Mengenal Cerebral Palsy pada Anak dari Penyebab hingga Terapi

Melihat anak mengalami kesulitan dalam bergerak atau memiliki perkembangan motorik yang berbeda dari anak seusianya, tentu bisa membuat orang tua khawatir.
Salah satu kondisi yang dapat memengaruhi kemampuan gerak anak adalah cerebral palsy. Lantas, seperti apa kondisi ini dan kapan tanda-tandanya mulai terlihat?
Mengenal Cerebral Palsy pada Anak dan Penyebabnya
Cerebral palsy merupakan kondisi yang terjadi akibat gangguan pada perkembangan atau kerusakan otak yang dapat memengaruhi gerakan, posisi tubuh, dan koordinasi anak. Kata dokter spesialis anak dr. Reza Abdussalam, SpA cerebral palsy beerkaitan dengan kondisi otak sejak dalam kandungan.
"Cerebral palsy berkaitan dengan kondisi otak yang terjadi sejak masa awal kehidupan. Jadi, kondisi ini bukan terjadi karena anak sudah mencapai usia tertentu lalu tiba-tiba mengalami cerebral palsy," kata dr. Reza pada kumparanMOM beberapa waktu lalu.
Ada berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko cerebral palsy.
"Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan otak sejak dalam kandungan, infeksi saat hamil, hingga kekurangan oksigen saat lahir," lanjutnya.
Selain itu, bayi yang lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah juga memiliki risiko lebih tinggi mengalami cerebral palsy.
Tanda-tandanya bisa terlihat dari fisik serta gerak tubuh anak, Moms.
"Umumnya mulai terlihat sejak anak masih kecil. Misalnya, gerakan anak terlihat berbeda, tonus otot terlalu kaku atau justru terlalu lemas, koordinasi terganggu, hingga muncul kejang," jelasnya.
Penanganan Cerebral Palsy pada Anak
Cerebral palsy merupakan kondisi jangka panjang sehingga membutuhkan perawatan dan pemantauan dalam jangka panjang.
"Tapi risiko cerebral palsy juga dapat diminimalkan dengan menjaga kesehatan selama kehamilan. Ibu hamil perlu rutin melakukan pemeriksaan untuk memantau kondisi diri dan janin," tambahnya.
Kehamilan dengan faktor risiko, seperti preeklamsia atau risiko persalinan prematur, juga perlu mendapatkan pemantauan lebih lanjut. Jika kehamilan berisiko, persalinan sebaiknya dilakukan di rumah sakit agar kondisi ibu dan bayi dapat dipantau serta mendapat penanganan yang sesuai jika terjadi komplikasi.
Sementara untuk anak yang sudah mengalami cerebral palsy, penanganannya dapat melibatkan beberapa tenaga kesehatan, seperti dokter spesialis anak, dokter rehabilitasi medik, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya.
"Jenis terapi akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Dengan penanganan dan pemantauan yang tepat, kemampuan anak dapat terus dikembangkan sesuai dengan potensinya," tutup dr. Reza.
