Konten dari Pengguna

Media Sosial: Algoritma dan Filter Bubble dalam Mengubah Persepsi Publik

Sarmiati mia

Sarmiati mia

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

·waktu baca 5 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sarmiati mia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media Sosial: Algoritma dan Filter Bubble

Sumber: Pexels (Media Sosial)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels (Media Sosial)

Algoritma dan filter bubble, istilah yang sudah tidak asing lagi bagi kita yang aktif menggunakan media sosial dan teknologi. Dalam artikel ini, penulis mencoba untuk membedah secara ringkas pengaruh Algoritma dan Fiter Bubble dalam penggunaan media sosial dapat mempengaruhi perspektif publik.

Secara umum, algoritma dalam media sosial mengacu pada serangkaian aturan dan prosedur yang digunakan oleh platform seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan platform lainnya untuk mengatur, mengelola, dan menampilkan konten kepada pengguna. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keterlibatan pengguna dengan menampilkan konten yang relevan, menarik, serta sesuai dengan preferensi dan perilaku yang ditunjukkan oleh pengguna. Algoritma yang kita temui di media sosial disesuaikan dengan data pengguna seperti riwayat pencarian, like, share, dan interaksi untuk menampilkan konten yang relevan dan menarik bagi individu yang menggunakan.

Algoritma di media sosial memainkan peran penting dalam pengaturan feed (urutan dan jenis konten yang muncul berdasarkan interaksi, minat, dan karakteristik pengguna), rekomendasi konten, iklan yang ditargetkan, moderasi konten yang melanggar kebijakan paltform, serta mengelola interaksi pengguna dengan mengendalikan penyebaran informasi tertentu. Algoritma di media sosial dirancang untuk memberikan pelayanan maksimal bagi pengguna, dengan meningkatkan keterlibatan serta pendapatan melalui iklan. Namun, hal ini dapat berdampak pada polarisasi opini, pembentukan filter bubble, dan penyebaran informasi yang salah.

Istilah filter bubble diciptakan oleh Eli Pariser pada tahun 2011 yang mengacu pada efek penyaringan algoritma yang menyebabkan pengguna hanya terpapar pada informasi yang sejalan dengan pandangan, minat, dan keyakinan yang mereka miliki. Sehingga pandangan yang berbeda dan bertentangan akan diabaikan, yang menyebabkan sempitnya wawasan dan pemahaman pengguna. Munculnya filter bubble dipengaruhi oleh algoritma yang digunakan oleh platform media sosial untuk menyaring dan menampilkan konten kepada pengguna berdasarkan berbagai faktor seperti:

Riwayat pencarian dan interaksi. Algoritma memperhitungkan riwayat pencarian, like, share, dan interaksi pengguna dengan konten tertentu. Konten yang lebih banyak dan lebih sering dijangkau atau ditemukan relevan oleh algoritma kemungkinan akan lebih sering muncul pada feed pengguna.

Data demografis dan preferensi. Platform menggunakan data demografis, minat, dan preferensi yang dikumpulkan dari pengguna untuk menyesuaikan konten yang ditampilkan.

Lokasi dan bahasa. Faktor seperti lokasi geografis dan bahasa yang digunakan dapat mempengaruhi jenis konten yang muncul di feed pengguna.

Sebagai individu yang menjadi pengguna aktif media sosial dan berbagai platfrom online lainnya, tentu kita menyadari pengaruh algoritma dalam menyajikan konten di feed kita. Contohnya saja ketika sedang mencari tutorial membuat suatu seperti masakan, kerajinan, dan sebagainya. Dengan sendirinya feed pengguna akan dipenuhi dengan rekomendasi dengan totorial yang serupa. Atau ketika kita melakukan perjalanan liburan keluar negeri seperti ke thailand. Secara otomatis, feed pengguna akan berganti disesuaikan dengan daerah demografis pengguna saat itu.

Dengan adanya algoritma ini, dapat memudahkan pengguna media sosial dalam mendapatkan informasi yang sesuai dengan minat dan juga kebutuhan yang diinginkan oleh pengguna. Namun demikian, adanya algoritma dan filter bubble media sosial ini mempengaruhi perubahan persepsi publik seperti:

1. Polarisasi. Karena pengguna cenderung lebih sering terpapar pada konten yang mendukung pandangan mereka sendiri, hal ini dapat memicu dan memperkuat keyakinan yang sudah ada dan memicu polarisasi (fenomena psikologis yang berkaitan dengan keyakinan, sikap, dan keputusan kelompok yang cenderung lebih kuat atau ekstrem). Orang dengan padangan berbeda cenderung semakin menjauh satu sama lain secara ideologis

2. Echo Chambers (Ruang gema). Media sosial sebagai wadah dalam menampun informasi, ide, dan keyakinan yang diperkuat oleh komunikasi dan pengulangan dalam komunitas yang homogen. Hal ini dapat menyebabkan pengurangan paparan terhadap sudut pandang yang berbeda, sehingga semakin kuatnya bias atau pertentangan.

3. Misinformasi dan disinformasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa algoritma dapat menyebabkan pengguna secara tidak sengaja mengkonsumsi berita yang misinformasi dan disinformasi, terlebih lagi konten yang lebih menarik atau mengundang lebih banyak interaksi. Berita palsu atau informasi yang menyesatkan dapat menyebar dengan cepat dan membentuk persepsi yang salah dalam ruang lingkup publik.

4. Efek jangka panjang pada demokrasi. Polarisasi dan misinformasi yang dipicu oleh filter bubble dapat merusak diskursus publik dan mengganggu proses demokrasi. Dengan semakin sedikitnya dialog yang membangun antar kelompok dengan pandangan yang berbeda, akan menyebabkan masyarakat menjadi lebih terfragmentasi atau terpecah.

Besarnya pengaruh algoritma dan filter bubble dalam pembentukan persepsi masyarakat tentu patut untuk diwaspadai. Hal ini tidak hanya berdampak pada diri pengguna sendiri, tapi juga cakupan yang lebih besar. Pada dasarnya media sosial dan teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern yang tidak dapat dipisahkan lagi. Yang perlu kita lakukan adalah mengatasi dampak negatif yang mungkin ditimbulkan dengan cara:

Kesadaran dan pendidikan. Pentingnya kesadaran dan pemahaman pengguna terhadap filter bubble dan dampak yang ditimbulkan merupakan langkah pertama yang baik. Kemudian dilanjutkan dengan mendapatkan pendidikan terkait literasi media agar pengguna dapat mengenali bias dan mengevaluasi informasi secara kritis.

Diversifikasi sumber informasi. Mengarahkan pengguna untuk mengikuti berbagai sumber informasi dengan perspektif yang beragam, untuk memperluas pemahaman dan juga wawasan, serta mengurangi efek dari filter bubble.

Desain algoritma yang lebih baik. Platform media sosial dapat merancang algoritma yang belih transparan dan mempromosikan konten yang menantang dan menjadi bertolak belakang dengan pandangan pengguna, tidak hanya memberikan konten yang memperkuat pandangan pengguna saja.

Regulasi dan kebijakan. Pemerintah dan lembaga pengatur dapat menetapkan kebijakan yang mengharuskan transparansi algoritma dan melindungi pengguna dari dampak negatif filter bubble.

Yang paling penting dan harus kita lakukan untuk mengatasi dampak dari filter bubble adalah, dengan adanya kolaborasi usaha dari pengguna, platform media sosial, serta pembuat kebijakan untuk memastikan bahwa media sosial tetap menjadi ruang yang mendukung dialog terbuka.