Konten dari Pengguna

Gelombang Demonstrasi di Eropa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sapto Waluyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gelombang Demonstrasi di Eropa
zoom-in-whitePerbesar

Eropa menghadapi situasi krisis yang mengusik keyakinan bahwa negara-negara demokrasi maju telah menemukan cara untuk mengelola perbedaan secara damai. Pada pertengahan Oktober 2026, demonstrasi di Perancis, Italia, Belgia, Portugal, Spanyol, Albania, serta sejumlah negara Eropa lainnya memperlihatkan kemarahan warga terhadap meroketnya biaya hidup, buruknya layanan publik, ketidakpastian masa depan, dan respons pemerintah yang dinilai tidak memadai.

Namun, menyebut semuanya sebagai satu gelombang revolusi akan terlalu menyederhanakan keadaan. Guru Besar hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris, Alberto Alemanno, menegaskan bahwa demonstrasi tersebut bukan satu gerakan terpadu, melainkan mobilisasi berbeda yang mempunyai sejumlah keluhan serupa: pendidikan yang kurang didanai, kenaikan biaya hidup, dan kecemasan mahasiswa menghadapi masa depan setelah lulus. Ia juga melihat kemungkinan protes menjadi bagian penting perdebatan politik Eropa menjelang rangkaian pemilu nasional mendatang.

Persamaan keluhan tidak berarti kesamaan penyebab ataupun tujuan. Untuk memahami arah gerakan ini, kita perlu melihat siapa yang turun ke jalan, tuntutan mereka, dan bagaimana negara merespons.

Perancis: dari Ruang Kelas menuju Krisis Kepercayaan

Di Prancis, gelombang protes bermula dari pelajar sekolah menengah yang mempersoalkan kekurangan guru, kondisi gedung sekolah, kepadatan kelas, dan mutu pendidikan. Mobilisasi yang berawal di kawasan sekitar Paris pada bulan September kemudian meluas, melibatkan kelompok guru, serikat pekerja, mahasiswa, dan warga yang mengeluhkan kenaikan biaya hidup serta penurunan daya beli.

Pada 6 Oktober, menurut laporan Associated Press, lebih dari 266.000 orang berunjuk rasa di berbagai wilayah Perancis. Angka tersebut merupakan estimasi aparat yang diberitakan media, bukan hitungan independen yang bebas dari perbedaan metodologi. Pada 17 Oktober, demonstrasi kembali membesar. Kementerian Dalam Negeri Perancis memperkirakan sekitar 550.000 peserta, sementara serikat buruh CGT mengajukan angka yang lebih tinggi.

Di sejumlah tempat, aksi damai berubah menjadi bentrokan warga dengan aparat keamanan, pembakaran, dan penjarahan. Pemerintah menghadapi dua persoalan sekaligus: menjaga keselamatan warga dan menjawab tuntutan sosial yang menjadi latar protes. Presiden Emmanuel Macron mengecam kekerasan serta memerintahkan evaluasi terhadap kesiapan intelijen dan kepolisian. Perdana Menteri Sébastien Lecornu juga membuka ruang pembicaraan dengan pelajar, guru, serikat pekerja, dan pelaku usaha.

Meski demikian, penegakan ketertiban tidak otomatis memulihkan kepercayaan. Penggunaan kekuatan oleh polisi dan laporan mengenai peserta aksi yang terluka memunculkan pertanyaan tentang proporsionalitas tindakan aparat. Negara demokratis harus membedakan pelaku kekerasan dari demonstran damai dan menyelidiki dugaan pelanggaran secara transparan.

Perancis memperlihatkan bagaimana masalah sektoral—dalam hal ini pendidikan—dapat menjadi saluran bagi kekecewaan yang lebih luas. Ketika sekolah dipandang tidak lagi menyediakan kesempatan yang adil, persoalannya bukan sekadar anggaran pendidikan, melainkan juga keyakinan generasi muda terhadap masa depan.

Italia: Siapa yang Menentukan Prioritas Anggaran?

Di Italia, demonstrasi pada 16–17 Oktober melibatkan pelajar, mahasiswa, dan kelompok aktivis yang mempersoalkan alokasi belanja negara. Slogan seperti “uang untuk sekolah, bukan untuk perang” mencerminkan keberatan terhadap prioritas anggaran pertahanan ketika fasilitas pendidikan dan kebutuhan sosial dinilai belum terpenuhi.

Kantor berita ANSA melaporkan aksi berlangsung di sejumlah kota, termasuk Turin, Roma, Genoa, Venesia, dan Padua. Sebagian demonstran melempar benda ke arah polisi, sehingga persoalan ketertiban ikut menonjol. PM Giorgia Meloni menyatakan dukungannya terhadap hak masyarakat untuk melakukan mobilisasi, tetapi meminta semua kekuatan politik mengecam kekerasan dan serangan terhadap aparat.

Di balik slogan tersebut terdapat pertanyaan politik yang mendasar: siapa yang menentukan prioritas pengeluaran publik, dan bagaimana warga dapat memengaruhi keputusan itu? Anggaran bukan sekadar dokumen teknis. Ia mencerminkan pilihan tentang kelompok mana yang menerima perlindungan, bidang mana yang dikembangkan, dan risiko apa yang dianggap paling mendesak.

Pemerintah tentu harus mempertimbangkan keamanan nasional, kewajiban fiskal, dan kebutuhan sosial secara bersamaan. Namun, ketika masyarakat tidak memahami alasan di balik pilihan anggaran atau merasa tidak memiliki suara, keputusan yang sah secara prosedural tetap dapat kehilangan dukungan sosial.

Albania: Kemarahan terhadap Elite dan Masa Depan yang Terasa Tertutup

Albania memperlihatkan corak yang lebih tajam. Gerakan yang dikenal sebagai Flamingo Revolution bermula pada Mei 2026 dari penolakan terhadap rencana pembangunan kompleks hotel mewah di kawasan pesisir yang sensitif secara ekologis. Seiring waktu, tuntutannya meluas menjadi desakan penyelidikan dugaan korupsi, penolakan terhadap dominasi elite politik dan ekonomi, serta permintaan agar PMi Edi Rama mengundurkan diri.

Pada pertengahan Oktober, pelajar dan kaum muda bergabung dalam demonstrasi yang semakin konfrontatif. Reuters melaporkan ribuan orang berbaris di Tirana pada 16 Oktober. Analis politik Afrim Krasniqi mengatakan kepada bahwa generasi muda merasa tidak melihat masa depan di Albania karena sumber daya politik dan ekonomi dipersepsikan berada di tangan oligarki.

Pemerintah Rama menolak tuntutan pengunduran diri dan menuding lawan politik ikut mendorong kerusuhan. Pemerintah juga mengaitkan stabilitas dengan ambisi Albania bergabung dengan Uni Eropa. Sementara itu, Komisi Eropa mengecam kekerasan terhadap lembaga negara dan perusakan properti, tetapi sekaligus menegaskan bahwa hak berkumpul dan menyampaikan pendapat secara damai harus dihormati.

Kasus Albania memperlihatkan bahwa ketika protes damai berlangsung lama tanpa tanggapan yang dianggap memadai, ruang bagi dialog dapat menyempit. Persoalan lingkungan kemudian berkembang menjadi krisis representasi politik: siapa yang dipercaya berbicara atas nama publik, dan apakah institusi bersedia menyelidiki dugaan penyalahgunaan kekuasaan secara independen?

Mengapa Gelombang Protes Muncul pada Waktu Berdekatan?

Sosiolog politik klasik Charles Tilly menjelaskan gerakan sosial sebagai bentuk tindakan kolektif yang menggabungkan kampanye, demonstrasi, dan pernyataan publik untuk menuntut perubahan dari pihak berwenang. Dalam kerangka ini, protes bukan semata-mata ledakan emosi. Ia menjadi cara warga menyampaikan tuntutan ketika saluran politik yang tersedia dipandang kurang efektif.

Tiga faktor membantu menjelaskan kemiripan unjuk rasa lintas negara.

Pertama, tekanan ekonomi sehari-hari. Harga rumah, transportasi, energi, dan kebutuhan pokok menentukan apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar terasa dalam kehidupan warga. Kedua, kecemasan generasi muda. Pendidikan yang mahal atau bermutu rendah, sulitnya memperoleh pekerjaan, dan terbatasnya mobilitas sosial dapat mengikis keyakinan bahwa usaha akan menghasilkan masa depan yang lebih baik. Ketiga, krisis kepercayaan. Ketika pemerintah dianggap lamban, tidak transparan, atau terlalu dekat dengan kepentingan elite, keluhan yang semula terpisah dapat bertemu dalam satu demonstrasi.

Alberto Alemanno mengingatkan bahwa gelombang protes di Eropa ini tidak terkoordinasi sebagai satu gerakan. Karena itu, kesamaan waktu sebaiknya dibaca sebagai gejala tekanan sosial yang beririsan, bukan bukti adanya satu komando atau agenda tunggal lintas negara.

Ke mana Arah Gelombang Protes?

Ada tiga kemungkinan yang dapat berjalan bersamaan. Pertama, pemerintah merespons melalui negosiasi, perbaikan layanan publik, dan perubahan kebijakan yang terukur. Kedua, protes berulang apabila tuntutan pokok hanya dijawab dengan pernyataan atau tindakan keamanan tanpa pembenahan masalah mendasar. Ketiga, kelompok politik yang lebih terorganisasi dapat berusaha mengarahkan kemarahan publik untuk kepentingan elektoral mereka.

Tidak satu pun hasil tersebut dapat dipastikan saat ini. Arah gerakan akan dipengaruhi kemampuan organisasi demonstran menjaga koalisi, efektivitas respons pemerintah, perkembangan ekonomi, serta apakah terdapat jalur politik yang kredibel untuk menerjemahkan tuntutan menjadi kebijakan.

Kekerasan juga perlu dibedakan dari protes itu sendiri. Perusakan dan serangan terhadap warga tidak dapat dibenarkan hanya karena tuntutan awalnya sah. Sebaliknya, tindakan segelintir pelaku kekerasan tidak semestinya dijadikan alasan untuk meniadakan hak seluruh warga menyampaikan pendapat.

Pelajaran bagi Indonesia

Kondisi sosial-ekonomi Indonesia tidak dapat disamakan situasinya dengan Perancis, Italia, atau Albania. Struktur ekonomi, sejarah politik, kapasitas institusi, dan dinamika masyarakatnya berbeda. Namun, pengalaman Eropa menyampaikan beberapa pelajaran penting.

Pertama, pemerintah perlu membaca demonstrasi sebagai informasi sosial, bukan semata-mata gangguan ketertiban. Tuntutan mahasiswa, pelajar, pekerja, dan masyarakat lokal harus dicatat, diverifikasi, serta dijawab melalui dialog yang mempunyai tindak lanjut kongkret.

Kedua, investasi pada pendidikan dan pekerjaan layak merupakan investasi dalam kepercayaan sosial. Generasi muda perlu melihat jalur yang masuk akal dari pendidikan menuju pekerjaan, kemandirian, dan partisipasi publik. Ketiga, kebijakan anggaran perlu disertai penjelasan terbuka mengenai prioritas, manfaat, dan konsekuensinya. Keempat, aparat harus melindungi demonstran damai, menjaga keselamatan masyarakat, dan bertindak proporsional terhadap kekerasan dengan mekanisme akuntabilitas yang jelas.

Akhirnya, demokrasi tidak hanya diuji ketika pemilu berlangsung. Ia juga diuji ketika warga marah, ketika kebijakan pemerintah ditolak, dan ketika kelompok yang tidak populer/minoritas menuntut haknya. Pemerintahan yang kuat bukanlah pemerintahan yang tidak pernah menghadapi demonstrasi, melainkan pemerintahan yang mampu mendengar kritik, menegakkan hukum secara adil, dan memperbaiki kebijakan tanpa mengorbankan kebebasan sipil.

Jalan keluar dari gelombang protes Eropa—dan pelajaran bagi Indonesia—bukan memilih antara ketertiban dan kebebasan. Tantangannya ialah membangun keduanya sekaligus, melalui institusi yang dipercaya dan kebijakan yang sungguh-sungguh menjawab kebutuhan warga. []