Psikolog: Sikap Ayah ke Ibu Jadi Salah Satu Patokan Anak Perempuan Cari Pasangan

Moms, mungkin pernah mendengar ungkapan bahwa ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Ternyata, ungkapan ini memiliki dasar dalam psikologi.
Menurut Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi., Psikolog, ayah menjadi salah satu sosok pertama yang mengajarkan anak tentang cinta, rasa hormat, cara menyelesaikan konflik, hingga membangun hubungan yang sehat. Pembelajaran itu bukan berasal dari nasihat, melainkan dari contoh yang anak lihat setiap hari.
Ayah Menjadi Contoh Pertama bagi Anak
Verauli menjelaskan, ketika anak melihat ayah menghormati pasangan, berani meminta maaf saat melakukan kesalahan, serta mampu mengelola emosi dengan baik, anak akan belajar bahwa hubungan yang sehat ditandai dengan rasa aman, saling menghargai, dan komunikasi yang terbuka.
"Saat ayah menghormati pasangan, meminta maaf ketika salah, dan mampu mengelola emosi, anak belajar bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang aman dan saling menghargai," kata Verauli kepada kumparanMOM, Selasa (24/6).
Sebaliknya, bila anak terus-menerus menyaksikan bentakan, penghinaan, atau kekerasan di rumah, pola tersebut dapat dianggap sebagai sesuatu yang normal. Bukan karena anak menginginkannya, melainkan karena itulah pola hubungan yang dikenalnya sejak kecil.
Meski demikian, Verauli menegaskan bahwa pengalaman masa kecil bukan satu-satunya faktor yang menentukan pilihan pasangan saat dewasa. Pengalaman tersebut hanya dapat meningkatkan faktor risiko, sementara masih banyak faktor lain yang turut berperan, seperti pengalaman hidup, lingkungan pertemanan, pendidikan, hingga proses refleksi diri.
Attachment yang Aman Jadi Bekal Anak di Masa Depan
Menurut Verauli, ayah juga berperan membangun secure attachment atau kelekatan yang aman dengan anak. Kelekatan ini menjadi salah satu faktor protektif yang dapat membantu anak membangun hubungan yang lebih sehat saat dewasa.
Beberapa hal yang dapat dilakukan ayah antara lain:
Memberikan kasih sayang dan rasa aman kepada anak.
Memvalidasi perasaan dan usaha anak.
Menghormati batasan yang dimiliki anak.
Menjadi teladan dalam mengelola emosi.
