Anak Dihukum Jualan di Depan Rumah, Psikolog Jelaskan Cara Mendisiplinkan Anak

Seorang ibu di Threads membagikan cerita saat memberikan konsekuensi kepada anaknya yang menghabiskan uang bekal Rp100 ribu untuk membeli mainan saat outbound sekolah. Keesokan harinya, sang anak kembali membuatnya kesal karena marah-marah dan menolak les.
Saat dinasihati, anak itu menjawab, “Kalau habis uang kan bisa minta Ayah Ibu.” Sang ibu pun meminta anaknya berjualan di depan rumah agar belajar bahwa mencari uang membutuhkan usaha. Namun, alih-alih jera, anak tersebut justru terlihat senang.
Lantas, apakah memberikan konsekuensi seperti ini efektif untuk mengajarkan anak bertanggung jawab? Psikolog Madeline Jessica, M.Psi., Psikolog, menjelaskan hal yang perlu diperhatikan orang tua saat mendisiplinkan anak.
Psikolog: Tujuan Disiplin Bukan Sekadar Membuat Anak Jera
Psikolog Madeline Jessica, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa orang tua boleh memberikan konsekuensi ketika anak melakukan kesalahan. Namun, hal terpenting adalah memastikan konsekuensi tersebut membantu anak memahami tindakannya, bukan sekadar membuatnya takut mengulangi kesalahan.
“Keberhasilan disiplin bukan diukur dari seberapa cepat anak merasa jera, melainkan dari kemampuannya memahami, memperbaiki, dan bertanggung jawab atas keputusannya,” jelas Madeline pada kumparanMOM, Kamis (22/10).
Dalam kasus tersebut, meminta anak berjualan memang berpotensi menjadi kesempatan untuk mengenalkan konsep uang dan usaha. Anak bisa belajar bahwa mendapatkan uang membutuhkan proses dan tidak semua keinginan dapat langsung dipenuhi.
Namun, nilai pendidikan dari konsekuensi tersebut bergantung pada tujuan dan cara orang tua menerapkannya.
"Jika tujuan utamanya hanya membuat anak jera, anak bisa saja lebih berfokus pada rasa malu atau ketidaknyamanan yang dialaminya daripada memahami alasan di balik konsekuensi tersebut," jelas Madeline.
Karena itu, orang tua perlu memastikan bahwa konsekuensi yang diberikan tetap berkaitan dengan perilaku anak dan membantunya memahami tanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Bagaimana agar Anak Bisa Belajar dari Kesalahannya?
Agar disiplin tidak berhenti pada hukuman, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua.
1. Dengarkan alasan anak
Sebelum memberikan konsekuensi, orang tua perlu mencari tahu alasan di balik perilaku anak. Misalnya, ketika anak menolak les, coba cari tahu apakah ia sedang lelah, merasa kesulitan, atau memiliki alasan lain.
Dengan memahami penyebabnya, orang tua bisa menentukan respons yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak.
2. Buat kesepakatan yang jelas
Orang tua bisa mengajak anak membicarakan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, menetapkan batas uang yang boleh digunakan, serta belajar menyisihkan uang untuk ditabung.
Kesepakatan ini membantu anak memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi dan bahwa uang perlu digunakan dengan pertimbangan.
3. Beri kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
Anak perlu dilibatkan dalam proses memperbaiki kesalahannya. Jika ia menghabiskan uang untuk membeli mainan, misalnya, orang tua bisa mengajaknya mengevaluasi keputusan tersebut dan menyusun rencana agar lebih bijak menggunakan uang berikutnya.
Amati perubahan perilakunya secara bertahap. Tujuannya bukan menuntut anak langsung berubah, melainkan membantunya memahami kesalahan dan belajar mengambil keputusan yang lebih baik.
"Pada akhirnya, mendisiplinkan anak bukan hanya tentang membuatnya berhenti melakukan sesuatu yang dianggap salah. Lebih dari itu, orang tua perlu membantu anak memahami alasan di balik aturan, belajar dari konsekuensi, dan bertanggung jawab atas pilihannya," tutup Madeline.
