Studi: Anak yang Tinggal di Lingkungan Hijau Cenderung Punya Fokus Lebih Baik

Memilih tempat tinggal bukan hanya soal luas rumah atau fasilitas di dalamnya. Bagi keluarga dengan anak, lingkungan di sekitar rumah juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap ruang hijau di sekitar tempat tinggal dapat berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Salah satunya terlihat dalam penelitian dipublikasikan di Jurnal Pubmed tahun 2017. Studi tersebut menemukan bahwa anak yang tinggal di lingkungan yang lebih hijau cenderung lebih mampu mempertahankan perhatian dan fokus. Anak yang lebih banyak terpapar ruang hijau juga tercatat membuat lebih sedikit kesalahan saat menjalani tes perhatian.
Ya Moms, itu artinya, taman, pepohonan, dan ruang terbuka hijau di sekitar perumahan bukan sekadar membuat lingkungan terlihat lebih asri. Bagi anak, ruang-ruang tersebut juga dapat menjadi tempat untuk bergerak, bermain, mengeksplorasi lingkungan, dan berinteraksi dengan orang lain berbagai aktivitas yang menjadi bagian dari keseharian dan proses tumbuh kembang mereka.
Hal tersebut sejalan dengan konsep yang diterapkan Kota Baru Parahyangan (KBP). Sejak awal pengembangannya, KBP mempertahankan ruang terbuka hijau sebagai bagian dari kawasan, sekaligus menghadirkan ruang komunal dan taman tematik yang dapat digunakan masyarakat untuk beraktivitas.
Kota Baru Parahyangan Pertahankan 50 Persen Ruang Hijau
Konsep lingkungan hijau tersebut juga menjadi bagian dari pengembangan Kota Baru Parahyangan (KBP) di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
KBP mengusung konsep mandiri, madani, dan alami. Salah satu wujudnya adalah komitmen untuk mempertahankan sekitar 50 persen dari konsesi lahan sebagai ruang terbuka hijau.
Menurut Marketing Manager Kota Baru Parahyangan, Joseph Ijong Dachlan, ruang hijau di KBP sudah menjadi bagian dari perencanaan kawasan sejak awal, bukan sekadar tambahan setelah pembangunan berjalan.
“Kota Bandung itu sebetulnya secara arsitektur pernah dikenal sebagai Garden City, yaitu kota yang kaya akan taman-taman. Karena kawasan kami merupakan bagian dari Bandung, semangat tersebut juga kami terapkan dengan mempertahankan 50% dari konsesi lahan yang kami miliki sebagai ruang terbuka hijau.” kata Ijong pada kumparanMOM beberapa waktu lalu.
Konsep alami tersebut juga diterapkan melalui keberadaan taman tematik, ruang terbuka hijau, hingga desain hunian yang turut memperhitungkan keberadaan ruang terbuka hijau, serta mengoptimalkan ventilasi dan pencahayaan alami. Penerapan prinsip tersebut tercermin dari beberapa cluster hunian di KBP yang telah mendapatkan sertifikasi dari Green Building Council Indonesia (GBCI).
“Jadi taman tematik, kemudian ruang terbuka hijau, desain-desain rumah yang pekat terhadap ventilasi alami, cahaya alami, itu mengarah ke human centric tadi, bahwa tentunya manusia ingin punya rumah yang sehat, agar dia punya longevity, punya umur yang panjang,” ujar Ijong.
Bukan Cuma Ruang Hijau, Ada Ruang untuk Berkumpul
Menariknya, konsep lingkungan yang dikembangkan KBP tidak berhenti pada ruang hijau. Ruang komunal juga menjadi bagian dari kawasan untuk mendorong interaksi antarwarga.
Keberadaan ruang komunal di kawasan ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari taman tematik hingga area komersial. Salah satu penerapannya dapat dilihat pada Bumi Hejo dan Hejo Square. Penggunaan nama “Hejo” merefleksikan upaya KBP untuk mengembangkan area town center yang dapat hadir berdampingan dengan ruang terbuka hijau dalam satu kawasan.
“Karena terjadi networking sesama warga. Nah, itu tercipta karena KBP juga mewadahi ruang-ruang komunal. Misalnya taman tematik, kemudian pasar, tempat yang sederhana tapi dikemas rapi, pasar modern kami, namanya Pasar Parahyangan, itu tempat kumpul, para pengusaha atau anak-anak muda juga,”
Bagi keluarga, keberadaan ruang seperti ini membuat lingkungan tempat tinggal tidak hanya menjadi tempat pulang, tetapi juga menyediakan ruang bagi anak dan orang tua untuk beraktivitas di luar rumah.
Membangun Kota yang Lebih Berkelanjutan
Konsep mandiri, madani, dan alami yang diterapkan KBP juga dikaitkan dengan prinsip keberlanjutan.
“Kalau mandiri, madani, dan alami dikaitkan dengan tema sustainability, mandiri melambangkan prosperity, madani merepresentasikan people, sedangkan alami merepresentasikan Bumi sebagai tempat kita berpijak. Kita ini hanya bagian kecil dari Bumi, sehingga sudah jadi tanggung jawab kita untuk merawatnya bersama dengan semangat keberlanjutan.” kata Ijong.
Pada akhirnya, bagi keluarga, memilih lingkungan tempat tinggal juga dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan keseharian yang lebih sehat dan nyaman bagi anak. Bukan hanya tentang rumah yang ditempati, tetapi juga tentang ruang untuk bermain, bergerak, berinteraksi, dan dekat dengan alam.
