Kumparan Logo

Begini Cara Mengajarkan Anak Menghargai Teman Berkebutuhan Khusus

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi ibu dan anak berkebutuhan khusus. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu dan anak berkebutuhan khusus. Foto: Shutter Stock

Baru-baru ini viral di Threads unggahan akun @ciciktrijayanti yang membagikan surat perkenalan dari orang tua seorang murid yang anaknya memiliki ADHD. Surat itu, dibagikan kepada teman-teman sekelasnya.

Dalam surat tersebut, sang ibu memperkenalkan kondisi anaknya sekaligus meminta pengertian apabila ada perilaku yang tanpa sengaja membuat teman atau orang tua lain merasa kurang nyaman.

Unggahan tersebut pun menyentuh hati warganet. Banyak yang kemudian juga bertanya-tanya, 'bagaimana cara menjelaskan kepada anak bahwa ada teman yang berkebutuhan khusus dan cara berinteraksinya?'

Nah Moms, menurut psikolog klinis Jovita Maria Ferliana, M.Psi., Psikolog, orang tua bisa mulai mengenalkan keberagaman melalui percakapan sederhana di rumah. Dengan begitu, anak dapat belajar memahami perbedaan, menumbuhkan empati, dan menghormati orang lain sejak dini.

Jelaskan Perbedaan dengan Bahasa Sederhana

Jadi pendengar yang baik saat anak bercerita tentang khayalannya Foto: Shutterstock

Orang tua dapat menjelaskan perbedaan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Misalnya, dengan mengatakan bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan kebutuhan yang berbeda.

“Setiap orang diciptakan berbeda. Ada yang cepat belajar membaca, ada yang jago olahraga, ada juga yang membutuhkan bantuan lebih banyak untuk berbicara, belajar, atau memahami sesuatu,” ujar dr. Jovita pada kumparanMOM, Sabtu (17/7).

Menurutnya, orang tua perlu mengajarkan bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang wajar, bukan kekurangan. Oleh karena itu, hindari penggunaan label yang dapat membuat anak memberikan cap negatif kepada orang lain, seperti anak nakal, aneh, atau cacat.

Sebagai gantinya, orang tua dapat menggunakan istilah yang lebih menghargai, seperti teman yang membutuhkan cara belajar yang berbeda atau teman yang membutuhkan dukungan lebih.

Anak juga belajar dari perilaku orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Ketika orang tua menunjukkan sikap hormat kepada setiap orang, anak pun akan belajar meniru perilaku tersebut.

Ajarkan Empati tetapi Tetap Kenalkan Batasan

Ilustrasi anak berkebutuhan khusus (ABK). Foto: Shutter Stock

Empati dapat dilatih sejak dini dengan mengajak anak memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Misalnya ketika ada teman yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menjawab, anak dapat diajarkan untuk menunggu.

Orang tua juga dapat mengatakan, ‘Kalau temanmu sedang kesulitan, kamu boleh menawarkan bantuan.’

Namun, mengajarkan empati bukan berarti meminta anak untuk selalu mengalah atau memenuhi semua keinginan orang lain. Anak tetap perlu memahami batasan yang sehat.

“Menghargai perbedaan bukan berarti anak harus selalu mengalah. Anak tetap boleh berkata ‘tidak’, meminta bantuan guru, atau menjauh ketika merasa tidak nyaman dan tidak aman,” jelas dr. Jovita.

Keterampilan sosial anak juga dapat dilatih melalui role play di rumah. Orang tua bisa mengajak anak berlatih bagaimana mengajak teman bermain, menghadapi teman yang kesulitan berkomunikasi, atau menyelesaikan konflik dengan cara yang sopan.

Dengan begitu, anak memiliki bekal ketika menghadapi situasi serupa di lingkungan sekolah.

Jangan Langsung Menyalahkan Anak yang Merasa Takut

Perasaan bingung atau takut merupakan respons yang wajar, terutama jika anak belum pernah berinteraksi dengan teman berkebutuhan khusus sebelumnya.

Ketika anak merasa takut atau bingung terhadap perilaku temannya, orang tua sebaiknya tidak langsung menyalahkan atau menghakimi perasaan tersebut. Dengarkan terlebih dahulu pengalaman anak dengan pertanyaan seperti, ‘Apa yang membuatmu merasa takut?’ atau ‘Apa yang terjadi saat itu?’

Setelah memahami situasinya, orang tua dapat memberikan penjelasan yang sesuai dengan usia anak. Anak bisa dibantu untuk memahami alasan di balik perilaku temannya, tanpa membenarkan perilaku yang memang tidak tepat.

Jika terjadi konflik, penyelesaiannya dapat difokuskan pada keterampilan sosial, seperti berkomunikasi dengan baik, memahami sudut pandang orang lain, dan mencari solusi bersama.

Di sisi lain, anak juga perlu mengetahui bahwa dirinya berhak meminta bantuan guru jika situasi sudah berada di luar kemampuannya.