Kumparan Logo

Anak Sering Pipis Setelah Dibentak, Ecen Baru Sadar Putrinya Takut Dimarahi

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Gwen, anak dari Cresencia, yang mengalami ketakutan saat menjalani toilet training. Foto: Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Gwen, anak dari Cresencia, yang mengalami ketakutan saat menjalani toilet training. Foto: Dok. Pribadi

Ecen tak pernah menyangka bentakan yang terlontar sesaat bisa membekas begitu dalam pada anaknya, Gwen. Kejadian yang awalnya terasa sepele itu ternyata berkaitan dengan perubahan kebiasaan Gwen saat buang air kecil.

Awalnya, Ecen menyadari Gwen mulai sering bolak-balik ke toilet. Dalam satu jam, Gwen bisa pipis hingga empat kali. Kekhawatiran Ecen semakin besar ketika wali kelas Gwen juga menyampaikan bahwa putrinya bisa pergi ke toilet dua sampai tiga kali dalam waktu 45 menit.

Sebagai ibu, Ecen sempat menduga Gwen mengalami infeksi saluran kemih (ISK). Apalagi, Gwen pernah mengalami kondisi tersebut saat berusia dua tahun.

Ecen pun membawa Gwen ke dokter anak untuk menjalani pemeriksaan urine. Namun, hasilnya negatif. Setelah itu, Ecen dan suaminya memutuskan untuk membawa Gwen berkonsultasi dengan psikolog anak.

Dari situ, Ecen mulai menyadari bahwa ada pengalaman yang mungkin masih membekas pada Gwen. Ia pun merasa bersalah karena baru memahami bahwa perubahan kebiasaan putrinya berkaitan dengan respons yang pernah ia berikan.

Bentakan yang Membuat Gwen Jadi Pipis Terus

Ilustrasi ibu marah pada anak. Foto: Shutter Stock

Ecen bercerita, kejadian itu bermula saat ia dan suami hendak pulang dari mal. Sebelum berangkat, mereka sempat bertanya kepada Gwen apakah ia ingin pipis. Saat itu, Gwen menjawab tidak.

Namun, ketika perjalanan terhambat kemacetan, Gwen justru mengatakan ingin pipis. Ecen dan suaminya yang merasa sudah menanyakan hal itu sebelumnya langsung marah.

“Kan tadi udah dibilang mau pipis apa enggak?!”

Bagi Ecen dan suaminya, saat itu mungkin hanya momen kesal dalam perjalanan. Namun, belakangan ia menyadari bahwa Gwen bisa saja menangkap kejadian tersebut dengan cara berbeda.

Dalam pemikiran Gwen, lebih baik ia pipis saat baru tiba di mal atau tempat les. Dengan begitu, ia tidak perlu meminta ke toilet ketika sedang di perjalanan dan berisiko membuat orang tuanya marah.

Ecen kemudian menyadari bahwa pengalaman tersebut mungkin membuat Gwen terus merasa perlu pipis lebih awal. Ia pun berusaha memperbaiki keadaan dengan meminta maaf kepada putrinya.

Ecen meyakinkan Gwen bahwa ia tidak akan memaksanya untuk pipis ketika belum ingin. Ia juga mengatakan bahwa jika Gwen tiba-tiba ingin pipis di tengah perjalanan, mereka akan mencari toilet terdekat.

Ecen Meminta Maaf, Gwen Mulai Lebih Terbuka

Setelah berkonsultasi dengan psikolog anak, Ecen dan suaminya berupaya membantu Gwen bersama pihak sekolah. Mereka mencari cara agar Gwen kembali nyaman mengenali kapan ia perlu pergi ke toilet.

Perlahan, kebiasaan Gwen yang terus-menerus ingin pipis mulai berkurang. Ia kembali bisa mengatur kapan ingin buang air kecil dan kapan belum perlu ke toilet.

Perubahan itu tak hanya terlihat dari kebiasaan pipisnya. Menurut Ecen, Gwen juga menjadi lebih terbuka dan lebih senang berbagi cerita. Ketika ada sesuatu yang dirasakan atau mengganjal, Gwen mulai bisa menyampaikannya kepada Ecen maupun suaminya.

Dari pengalaman tersebut, Ecen belajar bahwa sesuatu yang terlihat sederhana bagi orang dewasa belum tentu terasa sama bagi anak.

“Jangan suka bentak-bentak anak. Apa pun itu kamu harus tahu dari dua sisi. Sebagai orang dewasa, kita mungkin melihat itu hal yang sepele, kan tinggal pipis doang, apa sih susahnya mau pipis? Mungkin itu adalah hal yang sepele buat kita. Tapi anak itu belajar dari nol,” ujar Ecen.