Konten dari Pengguna

Sampah Dapur Diurai Lewat Inovasi "Si Maggo" Mahasiswa IPB

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarah Nur Intan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Maggot dan Black Soldier Fly hasil budi daya Tim KKNT Desa Ciberes 2026 (Dokumentasi KKNT IPB University)
zoom-in-whitePerbesar
Maggot dan Black Soldier Fly hasil budi daya Tim KKNT Desa Ciberes 2026 (Dokumentasi KKNT IPB University)

Masalah pengelolaan sampah rumah tangga yang belum terolah secara optimal dan kerap berakhir dengan pembakaran masih menjadi persoalan lingkungan di tingkat desa. Menanggapi tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University menginisiasi program penanganan sampah bernilai ekonomis bernama "Si Maggo" (Siap Budi Daya Maggot) di Desa Ciberes, Kecamatan Patokbeusi, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (25/7/2026) sore di Musala Raudhotul Jannah ini memadukan sosialisasi, dialog dua arah, hingga praktik langsung pengolahan sampah organik menggunakan larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) atau maggot.

Berawal dari Pemilahan di Dapur

Sosialisasi pemilahan sampah dan budi daya maggot melalui program "Si Maggo" pada Sabtu (25/7/2026) sore di Desa Ciberes (Dokumentasi KKNT IPB University)

Rangkaian edukasi diawali dengan mengajak warga memetakan kembali jenis sampah harian ke dalam empat kategori utama, yaitu organik, anorganik, residu, serta Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Sampah dapur seperti sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan diposisikan sebagai fokus sasaran utama program.

Pemilahan sejak di dapur menjadi kunci penanganan sampah dari sumbernya. Dengan memisahkan sisa makanan dari material buangan lainnya, sampah organik tidak lagi menjadi penyebab bau tak sedap di tempat pembuangan akhir, melainkan pakan bernutrisi tinggi bagi larva BSF.

Siklus Nilai Tambah Sampah Organik

Diskusi warga dengan Tim KKNT Desa Ciberes (Dokumentasi KKNT IPB University)

Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan kemampuan maggot sebagai agen pengurai alami yang efisien. Proses penguraian ini menghasilkan dua produk turunan bernilai guna, yaitu larva maggot tinggi protein untuk pakan hewan ternak, serta sisa media budi daya (kasgot) yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik tanaman. Kedua hal itu dapat dimanfaatkan untuk keperluan pribadi ataupun dijual. Selain itu, telur dan larva maggot juga bernilai ekonomis karena dapat dijual menjadi indukan untuk budi daya.

"Kami ingin menghadirkan sistem pengolahan sampah yang terjangkau, tidak berbau, dan memberikan dampak langsung. Sampah organik tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sumber daya yang bernilai," ujar Aulia Kurnia Ayu, salah satu Koordinator Program "Si Maggo."

Ruang Dialog dan Praktik Langsung

Demonstrasi penggunaan instalasi kandang maggot (Dokumentasi KKNT IPB University)

Suasana kegiatan berlangsung interaktif saat sesi sosialisasi berkembang menjadi diskusi dua arah. Warga yang telah memiliki pengalaman dalam budi daya maggot turut membagikan ceritanya. Pertemuan antara materi akademis mahasiswa dan pengalaman praktis warga ini menciptakan ruang pertukaran informasi yang relevan dengan kondisi harian masyarakat.

Setelah berdiskusi, warga diajak menyaksikan peragaan langsung menggunakan instalasi budi daya maggot buatan mahasiswa. Didesain ringkas dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang terjangkau, instalasi tersebut memudahkan warga mempraktikkan cara pemberian pakan dan perawatan maggot serta dapat direplikasi secara mandiri di pekarangan rumah.

Keberlanjutan dan Dukungan Adiwiyata

Serah-terima instalasi kandang maggot ke SMPN 1 Patokbeusi demi keberlanjutan program (Dokumentasi KKNT IPB University)

Sebagai langkah menjaga keberlanjutan program, tim KKNT Inovasi IPB University menghibahkan dua instalasi kandang maggot tersebut kepada SMP Negeri 1 Patokbeusi. Penyerahan instalasi ini ditujukan untuk mendukung edukasi lingkungan hidup bagi para siswa sekaligus menyokong program Adiwiyata yang tengah dijalankan sekolah.

Melalui edukasi berkelanjutan dari skala rumah tangga hingga lingkungan sekolah, program "Si Maggo" diharapkan tidak terhenti seiring usainya masa KKN. Langkah kecil ini menjadi awal untuk mendorong kemandirian pengolahan sampah organik di Desa Ciberes dan wilayah sekitarnya di Kabupaten Subang.