KKN UNS Kenalkan Cara Mudah Kelola Food Waste Pakai Maggot di Pagerkidul

Di bawah naungan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Kelompok KKN 253 Satu Asa hadir di Pacitan, Jawa Timur, untuk mengabdi dan berbagi bersama masyarakat.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Satu Asa Pagerkidul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Suasana Jumát pagi (8/8) di Balai Desa Pagerkidul tampak lebih ramai dari biasanya. Warga berbondong-bondong datang, didominasi oleh Ibu-Ibu PKK serta Kader Posyandu. Bukan sekadar berkumpul, pagi itu mereka mengikuti program edukasi lingkungan dari Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNS Pagerkidul 253 2025 yang mengusung tema Foodwaste serta Pemanfaatan Maggot.

Sejak awal, suasana dibuat akrab dan penuh semangat. Setelah doa bersama dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Ketua Pelaksana Program Kerja,
Wamiidh, memberi sambutan tentang alasan dipilihnya maggot sebagai topik utama. “Kami ingin mengenalkan cara sederhana tapi berdampak besar untuk mengelola sampah organik. Maggot bisa jadi solusi,” ujarnya.
Materi pertama dibawakan oleh Arvido, yang menjelaskan konsep dasar tentang sampah rumah tangga. Menurutnya, sekitar 60% sampah rumah tangga sebenarnya adalah sampah organik, seperti sisa makanan, sayur, dan buah. Jika dibiarkan menumpuk, sampah ini menimbulkan bau, mengundang lalat, bahkan mencemari lingkungan.
“Food waste ini sering kita anggap sepele, padahal dampaknya besar. Sayang sekali ketika makanan yang seharusnya bisa dimanfaatkan justru berakhir di tempat sampah,” ujar Arvido di hadapan warga.
Tidak hanya membersihkan, hasil penguraian maggot bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang baik untuk tanaman.
Untuk menjaga suasana tetap hidup, sesi ice breaking mengajak warga bergerak bersama sambil tertawa ringan, sebelum masuk ke materi kedua.
Wamiidh melanjutkan dengan penjelasan praktik pemeliharaan maggot. Ia menunjukkan bagaimana menyiapkan wadah sederhana, jenis sampah yang bisa diberikan, hingga cara memanen maggot. Salah satu hal yang menarik perhatian warga adalah manfaat ekonominya. Maggot tidak hanya bisa mengurai sampah, tapi juga menjadi pakan alternatif untuk ayam, ikan, dan burung, sehingga mengurangi biaya pakan ternak.
Sebagai bentuk apresiasi, warga yang hadir mendapatkan baby maggot untuk dipelihara di rumah. Sontak hadiah ini membuat banyak ibu-ibu tersenyum penasaran, bahkan ada yang langsung bertanya bagaimana cara merawatnya dengan benar.
Sesi tanya jawab menjadi penutup yang tak kalah seru. Banyak pertanyaan muncul, mulai dari “Apakah maggot berbau?” hingga “Apakah aman digunakan untuk pakan ikan lele?” Semua pertanyaan dijawab dengan sabar oleh tim KKN. Mereka menegaskan bahwa jika dirawat dengan benar, maggot tidak menimbulkan bau, justru membuat lingkungan lebih bersih.
Acara ditutup dengan dokumentasi bersama. Warga pulang sambil membawa ilmu baru, semangat untuk mencoba, dan tentu saja baby maggot yang akan menjadi “mitra kecil” mereka dalam mengelola sampah.
Dengan kegiatan ini, Pagerkidul bukan hanya belajar soal maggot, tapi juga belajar bahwa setiap sampah yang kita hasilkan bisa diubah menjadi manfaat jika dikelola dengan cara yang tepat.
