Membentuk Kecerdasan Emosional si Kecil Lewat Play Dough

Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Jakarta
Tulisan dari Saputri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
![gambar play dough [ dokumen: https://pixabay.com/id/photos/play-doh-adonan-bermain-kreatif-3308885/ ]](https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,f_auto,q_auto:best,w_640/v1634025439/01gm2ractpypknd98qmt14vnyz.jpg)
Wow, play dough sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang si buah hati. loh!
Anak Golden age adalah karakter individu yang melewati sebuah reaksi perkembangan yang cepat dan mendasar untuk kehidupan selanjutnya. Selain itu, anak usia dini rentang di usia 0-8 tahun.
Lantas, bagaimana menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional?
Nah, dalam UU ini menyatakan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan dasar. Masa kanak-kanak pada usia dini merupakan masa keemasan dalam setiap rentang usia perkembangan seorang insan.
Oleh karena itu, bila pada masa ini anak diberikan dengan stimulus-stimulus yang tepat dan sesuai dengan aspek-aspek perkembangan maka perkembangan dan pertumbuhannya akan meningkat dengan optimal. Perkembangan psikologis meliputi perkembangan emosional dan sosial. Aspek perkembangan emosi anak berkaitan dengan pemahaman dan kemampuan mengendalikan perasaan—sambil menyeimbangkan kemampuannya untuk berinteraksi dengan dirinya dan orang lain disekitarnya
Perlu ayah dan bunda ketahui, Perkembangan emosi yang sehat sangatlah penting untuk anak. Kemampuan ini akan menjadikan dirinya mampu bertingkah laku yang pantas, memahami arti hidup serta mampu melewati masa transisi dari anak-anak ke dewasa tanpa kendala apa pun. Semakin diasah, si buah hati akan lebih bisa memahami emosinya yang terjadi pada dirinya dan mampu belajar dengan mandiri. Agar bunda bisa melatih kecerdasan emosional si kecil, inilah beberapa tips-tips yang bisa dilakukan dirumah sebagai berikut:
5 cara melatih kecerdasan emosional si kecil tanpa harus ribet
1. Melatih anak memiliki sikap empati
Sikap empati adalah sikap yang peka terhadap perasaan orang lain. Sikap tersebut memiliki reaksi kepedulian pada orang lain dalam situasi tertentu dan memiliki sikap empati sangat penting bagi si kecil, soalnya sebagai modal anak dalam berinteraksi kepada orang lain.
2. Berikan contoh yang baik
Perilaku dari orang tua dan orang sekitar merupakan hal yang mudah paling ditiru bagi si kecil. Karena itu, jika anda mengelola emosi dengan baik, maka anak akan mengikutinya mengelola emosi tersebut dengan baik.
3. Membangun anak mengenai keterampilan emosi
Mengajari anak untuk memahami dan mengontrol emosinya saat menghadapi konflik. Jika kemarahan anak masih dalam batas wajar maka tegurlah dengan lemah lembut. Ajarkan anak belajar mengelola emosinya dengan mengungkapkan perasaanya.
4. Selalu berbicara mengenai perasaan
Biarkan anak mengungkapkan perasaannya, ini semacam melatih untuk bisa mengerti dan memahami dari kecerdasaan emosinya. Maka kenali perasaan si anak, agar dapat membantu belajar membentuk hubungan antar emosi, mindset dan perilakunya dengan stabil. Biarkan anak mengungkapkan perasaannya.
5. Melatih dengan mainan yang edukasi
Bermain merupakan keaktifan utama anak-anak yang memiliki banyak kegunaan bagi si kecil, melalui aktivitas bermain akan membuat anak hatinya senang. Bantu latih si perkembangan emosi si kecil dengan mainan edukasi dan sesuai dengan umurnya. Mainan edukasi pun dapat melatih kemampuan berfikir, imajinasi, mengelola emosi, dan lain-lain.
Michele Macias, MD, juru bicara American Academy of Pediatrics (AAP) mengatakan, "Di usia ini, anak-anak seharusnya berada di luar dan mengeksplorasi banyak hal, serta bersiap untuk tugas terpenting mereka selanjutnya, yakni sekolah".
Menurut Berk pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia. Proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak harus memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan anak. Anak usia dini memiliki karakteristik yang khas.
Karakteristik pada anak usia dini
Berikut ini adalah beberapa karakteristik anak usia dini menurut beberapa pendapat dikutip dari Khairi (2018).
1. Unik, yaitu sifat anak itu berbeda satu sama lainnya. Anak memiliki bawaan, minat kapabilitas, dan latar belakang kehidupan masing-masing.
2. Egosentris, yaitu anak lebih cendrung melihat dan memahami sesuatu dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Bagi anak sesuatu itu penting sepanjang hal tersebut terkait dengan dirinya.
3. Aktif dan energik, yaitu anak lazimnya senang melakukan aktivitas. Selama terjaga dalam tidur, anak seolah-olah tidak pernah lelah, tidak pernah bosan, dan tidak pernah berhenti dari aktivitas. Terlebih lagi kalau anak dihadapkan pada suatu kegiatan yang baru dan menantang.
4. Rasa ingin tahu yang kuat dan antusias terhadap banyak hal. Yaitu, anak cendrung memperhatikan , membicarakan, dan mempertanyakan berbagai hal yang sempat dilihat dan didengarnya, terutama terhadap hal-hal baru
5. Senang dan kaya dalam fantasi, yaitu anak senang dengan hal-hal yang imajinatif. Anak tidak hanya senang dengan cerita-cerita khayal yang disampaikan oleh orang lain, tetapi ia sendiri juga senang bercerita kepada orang lain.
Anak usia dini yaitu anak yang berada di fase pertumbuhan dan perkembangan yang paling cepat baik secara fisik ataupun mental. Makanan yang sehat dan seimbang serta stimulasi akal sangat diperlukan untuk membantu proses tersebut. Selain pertumbuhan dan perkembangan fisik dan motorik, perkembangan moral (termasuk kepribadian, budi pekerti, dan moral), sosial, emosional, intelektual, dan bahasa juga terjadi dengan sangat pesat.
Pada anak usia dini, belajar adalah bermain dengan demikian anak mempelajari dunianya melalui bermain termasuk dengan pengembangan sosial emosi. Pengembangan sosial emosi adalah tugas penting yang harus distimulasi oleh pendidik karena pada kenyataannya banyak orang dewasa cerdas yang tidak sukses karena mengalami permasalahan buntunya perkembangan sosial emosi.
Salah satu cara yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan perkembangan sosial emosi melalui bemain play dough. Play dough adalah adonan mainan yang terbuat dari tepung, material mencetak tradisional dibuat sendiri di sebagian besar program prasekolah. Lunak, bisa diremas, dan mudah dicetak menjadi banyak bentuk atau diratakan. Adonan mainan banyak dikenal dengan jenis lempung atau tanah liat.
Dengan kegiatan bermain play dough baik dalam membuat adonan maupun dengan membuat bentuk dengan play dough. Maka anak akan merasa senang, antusias, gembira; dapat berinteraksi sosial, bekerja sama dengan teman sebayanya; mampu bersabar; mampu menakar berapa banyak keperluan yang ia butuhkan; mampu berbagi; dan tertib dalam bermain.
Semuanya itu merupakan perkembangan sosial emosional yang diperlukan pada anak usia dini yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Dan tidak hanya satu aspek perkembangan saja yang dapat berkembang, tetapi aspek-aspek perkembangan lainnya pun ikut berkembang, yaitu aspek perkembangan kognitif, bahasa, dan fisik motorik.
Maka tunggu apa lagi? Ayo beli mainan play dough buat si kecil di rumah.
