Budaya Pop Sebagai Alat Protes: Telaah Teori Aksi Kolektif dalam Psikologi

Social Psychology Enthusiast
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Akhmad Saputra Syarif tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana perasaan Anda jika melihat Pikachu—karakter utama dalam waralaba Pokémon—yang selama ini Anda tonton di televisi sewaktu kecil, terlibat dalam kejar-kejaran dengan polisi? Tentu akan muncul perasaan campur aduk. Mungkin salah satunya adalah rasa gemas, karena makhluk fiksi bertubuh mungil dan menggemaskan itu harus berlari pontang-panting demi menghindari penangkapan. Atau, kalau Anda adalah penyuka film fantasi, The Hunger Games: Mockingjay Part 1, Anda akan familiar dengan salam tiga jari yang digunakan Katniss Everdeen (diperankan oleh Jennifer Lawrence) sebagai simbol pemberontakan terhadap Presiden Snow. Bagaimana perasaan Anda jika melihat simbol tersebut digunakan untuk mengkrtitik pemerintah di dunia nyata ? Apakah Anda akan bingung atau malah antusias ?
Semua pertanyaan tersebut benar-benar terjadi, karakter Pikachu misalnya. Salah seorang aktifis yang mengikuti aksi protes, atas penangkapan Wali Kota Istanbul, menggunakan kostum tiup Pikachu dan tertangkap kamera terlibat pengejaran dengan polisi. Juga salam tiga jari di film Hunger Games digunakan masyarakat Thailand sebagai simbol perlawanan sejak 2014 saat militer menggulingkan pemerintah Thailand. Baru-baru ini juga di Indonesia, masyarakat mengibarkan bendera one piece sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan. Resah dengan kibaran bendera one piece, banyak orang-orang di pemerintahan memberikan tanggapan keras dari tuduhan makar sampai ancaman pidana bagi mereka yang melakukan pengibaran. Saking rautnya, masalah ini perlu ditengahi oleh Presiden Prabowo sendiri.
Dari keselurusan peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan, apa yang membuat penggunaan budaya pop dapat menjadi wadah tindakan aksi protes ? Tindakan protes dalam psikologi sosial berada pada ruang kajian aksi kolektif yang didefenisikan sebagai usaha bersama untuk meningkatakan kondisi kelompok. Sementara itu sejak tahun 1984, aksi kolektif dipercaya muncul dikarenakan kelompok yang bersangkutan merasakan relative deprivation yakni perasaan tidak puas atau terampas yang muncul karena perbandingan sosial dengan kelompok lain yang dianggap lebih memiliki akses lebih besar terhadap sumber daya, status, atau pengakuan. Namun, berbeda dengan beberapa dekade terakhir, banyak diantara aktifis menggunakan nonnormative collective action—seperti menduduki bangunan, demonstrasi, ataupun keributan untuk menyalurkan aspirasi mereka—saat ini arah penyaluran aksi banyak menggunakan budaya popular.
Keefektifitasan budaya popular ini dalam bentuk aksi kolektif dapat dijelaskan menggunakan teori ABIASCA. Teori ini di ajukan oleh Gulliver dan koleganya dalam buku mereka the psychology of effective activism. ABIASCA merupakan akronim yang merujuk pada tahapan: Awareness raising, Building sympathy, Intentions, Actions, Sustaining the group, Coalition-building, dan Avoiding counter-mobilisation. Pada buku yang sama, Gulliver menjelaskan efektifitas terhadap sebuah bentuk aksi kolektif didasarkan dari tiga pertimbangan: Audience, goal dan juga time frames. Audience merujuk pada kelompok orang yang menjadi sasaran atau tujuan dari aksi kolektif yang dimaksud: apakah untuk diri sendiri (self)?; third parties ?; bystander ?; supporter ?; atau malah untuk opponent ? Selain itu, setelah menentukan kepada siapa tujuan aksi kolektif ini, aktifis juga perlu mempertimbangkan seberapa lama aksi kolektif akan berlansung (immidiate, sort to middle dan longterm) dan juga besaran perubahan yang diinginkan setelah melakukan aksi kolektif (goal; micro, messo dan macro).
Setelah menentukan ketiga elemen yang dimaksud oleh Gulliver dan koleganya tersebut, barulah aktifis dapat menentukan apakah pemilihan jenis aksi protes efektif atau tidak. Misalnya, pada tahun 1987, Klandermans dan Oegema mencontohkan ketika sasarannya adalah third parties dan timescale-nya adalah immediate maka aksi kolektfi yang dipilih dapat dikatakan efektif apabila dapat meningkatkan kesadaran, membangun simpati, menciptakan identitas kelompok. Namun apa bila dengan sasaran kelompok yang sama namun dengan perubahan menjadi long-term time scale maka patokan efektifitas aksi kolektifnya juga akan berubah ke perubahasan secara revolutionary pada sistem. Hal yang sama juga terjadi apabila sasarannya adalah opponent dengan short to medium-term maka akasi protesnya dikatakan efektif apabila dapat menghindari kontra-mobilisasi, dapat memprovokasi, atau memulai tindakan yang merugikan kelompok sasaran.
Pertanyaannya kemudian adalah siapa yang harusnya menentukan audience, goal dan time frames aksi protes yang akan dilakukan ? jawabannya adalah Individu dan kelompok. Hal ini disebabkan baik pada level individu dan kelompok memiliki dinamikanya sendiri-sendiri. Gerakan feminimisme pada abad ke 19 misalnya yang tujuannya adalah mengikutsertakan perempuan untuk terlibat pada votes. Secara kelompok, para aktifis sadar bahwa perubahan sistem ini memerlukan waktu yang panjang (longterm time scale) dan aksi kolektifnya mengarah kepada pemerintah yang membentuk sistem yang dirasa tidak adil (opponent), namun pada level Individu sendiri banyak diantaranya ikut serta pada aksi tersebut untuk self-affirmation (audience=self + time frames=immediate) atau untuk generating intentions (audience=suppoerters + time frames=short dan medium-term). ABIASCA sendiri tidak memiliki urutan yang diikuti secara formal, aksi kolektfi dapat berhenti pada tahapan awal awareness raising atau malahan langsung lompat ke Sustaining the group, semuanya tergantung dari audience, goal dan juga time frames aksi kolektif yang dimaksudkan.
Pengibaran bendera one piece yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia meskipun disebutkan tidak ada yang memobilisasi namun dapat pula disebut sebagai bentuk aksi kolektif (lebih spesifik lagi aksi protes) karena tujuannya adalah untuk meningkatkan kondisi kelompok yang berada pada kondisi yang tidak adil. Sementara itu, masyarakat yang juga terlibat atau memiliki intensi untuk terlibat dalam aksi tersebut mengaku:
“Selama ini kita kayak enggak merdeka, gak sih?” [R]
Pada level Individu, masyarakat memiliki alasan masing-masing dalam mengibarkan bendera one piece. Beradasarkan dua pengakuan diatas, aksi protes ini diarahkan kepada pemerintah yang membuat mereka beranggapan bahwa kelompok mereka merasakan ketidakadilan. Dari sana, kita bisa melihat bahwa pemerintah diposisikan sebagai oppenents. Aksi kolektif ini sudah dapat dikatakan berhasil apabila menggunakan patokan immediate time scale dari klanderman dan oegema, yakni goalnya adalah menolak nilai kelompok lain dan menegaskan pertentangan. Keberhasilan tersebut bisa dilihat dari bagaimana pemerintah juga merespon pertentangan tersebut dengan cukup tegas—dangan acanman pidana dan klaim makar.
Apabila berdasarkan teori ABIASCA, penggunaan budaya populer selalu mampu mendulang keberhasilan pada tahapan-tahapan awal framework aksi kolektif ini. Awareness raising misalnya, ditengah penggunaan bentuk aksi kolektif yang umum dipakai (normative dan nonnormative collective action), penggunaan budaya popular sebagai medium protes seperti “standing among the crowds” mudah untuk mendapat perhatian dari masyarakat apalagi dibantu oleh media-media yang tiap hari berburu berita-berita yang unik dan menarik. Tentu ini menjadi kekutaan tersendiri bagi budaya pop, apalagi tujuan utama aksi protes pada awal kemunculannya adalah mengubah bystander dan third parties menjadi supporter sehingga dibutuhkan sebuah sarana untuk menjangkau orang-orang yang berada dalam kelompok bystander dan third parties secara luas, dan media massa menawarkan alternatif tersebut namun dengan syarat aksi yang dilakukan haruslah dapat memenuhi kriteria “unik dan menarik” agar dapat terliput.
