Konten dari Pengguna

Menakar Kepiluan Cerpen 'Rosma': Korban Kemiskinan Orang Tua

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarah Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Gemini_Generated_Image_x5gincx5gincx5gi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Gemini_Generated_Image_x5gincx5gincx5gi

Karya sastra yang memikat sering kali bukan karena akhir ceritanya yang bahagia, melainkan bagaimana seluruh rangkaian peristiwa di dalamnya bergerak menjerat emosi pembaca. Hal inilah yang terasa sangat kental saat kita membaca cerpen "Rosma dan Seratus Tangkai Mawar" karya Kezia Litantra.

Cerpen ini menyajikan sebuah tragedi kemiskinan yang menyayat hati. Namun, jika kita membedahnya lebih dalam—salah satunya dengan menggunakan kacamata akademisi Robert Stanton dalam buku Teori Fiksi—kekuatan utama cerpen ini sebenarnya terletak pada struktur alur dan konflik yang dibangun dengan begitu rapi. Stanton menyebutkan bahwa alur bukan sekadar urutan kejadian, melainkan rantai sebab-akibat yang digerakkan oleh benturan kekuatan bernama konflik.

Mari kita bedah bagaimana alur dalam cerita Rosma bergerak perlahan namun pasti menuju sebuah petaka yang tak terhindarkan.

Konflik Internal: Pemicu Rantai Petaka

Cerita ini diawali dengan pengenalan tokoh Rosma, seorang anak tunarungu yang hidup dalam kesunyian dunianya. Konflik utama dalam cerita ini mulai memercik bukan dari dunia luar, melainkan dari dalam diri Rosma sendiri (konflik internal). Sebagai anak-anak, ia memiliki motivasi dasar yang sangat murni: ia tidak tahan melihat ayahnya terluka dan ibunya terus-menerus menangis.

Sifat polos inilah yang memicu rangkaian aksi berikutnya. Ketika mendengar samar-samar kata "Bunga!" dari tamu asing yang menagih utang ke rumahnya, Rosma mengira bahwa bunga riil adalah solusi dari segala beban orang tuanya. Keterbatasan fisik dan kepolosannya membuat ia gagal menangkap sinyal bahaya. Di sinilah rantai kausalitas (sebab-akibat) Stanton mulai bekerja. Demi menyelamatkan keluarganya, Rosma nekat memetik—bahkan mencuri—ratusan tangkai mawar merah dari pagar rumah mewah.

Setiap tindakan Rosma memicu konsekuensi yang semakin berat. Jarinya tergores duri saat memetik mawar, sebuah isyarat awal bahwa usaha "penyelamatan" yang ia lakukan justru bertaut erat dengan rasa sakit yang akan segera menghampirinya.

Klimaks yang Mengiris Hati

Puncak dari ketegangan atau klimaks terjadi ketika Rosma pulang dan mendapati sebuah gaun merah muda berenda terhampar di atas kasurnya yang kusam. Menurut Stanton, klimaks adalah titik ketika konflik mencapai intensitas tertinggi dan penyelesaian menjadi tidak terhindarkan.

Saat sang ibu memandikan Rosma dengan keheningan yang terasa berat, pembaca mulai disergap rasa cemas. Puncaknya adalah ketika tamu tinggi besar itu datang kembali. Ia tidak mengambil ratusan mawar curian yang ditumpuk Rosma di atas kasur. Alih-alih merengkuh tanaman, tangan kekar tamu tersebut justru meraih lengan kurus Rosma yang penuh goresan duri mawar.

Pada titik ini, pembaca dihantam oleh kenyataan pahit: Rosma-lah "bunga" sesungguhnya yang dikorbankan untuk melunasi utang orang tuanya.

Akhir yang Tak Terhindarkan: Sebuah Kritik Sosial

Robert Stanton menulis bahwa dalam cerita yang baik, seluruh jalinan peristiwa akan bergerak menuju sebuah akhir yang inevitable atau tidak terhindarkan. Melalui akhir cerpen Rosma, kita melihat bagaimana struktur sebab-akibat tersebut mengunci nasib sang tokoh utama. Kemiskinan orang tua melahirkan utang, utang melahirkan ancaman, kepolosan anak memicu kesalahpahaman, dan ketidakberdayaan ekonomi akhirnya menuntut tumbal.

Kalimat penutup cerpen ini merangkum kepiluan tersebut dengan sangat getir:

“Ada bunga yang tak tumbuh di tanah. Dipetik dari luka. Cukup untuk menukar semua kesedihan. Tamu itu menemukan bunganya.”

Pada akhirnya, cerpen ini bukan sekadar fiksi hiburan pengantar tidur. Melalui alur dan konflik yang dieksekusi dengan tajam, cerita ini menjelma menjadi kritik sosial yang sangat relevan dengan realitas di sekitar kita. Ia menjadi tamparan keras yang mengingatkan kita semua: di tengah impitan ekonomi dan keserakahan dunia orang dewasa, sering kali jerit kesucian anak-anaklah yang pertama kali diredam dan dikorbankan.

Daftar Pustaka:

Litantra, Kezia. (2026, 29 Mei). Rosma dan Seratus Tangkai Mawar. Cerpen Kompas.

Stanton, Robert. 2012. Teori Fiksi. Diterjemahkan oleh Sugihastuti dan Rossi Abi Al Irsyad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.