Konten dari Pengguna

Enam Tahun Menjadi Wishlist, Gunung Prau Justru Mengajarkan Arti Persiapan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sari Rahayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunung Prau / Sari Rahayu
zoom-in-whitePerbesar
Gunung Prau / Sari Rahayu

Sejak 2020, Gunung Prau sudah menjadi salah satu wishlist saya.

Semuanya bermula dari sebuah postingan tentang sunrise di Gunung Prau. Saya melihat foto matahari terbit dengan lautan awan yang begitu indah. Setelah mencari tahu lebih jauh, saya semakin tertarik. Dalam bayangan saya waktu itu, suatu hari nanti saya ingin berdiri di sana dan melihat pemandangan yang selama ini hanya bisa saya nikmati melalui layar HP.

Tapi saat itu, rasanya Prau hanya akan menjadi wishlist.

Saya berasal dari keluarga yang cukup ketat. Untuk bepergian jauh saja saya sulit mendapatkan izin, belum lagi memikirkan biaya perjalanan dan perlengkapan mendaki. Saya sempat berpikir, bagaimana mungkin saya bisa membeli perlengkapan sekaligus pergi sejauh itu?

Akhirnya, saya mulai dari hal kecil. Saya mencoba mendaki beberapa gunung di sekitar Bogor dengan ketinggian sekitar 1.000an mdpl. Dari pengalaman-pengalaman kecil itu, dan banyaknya teman saya yang suka mendaki, perlahan muncul keyakinan bahwa mungkin suatu saat saya benar-benar bisa ke Prau.

Sampai akhirnya, enam tahun setelah wishlist itu dibuat, kesempatan tersebut datang.

Saya mulai menabung sekitar enam bulan. Perlengkapan pun saya siapkan sedikit demi sedikit. Saya membeli beberapa perlengkapan kecil yang menurut saya penting, menyiapkan pakaian, jaket, sepatu, dan kebutuhan lainnya.

Untuk persiapan fisik, saya hanya sempat jogging sesekali karena kesibukan kuliah. Saya tidak melakukan latihan khusus untuk membawa beban.

Dan ternyata, itu menjadi salah satu kesalahan kecil saya.

Takut Dingin, Ternyata Carrier yang Menyiksa

Sebelum berangkat, hal yang paling saya takutkan justru bukan tanjakan.

Saya takut dingin.

Saya pernah camping di Puncak Bogor dan sudah menggigil hanya karena suhu malam. Sementara itu, saya mendaki Prau sekitar Juni–Agustus, ketika cuaca di pegunungan sedang dingin-dinginnya.

Saya sampai membayangkan kemungkinan hipotermia dan mempersiapkan berbagai perlengkapan untuk menghadapi suhu rendah.

Namun, ternyata ketakutan saya justru salah sasaran.

Saya membawa carrier sekitar 12 kilogram. Ini adalah pertama kalinya saya benar-benar mendaki dengan membawa carrier sebesar itu.

Awalnya saya merasa baik-baik saja. Di rumah, carrier masih terasa nyaman. Tetapi semakin lama perjalanan berlangsung, terutama ketika mulai mendaki, pundak saya mulai terasa sakit.

Namun, saya masih sanggup berjalan. Saya hanya beberapa kali berhenti untuk menarik napas, biasanya tidak sampai lima menit. Lepas carrier sebentar, tarik napas, kemudian pakai lagi.

Yang paling menyiksa justru pundak.

Saat itulah saya sadar bahwa mendaki gunung bukan hanya soal seberapa kuat kaki membawa tubuh menanjak. Membawa beban juga membutuhkan persiapan tersendiri.

Meski begitu, saya tidak merasa ingin menyerah dan saya juga tidak menyesal.

Entah kenapa, di tengah pundak yang mulai sakit, saya tetap bisa menikmati perjalanan. Mungkin karena saya tahu, perjalanan ini adalah sesuatu yang sudah saya tunggu sejak lama.

Waktu yang Terbatas dan Sunrise yang Ditunggu

Ada satu hal yang cukup saya sayangkan dari perjalanan ini.

Saya menggunakan open trip untuk meyakinkan orang tua bahwa perjalanan akan lebih terorganisir. Namun, dalam pelaksanaannya, ada beberapa perubahan jadwal yang cukup berpengaruh.

Kami tiba di basecamp sekitar pukul 08.30 pagi dan awalnya dijadwalkan mulai mendaki pukul 11.00. Kami bahkan sudah siap sekitar pukul 10.30.

Namun, waktu keberangkatan kembali diundur hingga sekitar pukul 13.00.

Akibatnya, waktu kami untuk menikmati perjalanan menjadi lebih terbatas. Padahal, kami sudah membayangkan akan mengambil banyak foto dan membuat beberapa konten.

Pada akhirnya, dokumentasi hari pertama tidak sebanyak yang saya harapkan.

Tetapi saya tetap menikmati perjalanan.

Kami berjalan bersama dalam satu rombongan. Teman-teman juga cukup perhatian dan mau saling menunggu. Kabut mulai turun ketika perjalanan berlangsung, sehingga kami juga tidak bisa terlalu banyak berhenti.

Sekitar pukul 16.30 kami tiba di Sunrise Camp.

Kabut tebal menyambut kami. Pemandangan belum terlihat.

Malamnya, saya benar-benar merasakan dingin yang sejak awal saya takutkan. Saya tidak bisa tidur semalaman. Sudah menggunakan sleeping bag, jaket, hand warmer, foot warmer, hingga kaus kaki berlapis, tetapi tetap terasa dingin.

Namun, malam itu saya juga mendapatkan sesuatu yang tidak kalah indah. Langit penuh bintang.

Bahkan Milky Way terlihat.

Saya sempat berpikir, ternyata rasa dingin itu sepadan dengan pemandangan yang saya dapatkan.

Kemudian, sekitar pukul 05.00 pagi, kami keluar untuk melihat sunrise.

Dan untuk pertama kalinya, saya melihat langsung sesuatu yang selama ini hanya saya lihat di layar HP.

Matahari perlahan muncul dengan warna jingga. Lautan awan terbentang di depan mata. Gunung Sindoro dan Sumbing terlihat dari kejauhan.

Saya sampai merasa tidak percaya.

“Ini benar-benar pemandangan yang selama ini cuma aku lihat di postingan orang?”

Ternyata sekarang saya melihatnya secara langsung.

Di situlah saya merasa bahwa wishlist yang saya simpan sejak 2020 akhirnya benar-benar terwujud.

Sunrise Gunung Prau / Sari Rahayu

Prau Mengajarkan Saya untuk Tidak Meremehkan Persiapan

Pendakian ini membuat saya belajar bahwa persiapan mendaki tidak cukup hanya dengan melatih kaki.

Saya memang bisa berjalan menanjak. Saya masih sanggup menghadapi jalurnya. Tetapi saya tidak mempersiapkan tubuh untuk membawa beban selama berjam-jam.

Carrier 12 kilogram yang terlihat biasa saja ketika ditimbang ternyata terasa sangat berbeda ketika dibawa mendaki.

Kalau suatu saat saya mendaki lagi, saya tahu apa yang harus dipersiapkan. Bukan hanya kaki, tetapi juga punggung dan tubuh untuk membawa beban.

Saya juga belajar bahwa dalam sebuah perjalanan, tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana. Keterlambatan membuat saya kehilangan kesempatan untuk mengambil lebih banyak foto, tetapi ternyata pengalaman yang saya dapatkan tetap jauh lebih besar daripada sekadar dokumentasi.

Enam tahun lalu, Gunung Prau hanya sebuah foto yang saya simpan dalam wishlist.

Sekarang, saya punya cerita sendiri tentangnya.

Dan mungkin, itulah hal paling menyenangkan dari sebuah perjalanan: bukan hanya tentang akhirnya sampai di tempat yang kita tuju, tetapi tentang bagaimana perjalanan menuju ke sana membuat kita mengenal diri sendiri lebih jauh.

Sari Rahayu