Sampah Dapur Diurai Lewat Inovasi "Si Maggo" Mahasiswa IPB

Mahasiswa IPB University yang kesehariannya seputar teknologi pangan, buku, film, dan hal baru.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sarah Nur Intan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masalah pengelolaan sampah rumah tangga yang belum terolah secara optimal dan kerap berakhir dengan pembakaran masih menjadi persoalan lingkungan di tingkat desa. Menanggapi tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University menginisiasi program penanganan sampah bernilai ekonomis bernama "Si Maggo" (Siap Budi Daya Maggot) di Desa Ciberes, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (25/7/2026) sore di Musala Raudhotul Jannah ini memadukan sosialisasi, dialog dua arah, hingga praktik langsung pengolahan sampah organik menggunakan larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) atau maggot.
Berawal dari Pemilahan di Dapur
Rangkaian edukasi diawali dengan mengajak warga memetakan kembali jenis sampah harian ke dalam empat kategori utama, yaitu organik, anorganik, residu, serta Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Sampah dapur seperti sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan diposisikan sebagai fokus sasaran utama program.
Pemilahan sejak di dapur menjadi kunci penanganan sampah dari sumbernya. Dengan memisahkan sisa makanan dari material buangan lainnya, sampah organik tidak lagi menjadi penyebab bau tak sedap di tempat pembuangan akhir, melainkan pakan bernutrisi tinggi bagi larva BSF.
Siklus Nilai Tambah Sampah Organik
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan kemampuan maggot sebagai agen pengurai alami yang efisien. Proses penguraian ini menghasilkan dua produk turunan bernilai guna, yaitu larva maggot tinggi protein untuk pakan hewan ternak, serta sisa media budi daya (kasgot) yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik tanaman. Kedua hal itu dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi ataupun dijual. Selain itu, telur dan larva maggot juga bernilai ekonomis karena dapat dijual menjadi indukan untuk budi daya.
"Kami ingin menghadirkan sistem pengolahan sampah yang terjangkau, tidak berbau, dan memberikan dampak langsung. Sampah organik tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sumber daya yang bernilai," ujar Aulia Kurnia Ayu, salah satu Koordinator Program "Si Maggo."
Ruang Dialog dan Praktik Langsung
Suasana kegiatan berlangsung interaktif saat sesi sosialisasi berkembang menjadi diskusi dua arah. Warga yang telah memiliki pengalaman dalam budi daya maggot turut membagikan ceritanya. Pertemuan antara materi akademis mahasiswa dan pengalaman praktis warga ini menciptakan ruang pertukaran informasi yang relevan dengan kondisi harian masyarakat.
Setelah berdiskusi, warga diajak menyaksikan peragaan langsung menggunakan instalasi budi daya maggot buatan mahasiswa. Didesain ringkas dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang terjangkau, instalasi tersebut memudahkan warga mempraktikkan cara pemberian pakan dan perawatan maggot serta dapat direplikasi secara mandiri di pekarangan rumah.
Keberlanjutan dan Dukungan Adiwiyata
Sebagai langkah menjaga keberlanjutan program, tim KKNT Inovasi IPB University menghibahkan dua instalasi kandang maggot tersebut kepada SMP Negeri 1 Patokbeusi. Penyerahan instalasi ini ditujukan untuk mendukung edukasi lingkungan hidup bagi para siswa sekaligus menyokong program Adiwiyata yang tengah dijalankan sekolah.
Melalui edukasi berkelanjutan dari skala rumah tangga hingga lingkungan sekolah, program "Si Maggo" diharapkan tidak terhenti seiring usainya masa KKN. Langkah kecil ini menjadi awal untuk mendorong kemandirian pengolahan sampah organik di Desa Ciberes dan wilayah sekitarnya di Kabupaten Subang.
