menyaksikan sebuah prosesi agung nan khidmat. Ratusan pujangga itu akan menyaksikan seorang maestro sastra dinobatkan sebagai Nobel Laureate (sebutan untuk seorang penerima nobel).

Ialah Alfred Nobel (1833 – 1897), seorang ilmuan kaya raya yang menemukan dinamit. Jika beberapa atau bahkan kebanyakan ilmuan memulai karir dari kemiskinan, Nobel berbeda. Ia berasal dari keluarga yang kaya. Kemudian atas temuan dinamitnya itu, membuat lelaki yang menguasai banyak bahasa ini menjadi semakin kaya raya. Kekayaan inilah yang menjadi cikal bakal hadiah nobel masih ada hingga kini.

Nobel dan Sastra

Meskipun terlahir dan semakin sukses menjadi kaya raya, jiwa kemanusiaan Nobel sangat tinggi. Saat meninggal dunia, Aflred Nobel menitipkan sebuah surat wasiat. Kelak, surat wasiat itulah, menjadi dasar diselenggarakannya hadiah nobel untuk enam kategori. Keenam kategori tersebut adalah perdamaian, fisika, kimia, fisiologi/ kedokteran, ilmu ekonomi, dan kesusastraan.

Sastra diakui sangat berpengaruh dalam perkembangan zaman. Bahkan sastra ada yang mengatakan menjadi jembatan peradaban. Alfred Nobel pun sepakat demikian. Selain mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan dinamit, lelaki itu suka membaca karya sastra. Maka tak heran jika ada kategori sastra dalam penghargaan nobel.

Khusus sastra kurang lebih seperti ini bunyi surat wasiat Alfred Nobel—dikutip dari buku Henri Chamber-Loir. Pertama, Nobel akan diberikan kepada “orang yang pada tahun sebelumnya, mempersembahkan manfaat yang besar kepada umat manusia. Kedua, pengarang yang diberikan hadiah ialah “yang menghasilkan karya yang paling hebat berpaham idealis”. Ketiga, “kewarganegaraan tidak boleh diperhitungkan; orang terbaiklah yang harus menerima hadiah itu, baik orang skandinavia atau bukan”.

Sumber gambar: google.com

Kisah Panitia Nobel

Pada 1900, Yayasan Nobel resmi didirikan untuk mengatur semua kekayaan mendiang Alfred Nobel. Penghargaan nobel adalah salah satu kegiataan yang dikelola oleh Yayasan Nobel. Kekayaan Nobel dikelola oleh dewan direktur yang terdiri dari enam orang dan memiliki masa kerja selama dua tahun.

Dalam wasiat, Aflred Nobel telah menunjuk sejumlah Lembaga untuk melaksanakan pemberian hadiah Nobel Sastra. Lembaga tersebut adalah Akademi Swedia, di Stockholm, ibu kota Swedia. Kemudian badan yang ditunjuk itu membentuk tim yang beranggotakan tiga hingga lima orang untuk merumuskan proses seleksi Nobel.

Di awal tahun, panitia nobel akan memberikan undangan pada panitia pemberi hadiah, Nobel Laureate sebelumnya, dan para professor tertentu di perguruan tinggi. Undangan tersebut adalah permohonan untuk pencalonan kandidat peraih nobel. Undangan ini tentu bersifat rahasia.

Daftar nominasi atau kandidat terkumpul di bulan Februari. Panitia nobel kemudian mengkaji ulang nama-nama yang terkumpul. Selanjutnya membuat rekomendasi kepada badan pemberi hadiah. Tahap selanjutnya, anggota panitia nobel dan konsultan akan bertemu untuk mengevaluasi kualifikasi calon. Pada seleksi akhir, setelah merundingkan berbagai opini dan rekomendasi, badan pemberi hadiah melakukan pemungutan suara. Di Oktober, nama pemenang biasanya sudah diumumkan ke publik.

Sepuluh Desember, panitia akan mengundang para pemenang nobel di setiap bidangnya. Disaksikan ratusan tamu, undangan khusus ini akan menerima mahkota nobel.

Mereka yang Menolak Nobel

Sepanjang perjalanan penghargaan nobel, ada enam orang yang menolak pengharggan tersebut. Empat karena dilarang oleh pemerintah negaranya, dua lainnya karena keinginan sendiri. Pertama, Richard Kuhn mendapatkan nobel kimia tahun 1938. Namun karena rezim fasis Nazi, membuatnya harus menolak penghargaan tersebut. Kedua, Adolf Butenandt memperoleh penghargaan Nobel Kimia pada 1939 berkat penelitiannya tentang hormon seksual. Namun kembali, rezim Hitler melarang siapa pun untuk menerima Nobel. Ketiga, Gerhard Domagk memperoleh Nobel Kedokteran pada 1939. Namun nasibnya sama dengan dua sebelum. Karena rezim Hitler ia menolak malah nasibnya lebih tragis. Lantaran sehari setelah pengumuman ia malah ditahan oleh polisi Nazi.

Dua terakhir adalah Boris Leonidovich Pasternak dan Jean-Paul Sartre . Mereka berdua pemenang nobel sastra yang kemudian menolak menerimanya. Pasternak menolak lantaran kondisi politik negerinya. Sedangkan Sartre menolak lantaran ia tidak ingin berpihak kepada siapapun dalam berkarya, termasuk orang-orang yang terlibat dalam panitia nobel.

Menunggu Undangan Nobel Datang ke Indonesia

Mendengar kata nobel, tentu benak kita mengingat sosok Pramoedya Ananta Toer. Sosok yang dulu pernah masuk dalam nominator sekaligus digadang-gadang menjadi peraih nobel sastra. Tidak hanya Pram, Mochtar Lubis dan Kuntowijoyo pun sempat diperbincangkan dunia internasional. Namun kembali belum beruntung.

Lalu bagaimana peluang sastrawan Indonesia sekarang di kancah Nobel?

Sebelum membahas siapa yang paling berpeluang di persaingan nobel, mari kita simak ulasan Henri Chamber-Loir dalam buku Sastra dan Sejarah Indonesia. Pertama, konon, panitia nobel hanya akan membaca ratusan karya yang masuk dalam empat bahasa: bahasa Swedia, Inggris, Perancis, dan Jerman. Kedua, seorang sasrawan Indonesia baru akan menarik perhatian Panitia Nobel, jika karya yang diterjemahkan itu berjumlah banyak.

Era mutakhir tentu membantu sastrawan kita semakin dikenal dunia. Jika dulu, sastrawan yang karyanya diterjemahkan bisa dihitung jari, kini semakin banyak. Mereka diantaranya Andrea Hirata dengan sekuel Laskar Pelangi-nya, Eka Kurniawan, Laksmi Pamuntjak, Ahmad Tohari, Arafat Nur, dan lain-lainnya. Apalagi Eka Kurniawan yang memang prestasinya sedang menanjak, bahkan ada yang menyebutnya Pramoedya Ananta Toer junior.

Namun tentu kembali lagi, hadiah nobel pun tak akan luput dari unsur politik dan budaya. Era muthakir sangat membantu lompatan prestasi sastrawan Indonesia yang sedikit demi sedikit mulai dikenal dunia dan karyanya mulai diterjemahkan ke banyak bahasa. Namun sekali lagi, selain karya yang berbicara, panitia nobel juga melihat track record sastrawan tersebut dalam mengambil sikap dalam urusan negerinya atau isu-isu dunia. Melihat pemenang nobel sebagian besar adalah sastrawan Eropa dan Amerika, peluang Indonesia untuk mencuat ke puncak memang kecil. Namun, dalam dunia ini tidak ada yang tak mungkin, mengingat Indonesia memiliki kekuatan besar yang selama ini selalu menjadi perhatian dunia. Keanekaragaman budaya adalah kekuatan, kemudian sastrawan dan karyanya adalah media untuk mengemasnya menjadi karya yang monumental. Jika sastrawan kita bisa memaksimalkan potensi tersebut, bisa jadi kita bisa melihat sastrawan kita datang ke Stolockholm di tanggal 10 Desember untuk menerima mahkota Nobel Sastra. Namun bagaimana hasilnya, tentu kembali diserahkan pada panitia nobel sastra. ***