Manusia dibalik Organisasi & Investasi: Mengapa Keputusan Tidak Selalu Rasional?

Saya Mahasiswi Universitas Pamulang jurusan Manajemen keuangan
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Sasabilla Dwi Anjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita melihat seseorang mengambil keputusan hanya karena mengikuti teman-temannya? Di lingkungan kerja, seseorang mungkin memilih diam ketika tidak setuju dengan atasannya. Sementara itu, dalam dunia investasi, seseorang bisa membeli saham hanya karena sedang ramai dibicarakan atau menjualnya karena takut mengalami kerugian.
Jika diperhatikan, kedua kejadian tersebut memiliki kesamaan. Keputusan manusia tidak selalu didasarkan pada logika dan informasi yang tersedia. Ada emosi, pengalaman, lingkungan sosial, serta cara seseorang memahami suatu keadaan yang ikut memengaruhi pilihannya.
Hal ini menarik untuk dibahas karena manusia merupakan bagian penting dalam organisasi sekaligus pelaku utama dalam pengambilan keputusan ekonomi dan investasi. Memahami perilaku manusia dapat membantu kita melihat mengapa suatu keputusan terkadang berjalan sesuai harapan, tetapi pada kesempatan lain justru menimbulkan masalah.
________________________________________________________________________________
Manusia Bukan Sekadar Bagian dari Organisasi
Organisasi sering kali dipahami sebagai tempat berkumpulnya orang untuk mencapai tujuan bersama. Namun, menurut saya, organisasi bukan hanya tentang pembagian tugas, jabatan, dan target. Di dalamnya terdapat manusia dengan karakter, kebutuhan, pemikiran, dan kepentingan yang berbeda-beda.
Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menghadapi masalah. Ada karyawan yang mudah bekerja sama, ada yang lebih nyaman bekerja secara mandiri, dan ada pula yang membutuhkan arahan lebih jelas dari atasan. Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar karena manusia memiliki latar belakang dan pengalaman yang tidak sama.
Materi mengenai hakikat manusia dalam organisasi menjelaskan bahwa perilaku seseorang tidak dapat dilepaskan dari hubungannya dengan lingkungan sekitar. Artinya, tindakan seorang karyawan bukan hanya dipengaruhi oleh kepribadiannya, tetapi juga oleh suasana kerja, aturan, hubungan dengan rekan kerja, dan cara pemimpin memperlakukan anggota tim.
Sebagai contoh, karyawan yang awalnya rajin bisa kehilangan semangat ketika hasil kerjanya tidak pernah dihargai. Sebaliknya, lingkungan kerja yang mendukung dapat membuat seseorang lebih percaya diri dan termotivasi untuk memberikan hasil terbaik.
Karena itu, menurut saya, keberhasilan organisasi tidak cukup diukur dari tercapainya target. Cara organisasi memperlakukan manusia di dalamnya juga perlu diperhatikan. Target memang penting, tetapi manusia yang menjalankan proses untuk mencapai target tersebut tidak boleh diabaikan.
Mengapa Perilaku Manusia Memengaruhi Keberhasilan Organisasi?
Organisasi memiliki beberapa unsur penting, seperti manusia, tujuan, proses kerja, dan nilai atau filosofi yang menjadi pedoman. Unsur-unsur tersebut saling berhubungan sehingga tidak dapat berjalan secara terpisah.
Tujuan organisasi yang bagus tidak akan banyak berarti apabila orang-orang di dalamnya tidak memahami tanggung jawab masing-masing. Begitu juga dengan aturan kerja yang sudah dibuat secara terstruktur, hasilnya belum tentu maksimal jika komunikasi antaranggota tidak berjalan dengan baik.
Bayangkan sebuah toko yang memiliki target penjualan tinggi. Jika atasan hanya menuntut hasil tanpa memberikan arahan dan dukungan, karyawan mungkin merasa tertekan. Akibatnya, kerja sama menjadi kurang baik dan pelayanan kepada pelanggan ikut terganggu.
Sebaliknya, pemimpin yang mampu berkomunikasi dengan jelas, mendengarkan kendala karyawan, dan memberikan evaluasi secara adil dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.
Dalam memahami perilaku organisasi, beberapa bidang ilmu juga memiliki peran, seperti psikologi, sosiologi, antropologi, dan ilmu politik. Psikologi membantu menjelaskan perilaku individu, sedangkan sosiologi membahas hubungan antarmanusia dalam kelompok. Antropologi dapat membantu memahami pengaruh budaya, sementara ilmu politik berkaitan dengan kekuasaan dan pengaruh dalam organisasi.
Dari sini, saya melihat bahwa mengelola organisasi sebenarnya bukan sekadar mengatur pekerjaan. Ada proses memahami manusia, membangun komunikasi, dan mencari cara agar perbedaan karakter tidak menghambat tujuan bersama.
Dari Perilaku Organisasi ke Perilaku Investor
Pengaruh manusia terhadap keputusan ternyata tidak hanya terlihat di tempat kerja, tetapi juga dalam dunia investasi.
Dalam teori pasar efisien atau *Efficient Market Hypothesis* (EMH), harga aset di pasar mencerminkan informasi yang tersedia. Teori ini memiliki tiga bentuk utama, yaitu lemah, setengah kuat, dan kuat, yang membedakan jenis informasi yang dianggap tercermin dalam harga pasar.
Namun, dalam praktiknya, keputusan investor tidak selalu berlangsung secara rasional. Informasi yang sama dapat ditanggapi secara berbeda oleh setiap orang. Ada investor yang memilih menganalisis laporan keuangan terlebih dahulu, sementara investor lain lebih tertarik mengikuti tren atau pendapat orang-orang di sekitarnya.
Di sinilah keuangan perilaku atau *behavioral finance* menjadi relevan. Pendekatan ini membahas bagaimana faktor psikologis dan perilaku manusia memengaruhi keputusan keuangan.
Contohnya dapat dilihat ketika harga suatu saham meningkat dan ramai dibicarakan di media sosial. Sebagian orang mungkin langsung tertarik membeli karena takut kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan. Padahal, mereka belum tentu memahami kondisi perusahaan atau risiko investasinya.
Sebaliknya, ketika muncul kabar negatif, sebagian investor bisa langsung menjual asetnya karena panik. Keputusan tersebut terkadang diambil tanpa mempertimbangkan apakah informasi yang muncul benar-benar mengubah kondisi fundamental perusahaan.
Perilaku seperti ini menunjukkan bahwa informasi bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi keputusan. Cara manusia menafsirkan informasi juga memiliki peran besar.
Ketika Emosi Mengalahkan Logika dalam Investasi
Menurut saya, salah satu tantangan terbesar dalam berinvestasi adalah mengendalikan diri sendiri. Banyak orang menganggap bahwa mendapatkan keuntungan hanya bergantung pada kemampuan memilih aset yang tepat. Padahal, kemampuan mengelola emosi juga tidak kalah penting.
Ada dua perilaku yang sering menjadi contoh. Pertama, membeli aset hanya karena harganya sedang naik dan banyak orang membicarakannya. Kedua, menjual aset secara terburu-buru karena takut harga terus turun.
Kedua tindakan tersebut dapat dipengaruhi oleh emosi dan tekanan sosial. Seseorang mungkin merasa lebih aman mengikuti keputusan orang banyak daripada membuat keputusan berdasarkan analisis sendiri.
Padahal, keputusan mayoritas tidak selalu benar. Harga yang sedang naik belum tentu menunjukkan bahwa suatu aset memiliki prospek jangka panjang yang baik. Begitu pula penurunan harga tidak selalu berarti perusahaan kehilangan seluruh potensi pertumbuhannya.
Dalam materi keuangan perilaku, reaksi investor yang berlebihan terhadap berita positif maupun negatif menjadi salah satu contoh bahwa perilaku manusia dapat memengaruhi pergerakan harga pasar.
Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya bertanya, "Berapa keuntungan yang bisa saya dapatkan?" tetapi juga, "Apa alasan saya membeli aset ini?" dan "Apakah saya sudah memahami risikonya?"
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu seseorang menilai apakah keputusannya dibuat berdasarkan pertimbangan yang matang atau sekadar mengikuti suasana pasar.
Apa Hubungan Organisasi dengan Perilaku Keuangan?
Sekilas, perilaku organisasi dan perilaku investor terlihat seperti dua hal yang berbeda. Organisasi berhubungan dengan pekerjaan dan pencapaian tujuan, sedangkan investasi berkaitan dengan pengelolaan uang dan pencarian keuntungan.
Namun, keduanya memiliki persamaan, yaitu sama-sama melibatkan manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan dan informasi.
Di tempat kerja, seseorang bisa mengikuti pendapat kelompok karena tidak ingin berbeda dari rekan-rekannya. Dalam investasi, seseorang juga bisa mengikuti pilihan investor lain karena takut tertinggal peluang keuntungan.
Menurut saya, kebiasaan mengikuti orang lain sebenarnya tidak selalu buruk. Dalam kondisi tertentu, kita memang membutuhkan masukan dan pengalaman orang lain untuk membantu mengambil keputusan. Masalah muncul ketika kita mengikuti orang lain tanpa memahami alasan dan risikonya.
Seorang pemimpin, misalnya, tetap perlu mendengarkan pendapat anggota tim, tetapi keputusan akhir harus mempertimbangkan tujuan dan kondisi organisasi. Begitu pula investor yang boleh mempelajari pendapat orang lain, tetapi tetap perlu melakukan analisis sebelum menggunakan uangnya.
Dengan kata lain, lingkungan sosial dapat menjadi sumber informasi yang bermanfaat, tetapi tidak seharusnya menggantikan pertimbangan pribadi sepenuhnya.
Belajar Mengambil Keputusan dengan Lebih Bijak
Memahami perilaku manusia dapat menjadi langkah awal untuk memperbaiki cara mengambil keputusan, baik dalam organisasi maupun investasi.
Dalam organisasi, komunikasi terbuka perlu dibangun agar anggota tim merasa nyaman menyampaikan pendapat dan kendala. Pemimpin juga perlu memahami bahwa setiap orang memiliki kemampuan serta kebutuhan yang berbeda. Evaluasi sebaiknya dilakukan secara objektif agar karyawan mengetahui hal yang perlu diperbaiki.
Sementara itu, dalam investasi, seseorang perlu membiasakan diri memeriksa informasi sebelum mengambil keputusan. Memahami kondisi perusahaan, membaca laporan keuangan, menentukan tujuan investasi, dan mengenali kemampuan menanggung risiko merupakan langkah yang lebih baik daripada membeli aset hanya karena sedang populer.
Kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua keputusan akan menghasilkan sesuatu yang sesuai harapan. Hal terpenting adalah memiliki alasan yang jelas, mempertimbangkan risiko, dan bersedia mengevaluasi keputusan ketika terdapat informasi baru.
Pada akhirnya, keputusan yang baik bukan berarti keputusan yang selalu menghasilkan keuntungan atau selalu benar. Keputusan yang baik adalah keputusan yang dibuat melalui pertimbangan yang masuk akal, informasi yang memadai, serta kesadaran terhadap risiko yang mungkin muncul.
Penutup: Memahami Manusia Sebelum Mengambil Keputusan
Dari pembahasan mengenai perilaku organisasi dan keuangan perilaku, saya menyimpulkan bahwa manusia memiliki peran penting dalam menentukan hasil suatu keputusan. Lingkungan kerja, hubungan sosial, emosi, dan cara memahami informasi dapat memengaruhi tindakan seseorang.
Dalam organisasi, memahami manusia membantu membangun kerja sama dan meningkatkan efektivitas kerja. Dalam investasi, pemahaman terhadap perilaku manusia membantu investor menyadari bahwa keputusan yang terlihat meyakinkan belum tentu dibuat berdasarkan analisis yang tepat.
Menurut saya, kemampuan mengambil keputusan tidak cukup hanya dengan menguasai teori. Kita juga perlu mengenali diri sendiri, memahami pengaruh lingkungan, dan belajar mengendalikan emosi.
Sebab, baik dalam pekerjaan maupun investasi, tantangan sebenarnya bukan hanya menentukan pilihan yang tepat, tetapi juga memastikan bahwa pilihan tersebut dibuat dengan pertimbangan yang matang, bukan sekadar mengikuti keadaan atau orang lain.
