Memahami Strategi Diversifikasi Negara Teluk dalam Jerat Ekonomi Rentier

International Relations Student of Sriwijaya University
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Sarah Al Humairoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika harga minyak sedang tinggi, negara-negara Teluk di Timur Tengah akan mengendurkan program diversifikasi ekonomi mereka. Begitu harga minyak anjlok, barulah ramai-ramai bicara soal perubahan ekonomi. Pola ini berulang sejak tahun 1970-an dan mengungkap sesuatu yang mendasar tentang strategi diversifikasi negara-negara Teluk, yakni mereka hanya serius mentransformasi ekonomi ketika dipaksa oleh krisis, bukan karena visi jangka panjang yang konsisten.
Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan negara-negara Teluk lainnya kini meluncurkan program diversifikasi paling ambisius dalam sejarah mereka. Saudi Vision 2030, UAE Economic Vision 2031, Qatar National Vision 2030, lengkap dengan mega proyek senilai ratusan miliar dolar seperti NEOM dan The Line.
Namun pertanyaan mendasar tetap menggantung, apakah ini transformasi ekonomi berkelanjutan atau sekadar upaya meyakinkan domestik dan dunia bahwa perubahan sedang terjadi? Jika melihat fakta lapangan, strategi diversifikasi negara-negara Teluk lebih merupakan upaya peningkatan citra semata daripada memperbaiki masalah yang struktural yang mendasar, sehingga strategi ini hanyalah sebuah ambisi
Untuk memahami mengapa diversifikasi negara-negara Teluk hanya sebatas ambisi, perlu diliat dari perspektif teori rentier-state. Menurut Mahdavy (1970), negara yang pendapatannya berasal dari sewa atas sumber daya alam seperti minyak, bukan dari pajak atas produktivitas warga cenderung tidak mengembangkan ekonomi produktif. Di negara lain, pemerintah memajaki aktivitas ekonomi warganya yang kemudian menciptakan insentif bagi warga untuk produktif dan menghasilkan ekonomi yang sehat. Di negara rentier, hubungan ini terbalik. Pemerintah membagikan kekayaan minyak kepada rakyat sebagai kontrak sosial politik tanpa menuntut produktivitas sebagai imbalannya.
Kontradiksi mendasar muncul ketika negara rentier mencoba melakukan diversifikasi. Diversifikasi membutuhkan rakyat yang memiliki keinginan bekerja keras, mengambil risiko, dan bersaing di sektor swasta yang kompetitif. Namun struktur rentier justru memberikan insentif sebaliknya, yakni kehidupan nyaman tanpa pajak, subsidi murah hati, pekerjaan pemerintah dengan gaji tinggi dan jam kerja minimal.
Mengapa lulusan universitas Teluk harus menjadi software developer dengan gaji $3.000 dolar per bulan dan kerja 12 jam sehari, ketika mereka bisa jadi pegawai negeri dengan gaji $5.000 dan kerja 4 jam? Logika ekonomi individualnya jelas, bahwa sektor publik jauh lebih menarik.
Akibatnya, program nasionalisasi tenaga kerja seperti Saudization dan Emiratization tidak efektif (BBK, 2011; TOI World Desk, 2025). Hingga hari ini, mayoritas pekerja sektor swasta adalah ekspatriat, sementara warga lokal terkonsentrasi di birokrasi yang tidak produktif. Selama insentif ekonomi tidak berubah, perilaku tidak akan berubah, dan diversifikasi akan tetap menjadi slogan belaka.
Di balik kontradiksi struktural ini terletak taktik penghindaran lain, yakni mega proyek seperti NEOM, The Line, dan kota-kota futuristik lainnya yang justru menghindari reformasi struktural yang benar-benar dibutuhkan. Proyek-proyek ini spektakuler, menarik liputan media internasional, dan menciptakan ilusi bahwa transformasi sedang berlangsung.
Namun mereka tidak mengatasi akar masalah, antara lain ketiadaan budaya inovasi organik, ketergantungan pada modal eksternal, dan ketidaksiapan tenaga kerja lokal. Lebih mudah membangun kota fiksi ilmiah senilai triliunan daripada mengubah mentalitas satu generasi dan juga lebih mudah membeli teknologi dari Barat daripada membangun ekosistem pendidikan yang menghasilkan inovasi sendiri.
Mengapa elit Teluk begitu tertarik pada mega proyek? Alasan paling jelas adalah karena mereka memberikan kemenangan politik jangka pendek. Gedung pencakar langit bisa diresmikan dengan upacara megah, menciptakan narasi kemajuan yang terlihat. Selain itu, mega proyek tidak memerlukan perubahan struktural sosial yang sensitif. Membangun NEOM tidak mengharuskan reformasi kontrak sosial rentier, pengurangan subsidi, atau memaksa warga bekerja lebih keras.
Lebih lanjut lagi, jika gagal, kesalahan bisa dilempar ke kontraktor asing atau kondisi pasar global. Mega proyek memungkinkan pemimpin tampak visioner tanpa menghadapi risiko politik dari reformasi struktural yang menyakitkan.
Pertanyaan mendasar tetap diabaikan, apakah ekonomi sehat dibangun dari proyek triliunan dolar yang dijalankan negara dari atas ke bawah, atau dari ribuan usaha kecil dan menengah yang tumbuh organik dengan dukungan ekosistem yang kondusif?
Bahkan jika negara Teluk berhasil melampaui mega proyek dan mengatasi isu struktural, hambatan yang lebih dalam tetap ada. Masalah ekonomi bukanlah masalah Teluk melainkan mentalitas yang menjadi masalah terbesar yang mana ini bukanlah hal yang bisa dibeli.
Teluk memiliki dana kekayaan negara triliunan dolar, bisa membeli teknologi terbaik, merekrut profesor top dari universitas elite dunia, membangun infrastruktur riset paling canggih, bahkan membeli klub sepak bola Eropa untuk meningkatkan citra global mereka.
Namun teknologi lokal belum kompetitif secara global dan pertumbuhan startup masih bergantung pada investor luar. Inovasi bukan produk yang bisa dibeli, melainkan hasil dari budaya, sistem nilai, dan lingkungan sosial spesifik yang butuh puluhan tahun untuk berkembang.
Kebebasan berpikir dan eksperimen tak kalah pentingnya. Inovasi sering datang dari ide yang awalnya dianggap kontroversial atau bahkan gila. Di Teluk, kontrol sosial dan politik tetap ketat meskipun ada reformasi superfisial. Sense of urgency menjadi pendorong terakhir yang krusial. Inovasi didorong oleh kebutuhan untuk bertahan dan bersaing. Di Teluk, kemakmuran minyak menghilangkan urgensi itu.
Tantangan-tantangan yang saling terkait ini mengungkapkan bahwa strategi diversifikasi Teluk lebih bersifat simbolis ketimbang substantif. Teori rentier-state menjelaskan mengapa struktur insentif ekonomi mereka bertentangan dengan tuntutan diversifikasi. Mega proyek menjadi cara untuk menghindari reformasi struktural yang sebenarnya diperlukan. Dan budaya inovasi tidak bisa dibeli dengan modal finansial semata.
Dalam 15 tahun ke depan, negara Teluk mungkin lebih modern dari segi infrastruktur fisik dan lebih terbuka secara sosial, namun akan tetap rapuh secara struktural karena tidak memiliki ekonomi produktif yang organik dan mandiri. Pada akhirnya negara-negara ini akan sukses di sektor yang bisa dibeli dengan modal seperti pariwisata dan logistik, tapi gagal di sektor yang memerlukan inovasi organik seperti teknologi dan manufaktur canggih.
Transformasi jangka panjang memerlukan lebih dari uang. Diperlukan keberanian untuk mengubah kontrak sosial antara penguasa dan rakyat, mendorong masyarakat keluar dari zona nyaman demi kemandirian ekonomi jangka panjang.
Pertanyaan tetap menggantung, apakah pemimpin Teluk memiliki keberanian politik untuk melakukan reformasi struktural sejati, atau mereka akan terus mempertahankan status quo hingga terlambat?
Seiring waktu akan membuktikan apakah strategi diversifikasi ini bisa diterapkan dengan maksimal dimana masalah struktural bisa diatasi, atau malah kembali memanfaatkan sumber pendapatan utama dari minyak ketika sedang terjadi kenaikan harga dan kelangkaan global. Berdasarkan pola perilaku negara-negara Teluk tersebut hingga saat ini, skeptisisme lebih berdasar ketimbang optimisme.
Oleh sebab itu, yang perlu dilakukan negara Teluk ialah memperkuat upaya strategi diversifikasinya dimana dengan mulai mengidentifikasi dan memperbaiki apa yang menjadi akar masalah sehingga isu struktural yang ada bisa teratasi yang pada akhirnya akan meningkatkan keberhasilan strategi diversifikasi itu sendiri.
