Konten dari Pengguna

Propaganda sebagai Senjata: Pendorong di Balik Meningkatnya Ketegangan AS–Iran

Sarah Al Humairoh

Sarah Al Humairoh

International Relations Student of Sriwijaya University

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarah Al Humairoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kredit foto: iStock
zoom-in-whitePerbesar
Kredit foto: iStock

Maret 2026 menandai momen krusial dalam politik global ketika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran terus memburuk. Suasana penuh ketidakpercayaan dan meningkatnya ketegangan menarik perhatian komunitas internasional, bukan hanya karena potensi konsekuensi militer, tetapi juga karena cara informasi dikelola dan disajikan. Di pusat dinamika ini terdapat praktik card stacking, sebuah teknik propaganda yang semakin terlihat jelas dalam narasi yang dipromosikan oleh kedua pemerintah.

Card stacking merujuk pada pemilihan fakta secara selektif, di mana informasi yang menguntungkan ditonjolkan sementara detail yang merugikan sengaja disembunyikan. Teknik ini bukanlah hal baru, tetapi penggunaannya dalam krisis saat ini telah mencapai tingkat yang menuntut perhatian lebih serius. Dengan mengendalikan fakta yang dipublikasikan, para pemimpin politik dapat membangun narasi yang sesuai dengan kepentingan strategis mereka, baik untuk membenarkan kebijakan, memperkuat legitimasi domestik, maupun memengaruhi opini internasional.

Memahami bagaimana card stacking bekerja dalam konteks ini sangat penting untuk menangkap kompleksitas konfrontasi AS–Iran. Praktik ini menunjukkan bagaimana propaganda mampu membentuk persepsi, membatasi ruang dialog, dan mendefinisikan ulang batas-batas perdebatan politik. Artikel ini mengulas peran card stacking dalam krisis yang sedang berlangsung, sekaligus memberikan wawasan tentang bagaimana narasi selektif tengah membentuk percakapan global di tahun 2026.

Membongkar Kegagalan Diplomasi di Jenewa

Ketegangan besar ini bermula ketika negosiasi nuklir di Jenewa dinyatakan gagal total pada awal Februari 2026 karena tidak tercapai kesepakatan yang adil bagi kedua pihak. Situasi semakin memburuk dengan retorika keras dan demonstrasi oposisi Iran di Jenewa, yang menambah tekanan politik. Keadaan terus memanas hingga Maret 2026, dengan meningkatnya kekhawatiran global mengenai potensi eskalasi militer dan gangguan terhadap jalur perdagangan energi dunia yang vital bagi banyak negara.

Peristiwa diplomatik ini diiringi oleh berbagai laporan di media massa, dengan masing-masing negara berusaha keras menunjukkan bahwa tindakan mereka adalah langkah yang benar. Amerika Serikat menekankan ancaman Iran terhadap keamanan global, dengan Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa “really bad things” akan terjadi jika Iran tidak menyetujui kesepakatan baru, sementara Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut keengganan Iran untuk membahas rudal balistik sebagai “masalah besar.” Sebaliknya, Iran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa telah terjadi “kemajuan yang baik” dalam pembicaraan, menekankan adanya kesepahaman atas prinsip-prinsip dasar, dan menggambarkan AS sebagai pihak yang keras kepala.

Strategi Manipulasi Informasi AS dan Iran yang Memperburuk Ketegangan Global

Pemerintah Amerika Serikat secara aktif memilih fakta tertentu untuk mendapatkan dukungan publik atas sikap kerasnya. Foto satelit yang menunjukkan keberadaan material nuklir berbahaya di Iran diklaim sebagai ancaman bagi keselamatan manusia. Retorika resmi yang menekankan ancaman rudal balistik juga disebarluaskan secara luas untuk membenarkan posisi AS. Namun, fakta mengenai ketidakpastian bukti dan potensi dampak negatif terhadap stabilitas regional sengaja tidak ditonjolkan. Dengan cara ini, publik diarahkan untuk percaya bahwa tekanan militer adalah satu-satunya cara menjaga keamanan dunia.

Di sisi lain, pemerintah Iran juga melakukan seleksi informasi serupa untuk membangkitkan sentimen nasionalis di kalangan rakyatnya. Media milik negara menyoroti penderitaan rakyat akibat sanksi ekonomi dan menekankan bahwa pengembangan nuklir adalah hak bangsa untuk tujuan damai. Pernyataan resmi yang menyebut adanya kemajuan dalam negosiasi digunakan untuk memperkuat citra bahwa Iran adalah pihak yang konstruktif. Namun, informasi mengenai tingginya biaya operasi militer di luar negeri dan masalah korupsi domestik sengaja diabaikan. Dengan cara ini, perhatian rakyat dialihkan dari masalah internal menuju kebencian terhadap musuh eksternal.

Pelajaran dari Card Stacking dalam Politik Global

Praktik card stacking oleh Amerika Serikat dan Iran telah membawa dampak besar terhadap kehidupan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional sepanjang tahun 2026. Di dalam negeri, warga terus-menerus disuguhi informasi yang hanya setengah benar. Penyajian fakta secara selektif ini melemahkan kemampuan mereka untuk menilai kebijakan pemerintah secara kritis. Alih-alih mendorong pemikiran rasional, propaganda justru menumbuhkan loyalitas buta. Hasilnya adalah patriotisme berlebihan yang dibangun di atas data yang terdistorsi, yang dengan mudah dieksploitasi oleh para pemimpin politik untuk mempertahankan kekuasaan. Masyarakat akhirnya terjebak dalam atmosfer ketakutan dan kebencian, diperkuat oleh siklus berita yang dimanipulasi sehingga tidak ada ruang bagi pertanyaan atau pendapat berbeda.

Di panggung internasional, konsekuensinya sama seriusnya. Card stacking merusak kepercayaan antarnegara dan melemahkan kredibilitas lembaga pengawas global yang seharusnya bertindak jujur dan adil. Ketika pemerintah hanya menyajikan data yang menguntungkan kepada publik, peluang untuk dialog terbuka dan kompromi tertutup rapat. Amerika Serikat, dengan menekankan ancaman keamanan di atas segalanya, menormalisasi kekerasan militer sebagai alat diplomasi yang sah. Framing ini membuat intervensi bersenjata tampak bukan sebagai langkah luar biasa, melainkan sebagai cara rutin mengatur hubungan internasional. Sementara itu, keputusan Iran untuk menutupi masalah domestik seperti korupsi dan kesalahan pengelolaan ekonomi menciptakan hambatan bagi kerja sama yang tulus dengan komunitas global. Dengan memproyeksikan citra persatuan dan ketahanan, Iran menutupi kelemahan internal, sehingga semakin sulit bagi pihak luar untuk terlibat secara konstruktif.

Pelajaran yang dapat diambil dari dinamika ini jelas. Selama informasi terus dikelola melalui praktik framing selektif, perdamaian akan tetap sulit dicapai. Card stacking mengajarkan bagaimana propaganda dapat mendistorsi realitas, bukan hanya dengan menyembunyikan kebenaran yang tidak menyenangkan, tetapi juga dengan membangun narasi yang mempertahankan konflik. Praktik ini menunjukkan rapuhnya wacana demokratis ketika fakta dimanipulasi, sekaligus menyoroti bahaya membiarkan pemerintah memonopoli arus informasi. Bagi dunia di tahun 2026, tantangannya bukan hanya menyelesaikan krisis langsung antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga menghadapi persoalan yang lebih dalam tentang bagaimana propaganda merusak kepercayaan, membungkam dialog, dan menghalangi jalan menuju perdamaian.