Konten dari Pengguna

Kurikulum Sudah Maju, Tapi Siswa Malah Tertekan? Tinjauan Psikologi Pendidikan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Siti Rihadatul aisy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hai Sobat Kumparan!! kalian tahu tidak kalau Perubahan kurikulum di Indonesia sering dipahami sebagai tanda bahwa pendidikan kita sedang bergerak maju. Konsep Merdeka Belajar, pembelajaran berbasis proyek, serta penguatan Profil Pelajar Pancasila terdengar segar dan penuh harapan. Namun, di balik semangat pembaruan itu, muncul pertanyaan penting: apakah kemajuan kurikulum benar-benar selaras dengan kondisi psikologis peserta didik?

ilustrasi gambar tentang Kurikulum Maju, Siswa Tertekan? Tinjauan Psikologi Pendidikan sumber dokumen : canva
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi gambar tentang Kurikulum Maju, Siswa Tertekan? Tinjauan Psikologi Pendidikan sumber dokumen : canva

Dalam perspektif psikologi pendidikan, belajar tidak hanya soal penguasaan materi. Proses belajar juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan mental, kondisi emosi, serta tahap perkembangan usia siswa. Ketika kurikulum menuntut siswa untuk aktif, kreatif, kritis, dan produktif secara bersamaan, tekanan psikologis berpotensi muncul, terutama jika lingkungan belajar belum sepenuhnya siap mendukung tuntutan tersebut.

Di sekolah, banyak siswa terlihat sangat sibuk. Jadwal yang padat, tugas proyek berlapis, presentasi berulang, serta penilaian berbasis capaian sering membuat siswa kewalahan. Padahal, sibuk belum tentu berarti belajar secara bermakna. Bagi siswa usia sekolah dasar dan menengah, kemampuan mengelola stres dan emosi masih berkembang. Jika tekanan akademik terlalu besar, dampaknya bisa berupa kelelahan mental, kecemasan, hingga menurunnya motivasi belajar.

Bayangkan seorang siswa SMP di sekolah pelaksana Kurikulum Merdeka. Awalnya ia bersemangat mengikuti proyek P5 bertema lingkungan. Namun seiring waktu, tugas menumpuk: observasi lapangan, kerja kelompok, presentasi, dan laporan panjang, sementara pelajaran lain tetap berjalan. Fasilitas terbatas, guru masih beradaptasi, dan orang tua menuntut hasil tinggi. Akhirnya, siswa merasa kewalahan, sulit tidur, semangat belajar menurun, bahkan muncul kecemasan. Situasi seperti ini bukan hal langka, terutama di sekolah dengan sumber daya terbatas.

Perlu dipahami, persoalan ini bukan terletak pada gagasan kurikulumnya. Secara konsep, Kurikulum Merdeka selaras dengan teori konstruktivisme yang mendorong siswa aktif membangun pengetahuan. Jika diterapkan dengan tepat, pendekatan ini dapat meningkatkan motivasi belajar dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Banyak siswa menjadi lebih berani bereksplorasi dan merasa belajar dekat dengan kehidupan nyata.

Namun, masalah muncul ketika penerapan kurikulum kurang mempertimbangkan aspek psikologis siswa. Setiap anak memiliki gaya belajar, kecepatan memahami materi, serta ketahanan mental yang berbeda. Kurikulum yang baik seharusnya memberi ruang bagi perbedaan tersebut, bukan menyeragamkan tuntutan atas nama kemajuan.

Di sisi lain, guru juga menghadapi tekanan yang tidak ringan. Perubahan kurikulum menuntut penyesuaian cepat, sementara pelatihan dan pendampingan sering kali belum maksimal. Ketika guru masih beradaptasi, pembelajaran di kelas berisiko berubah menjadi sekadar mengejar target, minim refleksi, dan kurang empati. Dampaknya, siswa tidak merasa aman dan dipahami dalam proses belajar.

Psikologi pendidikan menekankan bahwa pembelajaran yang sehat terjadi ketika siswa merasa aman, dihargai, dan didukung secara emosional. Kurikulum seharusnya menjadi sarana untuk menumbuhkan potensi anak, bukan menambah beban psikologis. Tanpa keseimbangan antara tuntutan akademik dan kesehatan mental, kemajuan kurikulum justru berisiko menghilangkan makna belajar itu sendiri.

Menurut saya, Kurikulum Merdeka memiliki potensi besar, tetapi perlu disesuaikan dengan realitas sekolah. Penguatan kapasitas guru, penyederhanaan proyek, fleksibilitas penilaian, serta perhatian serius pada kesehatan mental siswa harus menjadi prioritas. Evaluasi kurikulum tidak hanya perlu menanyakan apa yang harus dipelajari siswa, tetapi juga bagaimana kondisi psikologis mereka saat belajar.

Sebab, pendidikan yang benar-benar maju adalah pendidikan yang membuat siswa tumbuh dan berkembang secara sehat, bukan merasa tertekan.

Bagaimana pendapatmu, Sobat? Pernah melihat pengalaman serupa di sekitar kita? Yuk, berbagi di kolom komentar.