Konten dari Pengguna

KKN UNS Kenalkan Cara Mudah Kelola Food Waste Pakai Maggot di Pagerkidul

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Satu Asa Pagerkidul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana Jumát pagi (8/8) di Balai Desa Pagerkidul tampak lebih ramai dari biasanya. Warga berbondong-bondong datang, didominasi oleh Ibu-Ibu PKK serta Kader Posyandu. Bukan sekadar berkumpul, pagi itu mereka mengikuti program edukasi lingkungan dari Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNS Pagerkidul 253 2025 yang mengusung tema Foodwaste serta Pemanfaatan Maggot.

KKN 253 Pagerkidul Beserta Para Audiens (Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
KKN 253 Pagerkidul Beserta Para Audiens (Dokumentasi Pribadi)

Sejak awal, suasana dibuat akrab dan penuh semangat. Setelah doa bersama dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Ketua Pelaksana Program Kerja,

Wamiidh, memberi sambutan tentang alasan dipilihnya maggot sebagai topik utama. “Kami ingin mengenalkan cara sederhana tapi berdampak besar untuk mengelola sampah organik. Maggot bisa jadi solusi,” ujarnya.

Ketua Pelaksana Program Kerja Wamiidh Memberikan Kata Sambutan (Dokumentasi Pribadi)

Materi pertama dibawakan oleh Arvido, yang menjelaskan konsep dasar tentang sampah rumah tangga. Menurutnya, sekitar 60% sampah rumah tangga sebenarnya adalah sampah organik, seperti sisa makanan, sayur, dan buah. Jika dibiarkan menumpuk, sampah ini menimbulkan bau, mengundang lalat, bahkan mencemari lingkungan.

Pemaparan Materi Pertama oleh Anggota KKN 253 Pagerkidul yakni Arvido (Dokumentasi Pribadi)

“Food waste ini sering kita anggap sepele, padahal dampaknya besar. Sayang sekali ketika makanan yang seharusnya bisa dimanfaatkan justru berakhir di tempat sampah,” ujar Arvido di hadapan warga.

Tidak hanya membersihkan, hasil penguraian maggot bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang baik untuk tanaman.

Untuk menjaga suasana tetap hidup, sesi ice breaking mengajak warga bergerak bersama sambil tertawa ringan, sebelum masuk ke materi kedua.

Ice Breaking dengan Para Audiens yang Dipimpin oleh KKN 253 Pagerkidul (Dokumentasi Pribadi)

Wamiidh melanjutkan dengan penjelasan praktik pemeliharaan maggot. Ia menunjukkan bagaimana menyiapkan wadah sederhana, jenis sampah yang bisa diberikan, hingga cara memanen maggot. Salah satu hal yang menarik perhatian warga adalah manfaat ekonominya. Maggot tidak hanya bisa mengurai sampah, tapi juga menjadi pakan alternatif untuk ayam, ikan, dan burung, sehingga mengurangi biaya pakan ternak.

Pemaparan Materi Kedua oleh Anggota KKN 253 yakni Wamiidh Terkait Praktik Maggot (Dokumentasi Pribadi)
Audiens Disediakan Brosur Tata Cara Pemanfaatan Maggot (Dokumentasi Pribadi)

Sebagai bentuk apresiasi, warga yang hadir mendapatkan baby maggot untuk dipelihara di rumah. Sontak hadiah ini membuat banyak ibu-ibu tersenyum penasaran, bahkan ada yang langsung bertanya bagaimana cara merawatnya dengan benar.

Audiens Menerima Baby Maggot (Dokumentasi Pribadi)

Sesi tanya jawab menjadi penutup yang tak kalah seru. Banyak pertanyaan muncul, mulai dari “Apakah maggot berbau?” hingga “Apakah aman digunakan untuk pakan ikan lele?” Semua pertanyaan dijawab dengan sabar oleh tim KKN. Mereka menegaskan bahwa jika dirawat dengan benar, maggot tidak menimbulkan bau, justru membuat lingkungan lebih bersih.

Acara ditutup dengan dokumentasi bersama. Warga pulang sambil membawa ilmu baru, semangat untuk mencoba, dan tentu saja baby maggot yang akan menjadi “mitra kecil” mereka dalam mengelola sampah.

Audiens Menerima Baby Maggot (Dokumentasi Pribadi)

Dengan kegiatan ini, Pagerkidul bukan hanya belajar soal maggot, tapi juga belajar bahwa setiap sampah yang kita hasilkan bisa diubah menjadi manfaat jika dikelola dengan cara yang tepat.