Pupuk Lebih Hemat Melalui "Mikroba Sobat Petani" IPB University

Mahasiswa IPB University yang kesehariannya seputar teknologi pangan, buku, film, dan hal baru.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sarah Nur Intan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah tantangan melambungnya harga pupuk kimia serta penurunan tingkat kesuburan tanah, secercah harapan baru hadir bagi para petani di Desa Ciberes. Lewat program bertajuk "Mikroba Sobat Petani", mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University mengenalkan pemanfaatan Plant-Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) sebagai solusi hayati yang ramah lingkungan dan hemat biaya.
Program “Mikroba Sobat Petani” memadukan sosialisasi umum dan diskusi lanjutan kelompok tani. Program ini dirancang secara interaktif melalui rangkaian sosialisasi, diskusi, hingga praktik langsung pembuatan media perbanyakan PGPR yang sederhana dan terjangkau.
Riuh Pengenalan di Aula Desa
Program diawali dengan sosialisasi umum di Aula Kantor Desa Ciberes pada Rabu (15/7/2026) yang dihadiri oleh 33 peserta. Kegiatan ini dimulai dengan pengenalan PGPR beserta manfaatnya. PGPR merupakan kelompok bakteri menguntungkan yang hidup di area perakaran tanaman. Bakteri ini bekerja layaknya "benteng pertahanan" alami yang mampu memicu pertumbuhan akar, melarutkan unsur hara terikat di dalam tanah, sekaligus menekan perkembangan organisme penyebab penyakit tanaman. Secara tidak langsung, bakteri PGPR dapat menghemat penggunaan pupuk dan mendukung kesuburan tanaman. Bakteri ini dapat diperbanyak melalui peracikan media fermentasi yang juga disampaikan dalam pemaparan.
"Kami ingin mengubah persepsi bahwa mikroba selalu identik dengan penyakit. Ada populasi bakteri baik di dalam tanah yang justru bertindak sebagai benteng pertahanan alami dan pembuka pintu nutrisi bagi akar tanaman," terang Risma Aulia, mahasiswa pelaksana program “Mikroba Sobat Petani”.
Media Perbanyakan yang Praktis dan Ekonomis
Antusiasme warga terpancar saat sesi praktik sederhana digelar di aula desa. Tanpa menggunakan peralatan laboratorium yang rumit, mahasiswa memperagakan cara memperbanyak bakteri menguntungkan tersebut melalui fermentasi yang menggunakan bahan baku lokal, seperti dedak, gula merah, dan terasi yang dilengkapi dengan starter alami dari rendaman akar bambu.
Tahapan pembuatannya diawali dengan merendam akar bambu selama 24 jam untuk mengekstrak starter alami. Ekstrak tersebut kemudian dicampurkan ke dalam rebusan dedak, gula merah, dan terasi yang telah didinginkan, lalu difermentasi dalam wadah tertutup selama 7–14 hari. Tiap hari, penutup wadah tersebut perlu dibuka untuk membuang gas hasil fermentasi.
Proses perbanyakan yang praktis dan ekonomis ini menjadi daya tarik utama bagi kelompok tani setempat. Dengan memanfaatkan bahan yang ditemui di rumah, biaya operasional pembelian pupuk dan bahan untuk menangani degradasi tanah dapat ditekan tanpa mengorbankan kualitas hasil panen.
Rukamal, Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Ciberes, menyampaikan apresiasinya atas pendekatan praktis yang dibawakan para mahasiswa. "Awalnya kami mengira istilah bioteknologi ini rumit. Ternyata setelah dipraktikkan, bahannya ada di sekitar dapur dan cara buatnya sangat masuk akal. Ini memberi alternatif nyata saat pupuk sulit didapat," tuturnya.
Diskusi Mendalam di Tiga Kelompok Tani
Guna memastikan transfer teknologi berjalan efektif, mahasiswa melanjutkan agenda melalui sesi diskusi lanjutan kelompok tani didampingi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Desa Ciberes. Tiap sesi menyasar kelompok tani yang berbeda secara bergantian, yakni Kelompok Tani Mekar Mukti I pada Sabtu (18/7/2026), Cikal Jaya pada Rabu (22/7/2026), dan Sumber Rejeki pada Jumat (24/7/2026). Pendekatan kelompok kecil ini menciptakan ruang dialog yang jauh lebih cair. Petani menyampaikan kendala nyata perihal kerusakan struktur tanah, sementara mahasiswa menawarkan solusi teknis yang rasional.
Setelah rangkaian pemaparan dan penunjukan contoh media PGPR, petani menyadari bahwa PGPR adalah solusi praktis yang layak dicoba di lahan mereka. PGPR dapat mendukung penyerapan unsur hara yang lebih optimal sehingga penggunaan pupuk dapat lebih efisien. Selain itu, kehadiran bakteri baik di area perakaran berpotensi mendukung peningkatan kualitas tanah yang sudah terdegradasi dan terlalu asam. Pertanyaan terkait pengaplikasian pun bermunculan dan menjadi penyulut diskusi yang lebih hidup. Takaran yang tidak mengikat dan periode pengaplikasian yang dapat dilakukan berdampingan dengan periode pemupukan sangat menarik hati petani.
"Diskusi kelompok kecil seperti ini jauh lebih mengena karena kami bisa langsung bertanya sesuai kendala di lahan masing-masing. Ada contoh media PGPR yang berhasil dan flyer juga sehingga bisa menjadi acuan saat mencoba di rumah," ungkap Agus, salah satu anggota Kelompok Tani Mekar Mukti I.
Menjamin Keberlanjutan di Akar Rumput
Melalui akumulasi empat kali pertemuan tersebut, program “Mikroba Sobat Petani” berhasil mengedukasi sekitar 97 peserta secara intensif. Model pendampingan bertahap dari skala umum hingga kelompok kecil ini diharapkan mampu memastikan teknologi PGPR benar-benar diadopsi secara mandiri sekaligus menjadi pijakan bagi Desa Ciberes menuju sistem pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan.
