Kumparan Logo

Ayah Tewas karena Diduga Maling Ayam, Psikolog Ungkap Dampaknya pada Anak

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sepeda motor milik terduga pelaku pencurian ayam yang tewas dikeroyok massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Jumat (24/7/2026). Foto: Polres Tabanan
zoom-in-whitePerbesar
Sepeda motor milik terduga pelaku pencurian ayam yang tewas dikeroyok massa di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Jumat (24/7/2026). Foto: Polres Tabanan

Tangisan seorang anak perempuan yang berulang kali memanggil, "Bapak... Bapak..." saat prosesi pemakaman ayahnya menyentuh hati banyak orang. Video tersebut viral setelah seorang pria berinisial IKD meninggal dunia usai diduga dikeroyok massa karena dituduh mencuri ayam aduan di Tabanan, Bali.

Bagi banyak orang, video itu memperlihatkan kesedihan seorang anak yang kehilangan ayahnya. Ya Moms, di balik tangisan tersebut, juga terdapat pengalaman kehilangan yang bisa meninggalkan dampak psikologis mendalam.

Psikolog Klinis Ratih Zulhaqqi, M.Psi., Psikolog menegaskan bahwa penjelasan ini disampaikan berdasarkan informasi yang beredar di publik dan bukan untuk menegakkan diagnosis terhadap anak dalam video.

"Secara psikologis, situasi seperti itu pasti menjadi pengalaman kehilangan yang sangat berat dan berpotensi traumatis," ujarnya kepada kumparanMOM, Selasa (28/7).

Anak Bukan Hanya Kehilangan Sosok Ayah, tapi Juga Rasa Aman

Ilustrasi anak nangis. Foto: Shutter Stock

Menurut Ratih, bagi seorang anak, orang tua bukan hanya orang yang dicintai. Ayah dan ibu juga merupakan figur kelekatan (attachment figure) yang memberikan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kehilangan ayah secara mendadak dapat terasa seperti kehilangan tempat berlindung.

"Ketika anak menangis histeris sambil memanggil ayahnya, kemungkinan ia sedang mengalami campuran emosi yang sangat kuat. Ada rasa sedih, terkejut, bingung, takut, bahkan tidak percaya bahwa ayahnya benar-benar telah meninggal," jelas Ratih.

Pada kondisi seperti ini, tubuh anak juga dapat mengalami respons stres akut. Reaksinya bisa berupa menangis tanpa henti, berteriak, gemetar, mematung, memeluk jenazah, atau terus memanggil orang tua seolah berharap mereka kembali.

Ratih menambahkan, pemahaman anak tentang kematian juga bergantung pada usianya. Anak yang lebih kecil sering kali belum memahami bahwa kematian bersifat permanen sehingga mereka mungkin akan terus bertanya kapan ayahnya pulang atau mengira ayahnya hanya sedang pergi.

Dampak Kehilangan Mendadak Bisa Berlangsung dalam Jangka Panjang

Dalam jangka pendek, anak yang mengalami kehilangan traumatis dapat menunjukkan berbagai reaksi, seperti menangis berulang, mudah marah, bingung, diam, atau justru terlihat mati rasa.

Selain itu, mereka juga dapat mengalami sulit tidur, mimpi buruk, menjadi lebih sensitif, sulit berkonsentrasi, hingga mengeluhkan sakit kepala atau sakit perut.

"Namun dalam jangka panjang, kehilangan traumatis itu dapat mengganggu rasa aman anak. Anak bisa melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya, sulit mempercayai orang lain, atau sangat takut kehilangan orang-orang yang masih ada di sekitarnya," kata Ratih.

Pada sebagian anak, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko munculnya kecemasan, depresi, gangguan regulasi emosi, masalah perilaku, hingga gejala stres pascatrauma (PTSD). Meski demikian, Ratih menekankan bahwa tidak semua anak akan mengalami dampak tersebut karena setiap anak memiliki proses berduka yang berbeda.

Apa Itu Childhood Traumatic Grief?

Kehilangan orang tua akibat peristiwa tragis dapat berkembang menjadi Childhood Traumatic Grief, yaitu kondisi ketika trauma atas cara seseorang meninggal menghambat proses berduka anak.

Dalam kondisi ini, anak bukan hanya merindukan sosok yang telah meninggal, tetapi juga terus dibayangi oleh ketakutan terhadap peristiwa kematiannya.

"Kenangan menyenangkan tentang ayah justru dapat memunculkan gambaran mengerikan, mimpi buruk, rasa bersalah, kemarahan, atau ketakutan. Akibatnya, anak bisa menghindari foto, tempat, atau pembicaraan tentang ayah karena semuanya mengingatkan pada peristiwa traumatis itu," jelasnya.

Cara Mendampingi Anak yang Kehilangan Orang Tua

Dukungan keluarga menjadi faktor paling penting agar anak dapat melalui proses berduka dengan sehat.

Beberapa hal yang dapat dilakukan keluarga antara lain:

  • Pastikan anak didampingi oleh orang dewasa yang konsisten sehingga ia tetap merasa aman dan terlindungi.

  • Jelaskan tentang kematian menggunakan bahasa yang jujur dan sesuai usia anak. Gunakan kata "meninggal", bukan "tidur" atau "pergi", agar anak tidak bingung.

  • Validasi emosi anak, misalnya dengan mengatakan, "Kamu pasti sangat sedih dan kangen Bapak. Kami ada di sini menemani kamu."

  • Berikan ruang kepada anak untuk mengekspresikan perasaannya melalui cerita, gambar, bermain, atau berdoa. Jangan memaksa anak untuk bercerita jika belum siap.

  • Pertahankan rutinitas harian, seperti makan, tidur, dan sekolah, agar anak tetap memiliki rasa aman.

  • Hindarkan anak dari tayangan video, foto, atau pemberitaan yang berulang mengenai peristiwa tragis tersebut.

  • Jaga privasi anak dan hindari menyebarluaskan video ketika ia sedang berada dalam kondisi paling rentan.

Keluarga juga perlu segera mencari bantuan profesional apabila anak terus mengalami mimpi buruk, ketakutan yang menetap, menghindari semua hal yang mengingatkan pada orang tua, tidak mampu menjalani aktivitas sehari-hari, atau bahkan menunjukkan keinginan untuk menyusul orang yang telah meninggal.

"Dukungan keluarga yang stabil, rutinitas yang terjaga, dan pendampingan yang responsif menjadi faktor pelindung agar duka traumatis tidak berkembang menjadi PTSD," tutup Ratih.