Emotional Eating Bisa Terjadi pada Anak Usia 18 Bulan!

Moms, pernah melihat anak tiba-tiba ingin makan saat sedang marah, sedih, atau cemas? Bisa jadi, perilaku tersebut bukan karena ia sedang lapar, melainkan sebagai respons terhadap emosi yang dirasakan. Kondisi ini dikenal sebagai emotional eating atau perilaku makan karena emosi.
Menariknya, emotional eating ternyata sudah dapat ditemukan sejak anak masih berusia 18 bulan. Hal ini ditemukan dalam jurnal berjudul Regulating Bodily States and Emotions: The Influence of Child and Caregiver Factors on Emotional Eating in 18-Month-Old Toddlers.
Emotional Eating pada Anak 18 Bulan
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa respons dan kemampuan anak dalam mengatur emosi mulai berperan dalam munculnya perilaku emotional eating pada usia 18 bulan.
Namun, bukan berarti setiap kali anak marah, sedih, atau cemas, ia pasti akan mencari makanan. Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan munculnya perilaku tersebut.
Salah satunya adalah temperamen anak. Anak dengan temperamen yang membuatnya sangat reaktif terhadap berbagai situasi mungkin lebih rentan menunjukkan emotional eating. Selain itu, kemampuan regulasi emosi yang masih kurang baik juga dapat berperan.
Pada usia ini, kemampuan anak untuk mengenali dan mengelola emosinya memang masih berkembang. Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam membantu anak memahami berbagai emosi yang dirasakannya.
Bantu Anak Mengelola Emosi
Orang tua bisa mendampingi anak untuk mengenali perasaannya dan mengajari cara yang sehat untuk mengelola emosi misalnya dengan cara:
Memberikan pelukan ketika anak sedih
Membantu menenangkan diri saat marah
Mengajak anak membicarakan perasaannya setelah ia lebih tenang
Dengan begitu, makanan tidak menjadi satu-satunya cara yang dikenalkan kepada anak untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Seiring bertambahnya usia, anak pun dapat belajar mengenali emosi dan mengelolanya dengan cara yang lebih sehat.
