Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Butuh Imaji Pahlawan yang Baru

Sartana

Sartana

Dosen Psikologi Sosial di Departemen Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sartana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar dibuat penulis dengan aplikasi Canva
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dibuat penulis dengan aplikasi Canva

Kita semua diajarkan untuk menghormati para pahlawan. Di Indonesia, nama-nama besar seperti Diponegoro, Cut Nyak Dien, Sultan Hasanuddin, Kartini, dan Soedirman menghiasi dinding kelas, nama jalan, serta buku-buku sejarah. Mereka terus hidup dalam narasi kebangsaan sebagai simbol perjuangan, pengorbanan, dan kesetiaan.

Kisah pengorbanan mereka sudah akrab di telinga kita. Bagaimana mereka melawan penjajah, menghadapi penderitaan, ditangkap, dibuang, disiksa, bahkan kehilangan nyawa demi bangsa. Sebagai bangsa yang pernah dijajah, kita cenderung memaknai pahlawan sebagai sosok yang berjuang secara fisik. Pahlawan adalah mereka yang berani melawan penjajahan dan setia pada tanah air, bahkan hingga titik darah penghabisan.

Namun makna kepahlawanan di negara lain tidak selalu sama. Di beberapa negara yang dahulu menjadi penjajah dan kini dikenal sebagai negara maju, sosok pahlawan dibayangkan secara berbeda. Misalnya, di Amerika pahlawan bukan hanya simbol pengorbanan dalam peperangan, tetapi juga agen perubahan, penjelajah, ilmuwan, negarawan, atau pemikir yang dianggap mendorong kemajuan bangsa.

Mereka tidak selalu berasal dari medan perang, dan tidak selalu menjadi martir. Sebaliknya, banyak di antara mereka dihormati karena kontribusinya dalam memperluas pengaruh negara, membangun institusi, atau menggagas ide-ide besar yang membentuk masyarakat modern. Di negara-negara tersebut, pahlawan lebih sering diposisikan sebagai pelopor kemajuan daripada korban penindasan.

Dengan kata lain, di negara penjajah, pahlawan adalah lambang dominasi dan pencapaian. Sebaliknya, di negara bekas jajahan, pahlawan lebih sering menjadi simbol resistensi terhadap penindasan. Perbedaan ini bukan hanya soal sejarah, tetapi juga berpengaruh pada cara masyarakat membayangkan tindakan heroik dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaannya, sejauh mana cara kita membayangkan pahlawan memengaruhi cara kita hidup sebagai bangsa? Perbedaan narasi kepahlawanan antara negara penjajah dan negara bekas jajahan membentuk imaji heroik yang berbeda pada masyarakat masa kini.

Franco dan kolega (2011) menyebut imajinasi heroik sebagai seperangkat pola pikir dan sikap yang mendorong seseorang untuk bertindak heroik. Artinya, cara suatu bangsa memaknai pahlawan tidak hanya menentukan siapa yang dihormati, tetapi juga tindakan apa yang dianggap bermakna dan patut diteladani.

Di negara penjajah, imaji heroik dibentuk oleh narasi tentang ekspansi, penemuan, dan pencapaian. Pahlawan adalah mereka yang menjelajah wilayah asing, membuka jalur perdagangan, menciptakan institusi, atau memimpin revolusi intelektual. Keberanian dipahami sebagai kemampuan untuk melampaui batas, menciptakan hal baru, dan mengubah keadaan. Imajinasi semacam ini melahirkan etos kolektif yang aktif dan progresif. Pahlawan adalah pemimpin perubahan, bukan sekadar penanggung penderitaan.

Sebaliknya, di negara-negara bekas jajahan, imaji heroik sering kali dibentuk dari kisah penderitaan dan pengorbanan. Pahlawan dikenang karena ketabahannya menghadapi kekerasan, kesetiaannya pada bangsa, dan kerelaannya mati demi tanah air. Narasi ini menekankan keberanian sebagai kemampuan bertahan dalam luka, bukan sebagai dorongan untuk melampaui batas. Maka tidak mengherankan bila imaji heroik kita cenderung bersifat defensif.

Imajinasi tentang pahlawan semacam itu berdampak besar pada perilaku kolektif nasional. Ketika heroisme dimaknai sebagai keberanian mencipta dan berinovasi, masyarakat terdorong untuk aktif, kritis, dan proaktif dalam menjawab tantangan zaman. Sebaliknya, ketika heroisme dibatasi pada penderitaan dan loyalitas, masyarakat bisa terjebak dalam glorifikasi rasa sakit dan kesulitan membayangkan tindakan heroik dalam bentuk perubahan sosial yang kreatif.

Dampaknya terasa dalam jangka panjang. Negara berkembang sering kali menunjukkan bentuk kolektivisme yang berbasis ancaman. Kolektivisme semacam ini memang efektif dalam membangun kohesi sosial di masa krisis, tetapi kurang mendorong partisipasi sipil dalam isu-isu kontemporer. Sebaliknya, negara-negara Barat, dengan narasi pahlawan yang lebih plural dan dinamis, membangun individualisme sosial yang bertanggung jawab dan mendukung demokrasi deliberatif (Welzel dan Inglehart, 2010).

Maka menjadi penting bagi kita untuk merefleksikan kembali bagaimana pahlawan dibayangkan dalam kehidupan berbangsa. Imaji heroik bukan sekadar bagian dari sejarah, tetapi juga peta kultural yang membentuk arah gerak kolektif bangsa ke depan. Jika kita ingin membangun bangsa yang lebih berdaya cipta dan tangguh menghadapi tantangan, kita perlu memperluas narasi kepahlawanan agar tidak hanya berbicara tentang penderitaan, tetapi juga tentang keberanian untuk membangun dan mencipta.

Sartana, M.A.

Peneliti Psikologi Kebangsaan dan Pengajar di Departemen Psikologi FK Universitas Andalas