Sentimen Nasionalisme Budaya di ASEAN: Pendorong atau Penghambat Integrasi?

International Relations Student of Sriwijaya University
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sarah Al Humairoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah dinamika geopolitik kawasan Asia Tenggara, warisan budaya telah menjadi medan pertarungan identitas yang menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi solidaritas regional ASEAN. Sebagai manifestasi identitas nasional yang melekat pada jati diri kolektif suatu bangsa, klaim atas warisan budaya kerap memicu ketegangan diplomatik ketika bersinggungan dengan sentimen nasionalisme. Kasus perselisihan Kamboja-Thailand mengenai Candi Phra Viharn menjadi bukti nyata bagaimana warisan budaya dapat mentransformasi konflik sederhana menjadi isu kedaulatan yang multidimensi.
Namun di balik potensi destruktifnya, nasionalisme juga menyimpan kekuatan konstruktif yang dapat memperkuat integrasi budaya ASEAN melalui penghargaan terhadap keberagaman dan diplomasi berbasis pertukaran budaya. Artikel ini mengupas kompleksitas peran nasionalisme dalam dinamika kerjasama budaya ASEAN, menawarkan perspektif bagaimana sentimen tersebut dapat dikelola dan diarahkan untuk memperkuat identitas kolektif kawasan tanpa mengorbankan keunikan budaya masing-masing negara anggota.
Berdasarkan kasus-kasus konflik terkait warisan budaya yang pernah terjadi di kawasan ASEAN, dapat dikatakan sentimen nasionalisme berpengaruh besar dalam memperburuk konflik. Alasannya, seperti yang diketahui bahwasannya warisan budaya sendiri merupakan identitas suatu bangsa yang merepresentasikan bangsa tersebut yang mana memberikan makna bagi individu dan kelompok dalam memahami dunia serta posisi mereka di dalamnya (Febrian et al., 2025). Kehadiran budaya ini juga membedakannya dari bangsa-bangsa lain yang mana inilah poin dari suatu identitas itu sendiri. Jika identitas tersebut diklaim pihak lain, tentu saja hal ini menjadi isu sensitif karena identitas sendiri sudah merupakan suatu kepemilikan yang mencerminkan ciri khas bangsanya.
Warisan budaya menjadi identitas bangsa yang mana akan membangun kebanggaan sendiri bagi suatu bangsa. Sebagaimana yang terjadi di Indonesia yang terdiri dari berbagai provinsi dengan identitas budayanya masing-masing yang kemudian adanya perbedaan tersebut menjadikan bangsa dari budaya yang berbeda bersatu untuk merepresentasikan Indonesia sebagai bangsa yang memiliki banyak budaya. Bentuk kebanggaan tersebut kemudian menciptakan rasa "nasionalisme" dimana suatu bangsa akan mencintai dan melestarikan identitasnya.
Kemudian bagaimana jika warisan budaya yang merupakan identitas bangsa ini diklaim pihak lain? sudah pasti akan memunculkan perasaan seperti kehilangan identitas diri. Perasaan inilah yang kemudian memicu konflik ketika suatu bangsa memperjuangkan identitasnya yang berupa warisan budaya seperti pada konflik perselisihan Kamboja-Thailand akan klaim Candi Phra Viharn tersebut dimana kedua pihak memiliki pandangan berbeda terkait warisan budaya yang diklaim.
Candi Preah Vihear terletak di gunung Dangrek, Provinsi Preah Vihear bagian utara Kamboja dan provinsi Sisaket di barat daya Thailand yang menimbulkan ketidakjelasan batas wilayah kedua negara tersebut. Candi Preah Vihear dinobatkan sebagai warisan dunia pada 2007, kemudian memicu terjadinya sengketa wilayah atas klaim candi tersebut (Djelantik, 2015). Isu klaim ini kemudian bergeser menjadi isu politik lebih serius yang mengancam kedaulatan nasional dengan didukung adanya tindakan demonstrasi nasionalis. Dengan demikian, sentimen nasionalisme bisa berpengaruh yang mana memperburuk konflik sehingga menciptakan isu meluas sampai ke ranah politik dan kedaulatan karena alasan-alasan yang sudah dijelaskan tadi.
Apakah nasionalisme selalu menjadi hambatan bagi kerjasama budaya di ASEAN? tidak selamanya begitu. Akan ada peran dari rasa nasionalisme dari dua arah baik penghambat maupun pendorong dari kerjasama budaya di ASEAN itu sendiri tergantung bagimana sentimen nasionalisme ini "diekspresikan." Jika dilihat dari kasus-kasus yang sudah terjadi, memang benar adanya saat dimana nasionalisme ini menjadi penghambat. Dimana dampak konflik ini berperngaruh dalam kerjasama budaya seperti penolakan akan pengakuan kedaulatan dan perkembangan budaya, sebagaimana yang dilakukan oleh Thailand terhadap Kamboja. Kemudian hal ini juga berpengaruh pada kebijakan pertukaran budaya yang mana seperti yang diketahui bisa menjadi wadah diplomasi hubungan antarnegara.
Dengan adanya kasus terkait nasionalisme tersebut, bisa memunculkan perasaan ketakutan akan pencemaran budaya nasionalnya oleh pengaruh asing sehingga pertukaran budaya dibatasi dengan alasan melindungi budaya lokal. Pada ASEAN sendiri, nasionalisme mempengaruhi kerjasama budaya yang merupakan visi regional, dimana kemudian perasaan tersebut akan lebih menciptakan persaingan daripada kolaborasi budaya.
Melihat hal-hal tersebut memang membuktikan bahwa nasionalisme menjadi penghambat. Namun, peran nasionalisme sebagai pendorong juga tidak bisa dipungkiri dan diabaikan. Adanya nasionalisme juga berperan dalam mendorong kerjasama budaya di kawasan ASEAN, seperti memperkuat kerjasama budaya itu sendiri dengan saling menghargai bentuk identitas antarbangsa di kawasan ASEAN. Nasionalisme juga menjadi penguatan kerjasama budaya melalui pertukaran budaya dimana budaya masing-masing negara saling diperkenalkan. Dalam kerangka ASEAN pun, pertukaran budaya ini menjadi wadah diplomasi budaya yang mana merupakan soft power. Selain itu, masing-masing negara juga dapat mendukung kolaborasi budaya sehingga dapat menciptakan image ASEAN yang mendukung kelestarian budaya dan identitas ASEAN keberagaman.
Oleh karena adanya dua arah pengaruh dari sentimen nasionalisme ini membuktikan bahwasannya tidak selalu menjadi penghambat. Hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana negara maupun bangsanya mengubah sentimen nasionalisme menjadi pendorong kerjasama budaya di ASEAN, misalnya dengan memandang sentimen tersebut sebagai interaksi budaya bukan ancaman yang harus dibatasi budayanya untuk pihak asing, ataupun dengan memperkuat integrasi ASEAN dimana perannya dalam memfasilitasi kerjasama budaya di kawasan ASEAN. Sumber Referensi:
Djelantik, S. (2015). Asia-Pasifik: Konflik, Kerja Sama, dan Relasi dan Antarkawasan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Febrian, R., Islam, M. F., & Yudistira, P. (2025). Peran Budaya dalam Pembentukan Identitas Manusia. RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Pendidikan, 3(2), 25–35. https://doi.org/10.62383/risoma.v3i2.623
UNESCO. (2020, July 6). Cambodia celebrates 12 years of Preah Vihear Temple as a UNESCO World Heritage Site. UNESCO. https://whc.unesco.org/en/news/2162
