Dibalik Stereotipe "Orang Tionghoa Selalu Kaya"

Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sarmila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Kalau orang Tionghoa mah pasti jago dagang.”
Kalimat semacam ini terdengar akrab di telinga kita. Diucapkan santai, sering kali tanpa niat buruk. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai pujian. Tapi benarkah stereotipe itu sesederhana itu?
Citra etnis Tionghoa sebagai kelompok yang selalu kaya dan pintar berbisnis telah lama hidup di tengah masyarakat Indonesia. Ia diwariskan dari obrolan keluarga, candaan tongkrongan, hingga narasi populer di media. Sayangnya, di balik label yang tampak positif itu, tersembunyi masalah yang jauh lebih kompleks.
Stereotipe ini seolah menempatkan seluruh etnis Tionghoa dalam satu kotak yang sama mapan secara ekonomi, lihai mengelola uang, dan selalu berada di posisi aman. Padahal, realitasnya jauh lebih beragam. Tidak semua orang Tionghoa adalah pengusaha sukses. Banyak yang hidup sederhana, menjadi buruh, karyawan biasa, bahkan berjuang dari hari ke hari untuk bertahan hidup. Namun cerita-cerita ini jarang mendapat ruang.
Masalahnya, ketika sebuah kelompok terus-menerus diasosiasikan dengan kekayaan, empati sosial perlahan menghilang. Ketimpangan yang dialami individu Tionghoa kerap dianggap tidak ada. Kesulitan ekonomi mereka sering kali diremehkan, seolah mustahil terjadi. Dalam situasi tertentu, stereotipe ini bahkan berubah menjadi alasan pembenaran atas kecemburuan sosial dan prasangka.
Lebih jauh lagi, stereotipe “kaya dan pintar berbisnis” juga menutupi sejarah panjang diskriminasi yang dialami etnis Tionghoa di Indonesia. Pembatasan ruang sosial, stigma sebagai “orang luar”, hingga trauma kolektif akibat kekerasan berbasis etnis tidak serta-merta hilang hanya karena label kaya dilekatkan. Ironisnya, stereotipe positif justru kerap digunakan untuk meniadakan pengalaman pahit tersebut.
Di era media sosial, stereotipe ini terus direproduksi dalam bentuk meme, lelucon, dan komentar ringan. Semakin sering diulang, semakin dianggap wajar. Padahal, pengotakan semacam ini baik positif maupun negatif tetaplah berbahaya. Ia menghilangkan identitas individu dan mereduksi manusia menjadi sekadar label budaya.
Mungkin sudah saatnya kita bertanya ulang, mengapa kita begitu nyaman menyederhanakan sebuah etnis ke dalam satu citra tunggal? Dan siapa yang sebenarnya diuntungkan dari stereotipe semacam ini?
Mematahkan stereotipe bukan soal menjadi terlalu sensitif, melainkan soal keberanian melihat manusia sebagai manusia dengan latar belakang, perjuangan, dan cerita hidup yang tidak pernah seragam.
