Konten dari Pengguna

Masalah Yang Harus Selesai di Serie A Untuk Bisa Berjaya Kembali di Eropa

Sasongko Dwi Saputro

Sasongko Dwi Saputro

Mahasiswa tingkat akhir Universitas Gadjah Mada, penggemar sepakbola, Barisan Sepertiga Malam buat nonton bola

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sasongko Dwi Saputro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kekalahan Lazio atas tim juara bertahan, Bayern Munchen, memastikan tidak ada satu tim Serie A yang tersisa musim ini di UEFA Champions League
zoom-in-whitePerbesar
Kekalahan Lazio atas tim juara bertahan, Bayern Munchen, memastikan tidak ada satu tim Serie A yang tersisa musim ini di UEFA Champions League

Serie A pada akhir 1980-an hingga awal 2000-an merupakan pusat persepakbolaan dunia, dimana talenta-talenta terbaik datang untuk meramaikan kompetisi level teratas di Italia. Namun semenjak kasus Calciopoli, Serie A kesulitan untuk kembali berprestasi di kancah Eropa. Sejak 2006, hanya dua piala Liga Champions Eropa yang mampir ke negeri Pizza, sedangkan di periode yang sama, hanya lima kali tim Italia menembus final di semua kompetisi Eropa (Liga Champions dan Liga Europa).

Internazionale Milan jadi tim terakhir Italia yang memenangkan gelar Liga Champions Eropa pada musim 2010, setelah itu baru tiga kali klub dari Italia yang lolos ke babak final semua kompetisi antar klub naungan UEFA
zoom-in-whitePerbesar
Internazionale Milan jadi tim terakhir Italia yang memenangkan gelar Liga Champions Eropa pada musim 2010, setelah itu baru tiga kali klub dari Italia yang lolos ke babak final semua kompetisi antar klub naungan UEFA

Ketidaklolosan empat perwakilan Italia dari babak 16 besar Liga Champions musim ini (Inter Milan sudah tersisih di babak penyisihan) menambah daftar panjang gagalnya Serie A bersaing di Eropa, kini harapan Italia tinggal di AC Milan dan AS Roma di babak 16 besar Europa League.

Faktor terbesar yang menyumbangkan kegagalan klub-klub Italia bersaing di kompetisi Eropa adalah kegagalan untuk beradaptasi dengan tuntutan industri sepakbola modern. Sepakbola Inggris telah merevolusi model bisnis mereka dengan memperkenalkan Premier League sebagai liga kasta tertinggi baru yang diadopsi dari model bisnis olahraga dari Amerika Serikat yang memperhatikan sekali aspek komersial dan hak siar internasional, khususnya untuk merebut pasar Asia, sehingga Premier League berani menyiarkan pertandingan pada jam 12 siang (early kickoff) di akhir pekan, sesuatu yang sampai saat ini sulit untuk direspon oleh Liga Italia.

Disisi lain, keterlambatan Liga Italia dalam menanggapi tuntutan industri ialah klub tidak mencoba untuk mengembangkan diri berdasarkan strategi bisnis modern, lihat saja pada awal 1990-an hingga awal 2000-an tidak ada satupun klub yang berinvestasi pada pengembangan fasilitas dan perekrutan pemain untuk jangka panjang. Contoh yang paling terlihat adalah baru empat klub yang memiliki stadion sendiri di Serie A yaitu Juventus, Sassuolo, Atalanta, dan Udinese.

Sebenarnya klub seperti AS Roma, Inter Milan, AC Milan, dan Fiorentina sudah merencanakan untuk membangun stadion sendiri, namun kesulitan birokrasi di Italia jadi tembok besar yang menghalangi keempatnya untuk mengembangkan proyek besar tersebut. Baru-baru ini, AS Roma sudah menghentikan proyek stadion baru yang sudah direncanakan sejak 2014, dikarenakan kekurangan dana dan tarik ulur antara pemerintah kota dan klub yang belum selesai.

Belum lagi sepakbola Italia hari ini juga pernah terguncang oleh skandal Calciopoli pada tahun 2006 yang melibatkan sejumlah klub, wasit, dan para pembesar klub, sehingga menurunkan daya tarik masyarakat internasional untuk menonton Serie A. Serie A tidak pernah melebihi rataan angka 26.000 penonton per laga yang hadir di stadion. Dampak lebih parah dari skandal tersebut ialah Serie A kini bukanlah liga yang safe secara bisnis sebagai tempat tujuan para miliarder super kaya untuk mengakuisisi klub-klub Serie A sebagai satu-satunya cara untuk dapat melesat dan mendapatkan modal untuk investasi di era industry sepakbola modern, sedangkan para miliarder super kaya lokal di masa lampau seperti Silvio Berlusconi dan Massimo Moratti mengalami penurunan akibat Krisis Moneter Eropa 2012.

Memang ada sejumlah miliarder seperti Dan Friedklin (AS Roma), Steven Zhang (Inter Milan), Yonghong Li (AC Milan), Rocco Comisso (Fiorentina), namun hal itu tidak menular ke berbagai klub lain di Serie A dan keempatnya bukanlah miliarder layaknya Syekh Mansour atau Roman Abramovich yang mau mengeluarkan dana tanpa batas untuk membangun klub. Yonghong Li bahkan membawa AC Milan menuju kebangkrutan, sehingga diambil alih paksa oleh Elliot Management.

Selain itu, budaya masyarakat di Italia yang terkenal dengan rasisme juga tidak diselesaikan secara serius oleh federasi sepakbola Italia. Kampanye anti-rasisme terakhir di Italia justru berakhir menjadi bumerang dan harapan kompetisi yang ramah untuk para pemain tersebut pupus. Keseriusan federasi untuk memerangi rasis di kompetisi sepakbola Italia, jadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, karena mengganggu citra kompetisi itu sendiri.

Seandainya saja soal-soal pokok seperti modal investasi dan uang untuk menguatkan tim terjawab melalui kehadiran para miliarder super kaya, maka akan sangat dapat menunjang kebutuhan taktik para pelatih asli Italia yang dikenal sangat bagus, namun mengalami keterbatasan dana untuk memperkuat tim dan menarik para pemain bintang untuk datang meramaikan Serie A. Tinggal yang jadi pekerjaan rumah ialah membangun mental pemenang untuk bertanding melawan para tim-tim elit Eropa seperti Real Madrid, Barcelona, Bayern Munchen, dan tim-tim besar liga Inggris.

Ciao………………………….

**Sasongko Dwi Saputro, mahasiswa tingkat akhir di Universitas Gadjah Mada, pengamat sepakbola