5 Mitos soal Perkembangan Anak yang Ternyata Keliru

Setiap anak memang memiliki kecepatan tumbuh kembang yang berbeda. Namun, bukan berarti setiap keterlambatan perkembangan bisa selalu ditunggu sampai anak mengejar dengan sendirinya.
Ada beberapa anggapan soal perkembangan anak yang masih sering dipercaya orang tua. Ya, Moms, padahal beberapa di antaranya justru perlu diluruskan agar orang tua bisa memberikan stimulasi dan dukungan yang sesuai.
5 Mitos Anak yang Sering Dipercaya Orang
1. Nanti juga bisa bicara sendiri
Kemampuan bicara setiap anak memang bisa berkembang dengan kecepatan yang berbeda. Namun, jika kemampuan bicara anak sudah melewati milestone yang seharusnya, sebaiknya tidak hanya menunggu.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), dukungan dan pemeriksaan lebih awal dapat membantu mengetahui penyebab keterlambatan sekaligus memberikan intervensi yang dibutuhkan anak.
2. Main HP bisa bikin anak belajar bicara
Gadget tidak bisa menggantikan interaksi langsung dengan orang tua. Dikutip dari AAP, Anak justru banyak belajar bahasa melalui percakapan, bermain, membaca buku, dan berinteraksi dengan orang di sekitarnya.
Batas screen time anak menurut panduan WHO:
Kurang dari dua tahun: hindari screen time
2-5 tahun: maksimal 1 jam per hari
Jadi, daripada membiarkan anak belajar bicara lewat layar, Anda bisa mengajaknya ngobrol dan merespons setiap suara atau kata yang ia keluarkan.
3. Picky eater nanti juga sembuh sendiri
Dokter Spesialis Anak, dr. Lucky Yogasatri, Sp.A, menjelaskan bahwa anak membutuhkan waktu untuk menerima rasa dan tekstur baru.
“Anak perlu sekitar 15–17 kali paparan sebelum akhirnya mau menerima makanan tertentu, jadi orang tua perlu sabar untuk mencoba kembali pada anak,” kata dr Lucky beberapa waktu lalu.
Artinya, orang tua perlu tetap konsisten mengenalkan beragam makanan tanpa langsung menyerah ketika anak menolaknya.
4. Anak tantrum tandanya nakal
Psikolog Pendidikan Rumah Dandelion, Orissa Anggita Rinjani, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa tantrum bisa terjadi sejak anak berusia sekitar 15 bulan.
“Pada usia tersebut, anak masih belajar mengenali dan mengelola emosinya. Namun, kemampuan untuk mengungkapkan apa yang dirasakan melalui kata-kata masih terbatas. Akibatnya, emosi bisa muncul dalam bentuk tantrum,” jelas Orissa beberapa waktu lalu.
5. Gestur buat anak malas bicara
Justru sebaliknya, Moms. Menurut AAP, penggunaan bahasa isyarat atau gestur saat berkomunikasi dengan anak yang belum lancar bicara dapat membantu mendukung perkembangan bahasanya.
Gestur juga bisa menjadi jembatan bagi anak untuk memahami makna sebelum akhirnya mampu mengungkapkannya melalui bahasa lisan.
