Kumparan Logo

Film Jangan Buang Ibu Punya Banyak Pelajaran Penting tentang Makna Keluarga

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konferensi Pers Perilisan Teaser Poster Film Jangan Buang Ibu di Senayan City. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Konferensi Pers Perilisan Teaser Poster Film Jangan Buang Ibu di Senayan City. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Membesarkan anak memang bukan hal yang mudah, terlebih jika harus dilakukan seorang diri. Hal inilah yang dialami Ristiana (Nirina Zubir) dalam film Jangan Buang Ibu. Ia berjuang membesarkan tiga anak tanpa pendamping, ditambah punya banyak beban finansial.

Seiring berjalannya waktu, ketiga anaknya tumbuh tanpa sosok ayah yang dapat melindungi mereka. Kehidupan mereka dibayangi trauma dan keterbatasan ekonomi. Tama (Refal Hady) tumbuh menjadi anak sulung yang mengambil peran sebagai kepala keluarga. Dewi (Amanda Manopo) harus berjuang menentukan pilihan antara keluarga dan kehidupan pribadinya. Sementara Tria (Saputra Kori) bahkan tidak pernah mengenal sosok ayah sejak masih berada dalam kandungan.

Film ini tidak hanya menyajikan kisah yang dekat dengan realitas kehidupan banyak keluarga di Indonesia, tetapi juga menghadirkan berbagai pelajaran berharga yang dapat menjadi bahan refleksi.

Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Film Jangan Buang Ibu

Konferensi Pers Perilisan Teaser Poster Film Jangan Buang Ibu di Senayan City. Foto: Aprilandika Pratama/kumparan

Bukan hanya menghadirkan kisah yang menguras air mata, film ini juga mengajak penonton memahami makna keluarga dari sudut pandang seorang ibu.

Melalui sosok Ristiana, kita belajar bahwa kasih sayang seorang ibu tidak selalu diungkapkan lewat kata-kata. Cinta sering kali hadir dalam bentuk kerja keras, pengorbanan, dan usaha tanpa henti untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Harapan seorang ibu sebenarnya sangat sederhana. Bukan kemewahan yang diinginkan, melainkan melihat anak-anaknya hidup rukun, saling menyayangi, dan tetap menjaga hubungan keluarga hingga dewasa.

Namun, seiring bertambahnya usia, kesibukan dan ego masing-masing anak mulai mengambil alih. Mereka merasa ibunya bersikap pilih kasih hingga lupa bahwa sang ibu tetap membutuhkan perhatian dan kehadiran mereka.

Konflik Film Terasa Sangat Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari.

Tidak ada keluarga yang benar-benar sempurna. Tama, Dewi, dan Tria harus tumbuh tanpa sosok ayah, bahkan sempat mengalami kekerasan saat ayah mereka masih ada. Meski begitu, film ini menunjukkan bahwa kehilangan sosok ayah bukan berarti kasih sayang dalam keluarga ikut hilang. Cinta dan dukungan tetap bisa hadir dari ibu maupun anggota keluarga lainnya. Dari sinilah kita belajar pentingnya saling memahami, saling menghargai, dan tetap menguatkan satu sama lain.

Tak kalah penting, film ini mengingatkan kita agar tidak menunggu kehilangan untuk menunjukkan rasa sayang kepada orang tua. Orang tua sering kali tidak mengharapkan hal-hal besar. Mereka hanya ingin ditemani, ditanya kabarnya, atau sesekali didatangi oleh anak dan cucunya. Perhatian sederhana itulah yang justru paling berarti bagi mereka.