Kasus Bullying Siswi SD di Lampung Timur Viral, Kenapa Korban Hanya Diam?

Kasus bullying terhadap seorang siswi sekolah dasar (SD) di Lampung Timur viral di media sosial. Dalam video yang beredar, korban terlihat dijambak, ditampar, hingga dipukul oleh sejumlah teman sebayanya. Korban juga tampak tidak melawan saat mengalami kekerasan tersebut.
Peristiwa itu kini telah ditangani pihak kepolisian. Kasatreskrim Polres Lampung Timur, Iptu Muhammad Iksir, mengatakan pihaknya masih mengidentifikasi siswi yang terlibat dalam peristiwa tersebut dan berkoordinasi dengan pihak sekolah.
Lantas, kenapa korban bullying sering kali hanya diam dan tidak melawan?
Korban Bullying Sering Kali Mengalami Freeze Response
Psikolog Klinis Roslina Verauli, M.Psi., Psikolog, menjelaskan, anak yang diam atau tidak melawan ketika mengalami bullying bisa saja sedang mengalami freeze response. Ya Moms, ini merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang muncul ketika seseorang merasa ancaman yang dihadapi terlalu besar.
“Korban bullying sering menghadapi ketimpangan kekuatan, misalnya pelaku lebih banyak, lebih kuat secara fisik, atau memiliki status sosial yang lebih tinggi. Dalam kondisi itu, otak anak bisa memilih membeku sebagai cara bertahan,” jelas Roslina pada kumparanMOM, Selasa (21/7).
Dengan demikian, anak yang diam saat menjadi korban bullying bukan berarti lemah atau membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu. Sedangkan respons setiap orang ketika menghadapi ancaman bisa berbeda. Ada yang melawan, berusaha melarikan diri, atau justru diam dan membeku.
Jangan Tunggu Anak Bercerita
Tidak semua anak yang mengalami bullying akan langsung bercerita kepada orang tua. Karena itu, orang tua perlu peka terhadap perubahan perilaku anak.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain:
Anak mengalami luka atau barang sekolahnya rusak maupun hilang tanpa alasan yang jelas
Anak juga bisa mengalami sulit tidur, mimpi buruk atau sering mengeluh sakit sebelum berangkat sekolah
Mendadak enggan pergi ke sekolah
Anak mungkin mulai menarik diri dari teman dan aktivitas sosial
Menjadi lebih mudah marah, sering menangis, atau mengatakan hal-hal negatif tentang dirinya sendiri
Jika mengalami tanda-tanda seperti di atas, segera lakukan investigasi lebih lanjut tetapi fokus utamanya adalah membuat anak nyaman bercerita ya, Moms.
Jika anak akhirnya bercerita bahwa dirinya mengalami bullying, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan nasihat panjang atau menyalahkannya.
“Hal pertama yang dibutuhkan anak bukan nasihat panjang lebar, melainkan rasa aman,” kata Vera.
Orang tua dapat memulai dengan memvalidasi perasaan anak dan meyakinkan bahwa ia tidak sendirian. Selanjutnya, libatkan pihak sekolah untuk menghentikan bullying dan bantu anak membangun kembali rasa percaya dirinya melalui lingkungan yang positif.
“Yang terpenting, jangan menyalahkan anak dengan mengatakan, ‘Harusnya kamu melawan.’ Karena bullying bukan terjadi karena korban kurang berani,” pesan Vera.
Sebaliknya, jadilah tempat paling aman bagi anak agar ia berani bercerita dan mencari bantuan ketika mengalami perundungan.
