Why Do We Cry? Is Crying Good For You?

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Tulisan dari Sarah Al Hamasah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mungkin banyak dari kita saat menonton film sedih akan menangis. Ketika terkena debu mata kita akan mengeluarkan air mata. Tak sedikit pula dari kita akan menangis ketika putus cinta. Air mata yang dikeluarkan terlihat sama. Namun, penyebabnya dapat berbeda karena air mata memiliki tiga jenis. Dilansir dari laman Independent, terdapat tiga jenis air mata berdasarkan produksi air mata dan bagaimana kaitannya dengan pusat emosi otak, yaitu:
Air Mata Basal
Air mata basal diproduksi oleh kelenjar lakrimal. Jenis air mata ini berfungsi menjaga kornea agar tetap terlumasi sehingga mata tidak kering dan terjaga kelembapannya.
Air Mata Refleks
Air mata refleks diproduksi oleh kelenjar lakrimal untuk membantu membersihkan iritasi yang terjadi pada mata karena partikel atau uap seperti debu dan saat mengiris bawang.
Air Mata Psikis
Air mata psikis adalah air mata yang terbentuk sebagai respons terhadap emosi kuat yang dialami seperti kesenangan, kesedihan, kemarahan, stress, dan penderitaan, hingga rasa sakit fisik. Air mata psikis mengandung obat penghilang rasa sakit alami yang disebut leucine enkephalin yang menjadi alasan mengapa merasa lebih baik setelah menangis.
Terdapat area otak yang khusus menangani emosi disebut sistem limbik, yang terprogram ke dalam sistem saraf otonom. Sistem ini, melalui salah satu jenis neurotransmitter yang disebut asetilkolin, memiliki kendali atas sistem lakrimal.
Saat putus cinta, air mata mulai diproduksi oleh sistem lakrimal yang berada di sekitar bola mata. Sistem lakrimal adalah sistem sekresi yang menghasilkan air mata dan sistem ekskresi yang mengurasnya. Saat air mata dihasilkan oleh kelenjar lakrimal yang berada di antara bola mata dan kelopak mata, kita secara spontan akan berkedip dan membuat air mata yang diproduksi menyebar ke seluruh permukaan mata. Kemudian, air mata tersebut akan jatuh keluar dan/atau tersaring oleh punctum lakrimal yang mengalir ke hidung. Itulah alasan mengapa hidung kita meler saat menangis.
Perbedaan Individu Ketika Menangis
Berdasarkan laman American Psychological Association (APA), secara biologis, mungkin ada alasan mengapa wanita lebih sering menangis dibanding pria. Pria memiliki hormon testosteron yang dapat menghambat tangisan, sedangkan hormon prolaktin yang terdapat lebih banyak pada wanita justru mendukung tangisan. Selain itu, ada juga beberapa perbedaan gender yang mencolok pada penyebab menangis. Secara khusus, dua perbedaan mencolok adalah wanita lebih sering menangis dibanding pria dalam situasi konflik, sedangkan pria relatif lebih sering menangis karena alasan positif. Di sisi lain, perbedaan gender dalam reaksi terhadap kehilangan dan penolakan interpersonal tampaknya sangat terbatas (Vingerhoets, 2013).
Variabilitas frekuensi tidak hanya bergantung pada jenis kelamin dan usia, tetapi juga pada faktor-faktor seperti kepribadian, gaya keterikatan, kesehatan mental, budaya, sosialisasi, ada atau tidaknya seseorang dalam hubungan romantis, dan peristiwa traumatis. Lain daripada itu, perubahan sementara dalam perilaku menangis seseorang dapat disebabkan oleh beberapa faktor berbeda, seperti kurang tidur, kelelahan, stress, suasana hati, kesehatan mental, menjadi orang tua, status kesehatan fisik, konsumsi alkohol, dan penggunaan zat atau obat-obatan (Vingerhoets, 2013).
Mengenai ciri-ciri kepribadian, individu yang tinggi neurotisme dan/atau empati relatif lebih banyak menangis (Vingerhoets, 2013; Vingerhoets, van Tilburg, Boelhouwer, & van Heck, 2001), sedangkan orang-orang yang suka meremehkan cenderung menangis lebih sedikit daripada yang lain (Laan, van Assen, & Vingerhoets, 2012).
Bekker dan Vingerhoets mengembangkan model untuk menggambarkan bahwa masing-masing dari empat faktor berikut mungkin bertanggung jawab atas perbedaan individu dan kelompok dalam menangis. Pertama, ada perbedaan tingkat keterpaparan pada situasi emosional. Kedua, penilaian atau bagaimana individu dan kelompok tertentu berbeda dalam cara memandang dan mengevaluasi situasi yang berpotensi emosional. Ketiga, adanya ambang tangis yang diduga dipengaruhi oleh faktor fisik atau psikis seperti kelelahan, kurang tidur, dan juga kadar hormonal. Keempat, kapasitas yang dipelajari untuk mengontrol air mata, serta penerimaan sosial terhadap air mata.
Kesimpulannya, perbedaan frekuensi menangis seseorang mungkin dapat disebabkan oleh kombinasi yang berbeda dari berbagai faktor yang mendasari.
Apakah Menangis Itu Baik?
Bayi menggunakan tangisannya tidak hanya sekadar alat ekspresi emosional tetapi juga sebagai bentuk komunikasi kepada orang dewasa.
Robert R. Provine, Ph.D, seorang profesor psikologi dan ilmu saraf di University of Maryland mengatakan bahwa “Air mata menambah valensi dan nuansa pada persepsi wajah”. Air mata menjadi semacam pelumas sosial yang dapat membantu kelancaran fungsi komunitas dengan membantu orang berkomunikasi. Berdasarkan hal ini, para peneliti di Tilburg University telah menunjukkan pada waktu paparan yang sangat singkat, respoden melaporkan lebih bersedia memberikan dukungan kepada orang-orang dengan air mata yang terlihat (menangis) daripada mereka yang tidak menangis (Evolutionary Psychology, 2013).
Penelitian Bylsma tentang air mata: Mengapa anda menangis dan siapa yang melihat anda menangis tampaknya membuat perbedaan apakah menangis membantu atau melukai keadaan emosional anda (Journal of Research in Personality, 2011). Dalam penelitian tersebut, ia beserta rekannya menemukan bahwa menangis lebih mungkin membuat orang merasa lebih baik ketika mereka memiliki dukungan emosional (seperti teman dekat), jika mereka menangis karena peristiwa positif atau jika tangisan mereka menghasilkan resolusi atau pemahaman baru mengenai situasi yang membuat mereka menangis. Orang yang menangis merasa lebih buruk jika mereka merasa malu atau malu menangis dan jika mereka bersama dengan orang yang tidak mendukung atau menangis karena melihat penderitaan. Secara keseluruhan, partisipan dalam penelitian cenderung merasa lebih baik jika mereka menangis sendiri atau di sekitar satu orang, tetapi merasa lebih buruk atau tidak mengalami perubahan suasana hati jika mereka bersama dua orang atau lebih.
Banyak pendapat mengenai menangis membuat mood menjadi lebih baik. Namun, tentu tidak selalu menghasilkan perbaikan mood. Cornelius (1997) meninjau literatur tentang topik ini yang membuatnya menyimpulkan bahwa studi kuasi-eksperimental, partisipan dihadapkan pada film sedih tanpa pengecualian menunjukkan bahwa partisipan yang menangis merasa lebih buruk setelah menonton film tersebut. Hal ini tampak kontras dengan anggapan bahwa menangis menghasilkan perbaikan mood.
Setelah menganalisis studi retrospektif relevan yang tersedia, Rottenberg et al (2008) menyimpulkan bahwa pertanyaan “Apakah menangis bermanfaat?” sebaiknya dirumuskan kembali sebagai berikut: “Untuk siapa dan dalam kondisi apa menangis menguntungkan individu yang menangis”. Faktor-faktor penentu yang dapat menentukan apakah menangis itu bermanfaat atau tidak, yaitu kepribadian dan keadaan psikologis orang yang menangis (seperti pada orang yang mengalami depresi, menangis biasanya tidak membuat perasaan lebih baik), karakteristik peristiwa yang muncul, dan bagaimana orang lain bereaksi terhadap tangisan (menerima kenyamanan dikaitkan dengan perbaikan suasana hati, sedangkan reaksi negatif tidak berpengaruh pada perbaikan suasana hati).
Terlepas dari faktor menangis dan apakah menangis itu baik atau tidak. Jika Anda merasa lebih baik setelah menangis, maka menangislah. Namun, jika suasana hati Anda menjadi lebih buruk setelah menangis atau semakin sering menangis tanpa alasan yang jelas, maka sebaiknya segera berkonsultasi pada psikolog atau psikiater.
Sumber:
Knight N. (2020, October 30). Why Do We Cry? The Science of Tears. Retrieved December 19, 2020, from Independent: https://www.independent.co.uk/life-style/why-do-we-cry-the-science-of-tears-9741287.html
American Psychological Association. “Why we cry.” APA Online. https://www.apa.org/monitor/2014/02/cry
Vingerhoets, A. J. J. M., & Bylsma, L. M. (2016). The Riddle of Human Emotional Crying: A Challenge for Emotion Researchers. Emotion Review, 8(3), 207–217. https://doi.org/10.1177/1754073915586226
