Melihat Skor PISA sebagai Cerminan Kualitas Pendidikan Indonesia

Mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN Prodi D-IV Manajemen Keuangan Negara
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Sarah Patricia Simatupang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Education is the most powerful weapon which you can use to change the world," ujar Nelson Mandela, sebuah pengingat bahwa pendidikan adalah pilar utama kemajuan bangsa. Dengan kualitas pendidikan yang baik maka sumber daya manusia dalam suatu negara pun akan memiliki kualitas yang baik pula. Riset yang dilakukan oleh Wrexham University (2023) menyatakan bahwa, pendidikan berhubungan secara langsung dengan perekonomian sebuah negara. Karena dengan kualitas pendidikan yang baik maka akan meningkatkan produktivitas dan kreativitas yang menstimulasi kegiatan wirausaha dan penemuan teknologi sehingga semua berujung pada perkembangan ekonomi. Oleh karena itu sangat diperlukan kualitas pendidikan yang baik dalam sebuah negara. Untuk mengukur suatu kualitas pendidikan tentu saja diperlukan standar yang efektif dan objektif. Salah satu penilaian yang digunakan dalam menilai kualitas pendidikan di sebuah negara adalah dengan menggunakan PISA.
PISA yaitu singkatan dari Programme for International Student Assessment adalah sebuah program yang dibentuk oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) yang bertujuan untuk mengevaluasi kualitas sistem pendidikan yang diikuti lebih dari 70 negara di seluruh dunia (Kemendikbud, 2025). PISA dilakukan setiap 3 tahun dan diujikan pada siswa berumur 15 tahun. Terdapat 3 buah bidang yang diujikan yaitu matematika, literasi, dan sains. Pada pelaksanaan PISA ke 9 yaitu tahun 2022 assessment PISA diikuti oleh 81 negara. Tes PISA yang ke 10 yaitu tahun 2025 sedang dilakukan saat ini. PISA adalah program dari OECD yang hasilnya dapat memberikan wawasan tentang kinerja pendidikan di berbagai negara, sehingga dapat menciptakan sebuah perbandingan. Harapannya, hasil ini dapat menjadi masukan dan membantu pemerintah dalam membuat kebijakan untuk memperbaiki sistem pendidikan mereka. Penilaian PISA juga telah dirancang sedemikian rupa agar hasilnya seakurat mungkin dengan model statistik yang disebut Rasch Model untuk mengestimasi kemampuan setiap siswa berdasarkan setiap jawaban mereka (Alexander, 2023). Menurut The Education Hub (2024), adanya skor PISA memberikan manfaat yang luar biasa karena dapat memberitahu perubahan dari sebuah sistem pendidikan sehingga dapat menjadi kunci bagi sebuah negara untuk mencari aspek Pendidikan yang dapat dikembangkan.
Sejak pertama kali mengikuti PISA pada tahun 2001, Indonesia telah secara konsisten ambil bagian dalam setiap siklus penilaiannya. Hasil skor PISA di Indonesia dapat dikatakan tidak baik dan cenderung menurun. Menurut data oleh GoodStats (2023), skor PISA Indonesia pada tahun 2022 justru mengalami penurunan skor rata-rata sebesar 3.31% dibandingkan dengan edisi tahun 2018. Bahkan, sama halnya pada tahun 2018 juga mengalami penurunan rata-rata skor sebesar 3.37% jika dibandingkan dengan edisi tahun 2015. Tentu ini merupakan sebuah masalah bagi sistem pendidikan kita. Jika dibandingkan dengan negara lain maka tentu saja sangat berbeda jauh dan dapat dikatakan memprihatinkan. Pasalnya, secara konsisten skor Indonesia selalu berada di bawah rata-rata negara OECD. Pada edisi terakhir PISA yaitu tahun 2022, Skor rata-rata dari Indonesia di bidang matematika adalah 366 poin, sedangkan rata-rata di bidang matematika negara OECD adalah 472 poin. Pada bidang literasi skor rata-rata negara Indonesia adalah 359 poin, sedangkan rata-rata skor negara OECD di bidang ini adalah 476 poin. Kemudian pada bidang sains, skor rata-rata negara Indonesia adalah 383 poin, sedangkan skor rata-rata negara OECD lainnya adalah 485 poin. Secara garis besar, Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan banyak negara lain di berbagai bidang, karena skor rata-rata Indonesia dalam penilaian PISA berada di bawah rata-rata negara OECD, terutama dalam kemampuan literasi membaca. Minat baca masyarakat juga tergolong sangat rendah. Menurut data UNESCO, hanya sekitar 0,001 % masyarakat Indonesia yang memiliki kebiasaan membaca secara aktif. Artinya, dari 1.000 orang hanya satu yang rajin membaca. Berdasarkan kondisi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa PISA merupakan indikator yang valid untuk menilai kualitas Pendidikan dan mencerminkan rendahnya minat membaca sejak usia 15 tahun. Dengan skor literasi yang jauh di bawah standar negara OECD lainnya, PISA menunjukkan dengan jelas bahwa intensitas membaca yang rendah bukan hanya fenomena sosial yang terjadi pada masyarakat luas, tetapi juga berimplikasi pada kualitas pendidikan masyarakat itu sendiri yaitu pada saat melakukan pembelajaran di sekolah.
Secara keseluruhan, hasil skor PISA menunjukkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia layak dipertanyakan dan perlu evaluasi menyeluruh. Tantangan yang dihadapi juga sangat kompleks dimana dimulai dari rendahnya kompetensi dasar siswa hingga ketimpangan kualitas pendidikan nasional. Oleh karena itu, sebuah pendekatan strategis yang terintegrasi sangat penting untuk memperbaiki kualitas pendidikan secara fundamental dan berkelanjutan.
Strategi yang perlu dilakukan adalah perlunya ada kurikulum yang berkelanjutan. Kurikulum adalah sebuah standar dan konsep yang digunakan dalam sebuah sistem pendidikan. Menurut Helen Ngozi, pada jurnalnya yang berjudul Evaluating Basic Education in Singapore: Trends and Dynamics (2023) menyatakan bahwa kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisikan target dan skill yang harus dicapai oleh siswa yang pendekatannya berfokus pada pembelajaran aktif, yaitu siswa dibimbing untuk mengajukan pertanyaan, menganalisis, dan mengevaluasi informasi secara kritis sehingga menyerupai proses ilmiah. Oleh sebab itu, siswa tidak hanya sekadar menerima informasi secara pasif. Selain itu, kurikulum yang baik juga harus diikuti dengan kegiatan yang melatih kemampuan kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi, yang menjadi aspek penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan global. Kurikulum yang baik tentu memerlukan waktu untuk dapat menunjukkan hasilnya. Waktu menjadi faktor krusial dalam menilai keberhasilan suatu kurikulum. Jika kurikulum terus berganti setiap kali terjadi pergantian pemerintahan, maka evaluasi terhadap efektivitas kurikulum tersebut menjadi sulit dilakukan.
Selanjutnya diperlukan kualitas guru yang baik guna menunjang belajar siswa. Menurut R. Siagian pada jurnalnya The Influence of Teacher Quality, Teacher Characteristics, and Teaching Experience on School Quality that Impacts Student Performance in Bandung: Evidence from High School (2023), disebutkan bahwa kualitas guru menunjukkan perbandingan yang selurus dengan hasil belajar siswa yang dapat meningkatkan performa dari siswa itu sendiri. Adanya kurikulum yang baik juga harus didukung oleh kualitas guru yang baik dimana kedua hal ini harus berjalan bersama-sama.
Strategi selanjutnya adalah perlunya dilakukan investasi pada fasilitas pendidikan untuk menutup ketimpangan kualitas pembelajaran di Indonesia. Saat ini, banyak daerah yang masih kekurangan sarana pembelajaran memadai, sehingga mutu pendidikan jadi tidak merata. Menurut laporan OECD tentang ekuitas pendidikan, rata rata perbedaan skor matematika antara siswa dari kelompok sosial-ekonomi paling beruntung (25% teratas) dan yang paling kurang beruntung (25% terbawah) mencapai 34 poin pada bidang matematika. Artinya siswa yang mendapatkan fasilitas lebih baik cenderung meraih performa akademis jauh lebih tinggi dibanding mereka yang tidak memiliki akses setara.
Skor PISA dapat kita jadikan cermin untuk mengevaluasi dan memperbaiki kualitas pendidikan kita. Dengan menerapkan kurikulum yang relevan dan berkelanjutan, memberdayakan guru secara menyeluruh, serta memfokuskan investasi untuk pemerataan fasilitas pendidikan, kita dapat membangun fondasi yang kuat bagi generasi mendatang. Perubahan membutuhkan waktu dan tidak dapat dicapai secara instan. Namun, langkah menuju perbaikan harus dimulai sekarang melalui kolaborasi antara pemerintah, guru, orang tua, dan siswa. Dengan upaya bersama yang berkelanjutan, kita dapat mendorong peningkatan skor PISA hingga mencapai bahkan melampaui rata-rata negara lainnya.
