Konten dari Pengguna

Mengapa Banyak Orang Punya Ikatan Emosional dengan Karakter Anime

Muhammad Satria Miftahuddin Ariyanto

Muhammad Satria Miftahuddin Ariyanto

Seorang mahasiswa Universitas Pancasakti Tegal dengen menempuh jurusan akuntansi.

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Satria Miftahuddin Ariyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Anime Your Name. Foto: icosha/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anime Your Name. Foto: icosha/Shutterstock

Anime atau kartun Jepang saat ini sudah menyebar hampir ke seluruh dunia bahkan di Indonesia. Di Indonesia bahkan sudah terbilang cukup besar komunitas yang tersebar di media sosial berkaitan dengan anime. Anime sendiri memiliki daya tarik untuk membuat penontonnya agar bisa sangat mendalami ceritanya sehingga bisa mempengaruhi sisi emosional yang menonton.

Banyak di kalangan anak muda bahkan dewasa sekalipun masih sangat suka dengan anime. Bahkan beberapa di antaranya menganggap karakter yang ada di anime itu adalah pasangan hidupnya. Seperti contoh seorang pria Jepang bernama Akihiko Kondo yang menikahi karakter Vocaloid bernama Hatsune Miku di tahun 2018.

Dalam jurnal yang berjudul “Konsep Diri Pada Remaja Otaku” menyatakan bahwa karakter anime itu memfasilitasi resonansi emosional mendalam, yang artinya penonton akan merasa dirinya terhubung dengan karakter anime yang ditonton. Hal ini bisa disebabkan karena pengalaman pribadi seperti bullying, asmara, dan hal lain yang dikaitkan dengan kehidupan pribadi.

Karakter anime dalam game klasik sering kali membangun keterikatan emosional yang mendalam dengan para penggemarnya, bahkan hingga dewasa (sumber : https://unsplash.com/s/photos/anime ).

Banyak juga orang yang menonton anime karena dia merasa dunianya memang ada di situ. Mereka melarikan diri dari kenyataan dan menemukan dunianya di anime tersebut. Penelitian terkini menyimpulkan hal inilah yang menyebabkan perilaku seseorang menjadi isolatif dan antisosial.

Tidak sedikit orang juga menggunakan karakter anime sebagai roleplay di akun sosial medianya. Roleplay adalah melakukan peran atau menirukan suatu tindakan dan suatu keadaan (Rahayu:2019). Umumnya orang yang melakukan roleplay ini memiliki lebih dari satu akun media sosial, akun second inilah yang menjadi kepribadian lain bagi yang melakukan roleplay.

Ada berbagai sikap seseorang dalam menonton anime. Ada yang merasa kalau dia seakan-akan adalah karakter utama di suatu tempat, memperagakan hal yang sama seperti di anime dan merasa kalau karakter anime yang ditontonnya itu hidup dalam dunia imajinatifnya dan membayangkan karakter tersebut sebagai pasangan hidupnya.

Kedekatan emosional dengan karakter fiksi sering tercermin dalam ruang pribadi para penggemar anime (sumber : https://unsplash.com/s/photos/anime).

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa fanatisme terhadap anime bisa menyebabkan perilaku konsumtif meningkat. Seperti membeli figure, merchandise, dan hal fisik lainnya yang lekat dengan anime. Dalam game genre anime pun demikian, biasanya untuk mendapatkan suatu karakter perlu dilakukan gacha dalam nominal yang besar, dan hal itu membuat player ingin top up demi karakter yang disukainya.

Fenomena kecintaan terhadap anime bukan lagi sekadar hiburan, melainkan telah menjadi bagian dari identitas bagi sebagian individu, mulai dari emosional, imajinatif, dan pelarian. Akan tetapi, muncul pula dampak sosial dan psikologis yang perlu diperhatikan—seperti kecenderungan isolasi, perilaku konsumtif, dan identitas ganda di media sosial. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menempatkan anime pada posisi yang seimbang sebagai bentuk apresiasi budaya, namun tetap dengan kesadaran diri dan kontrol yang sehat dalam mengonsumsinya.