Konten dari Pengguna

Mengulik Sejarah Kelam Aktivis Indonesia Lewat Novel Laut Bercerita

Sarah Tri Wulandari

Sarah Tri Wulandari

Mahasiswa Aktif di Politeknik Negeri Jakarta

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarah Tri Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

novel laut bercerita. (foto. pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
novel laut bercerita. (foto. pribadi)

Sebuah novel dengan sampul biru, sekilas seperti novel ringan yang isinya menyenangkan tetapi, di dalam sampul yang indah itu terdapat sebuah cerita sejarah kejam yang menyayat hati.

Novel ini berlatarkan masa orde baru dan reformasi, mengangkat tema tentang persahabatan, percintaan serta kehilangan. Novel ini ditulis sesuai dengan fakta. namun, nama tokoh yang terdapat dalam novel tersebut bukanlah nama asli.

Bercerita tentang Biru Laut, seorang mahasiswa Sastra Inggris yang sangat menyukai buku sastra. Pada masa itu, buku karangan Pramoedya Ananta Toer sangat dilarang beredar di Indonesia. namun, laut dengan segala kenekatan memfotokopi buku tersebut. Mulai dari sana laut bertemu dengan kasih kinanti yang mengajarkan laut gerakan-gerakan demonstrasi, Secara tidak langsung buku ini kembali mengangkat kasus tentang hilangnya 13 aktivis Indonesia.

Meskipun beralur mundur dengan dua sudut pandang tentang Laut dan juga Asmara Jati, hal ini tidak membuat pembaca merasa pusing karena pembahasan dan konflik ditulis secara ringkas.

Pada bab awal, pembaca akan dibawa masuk kedalam perjalanan Laut, awal mula Laut bertemu dengan komunitas hingga saat penculikan para aktivis tersebut. Laut menceritakan dengan sangat detail sehingga membawa para pembaca merasakan emosi yang dirasakan oleh laut, sedangkan pada bagian Asmara Jati kisahnya menceritakan tentang rasa kehilangan. Kehilangan seorang anak, kakak, pacar, bahkan suami. Tokoh bapak dan ibu yang selalu menyangkal atas kehilangan putra sulungnya serta sifat Alex dan teman-temannya yang selamat lalu dibebaskan sangat terasa nyata. Menunggu menjadi hal yang wajib dilakukan selain mencari keadilan.

Novel karya Leila S. Chudori yang terbit pada tahun 2017 ini cocok dibaca untuk kalian yang suka dengan novel bergenre historical fiction. Novel ini dapat membawa hanyut para pembaca kepada masa orde lama, untuk kaum milenial yang belum mengetahui mengenai aksi kamisan, semuanya dapat terjawab pada novel ini. Aksi yang selalu rutin dilakukan di depan Istana Negara ini merupakan sebuah aksi pemberontakan para orang tua untuk menanyakan kemana perginya putra-putri kami. Aksi ini mulai dilakukan sejak 18 Januari 2007 dengan menggunakan pakaian hitam-hitam.