Mahasiswa KKN UNDIP Tekankan Pentingnya Manajemen Kesehatan Ikan dalam Budidaya

Mahasiswa budidaya perikanan yang belajar menulis dan memiliki hobi memelihara ikan hias.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Satya Samiaji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Tambaksari, Kendal (23 Juni 2025) – Dalam upaya meningkatkan keberlanjutan budidaya perikanan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) melakukan sosialisasi mengenai manajemen kesehatan ikan kepada para pembudidaya di Desa Tambaksari, Kendal.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN-T Tim 38 yang diketuai oleh Dr. Ir. Diana Rachmawati, M.Si., dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) lainnya yaitu Faik Kurohman, S.Pi., M.Si., Adnan Fauzi, S.T., M.Kom., dan Dr. Putut Har Riyadi, S.Pi., M.Si. Salah satu anggota tim, Satya Samiaji dari jurusan Akuakultur, menjadi pelaksana dalam kegiatan ini.
Pilar utama dalam manajemen kesehatan ikan
Kegiatan ini dilaksanakan di BUMDes Desa Tambaksari dengan audiens pembudidaya ikan. Dalam sosialisasinya, mahasiswa menyampaikan pentingnya manajemen kesehatan ikan. Sosialisasi ini berfokus pada tiga pilar utama dalam kesehatan ikan yaitu: ikan, kualitas air, dan patogen. Disampaikan bahwa kerentanan ikan terhadap penyakit sangat dipengaruhi oleh sistem imun, kualitas air, dan keberadaan patogen seperti bakteri Aeromonas atau jamur Saprolegnia.
Pencegahan Lebih Baik Dilakukan Daripada Mengobati Ikan
Ditekankan pula pentingnya pemilihan benih yang sehat dan seragam, serta pengelolaan kolam yang benar seperti pengeringan kolam setelah panen, penggunaan sumber air bersih, dan menghindari pencampuran ikan dari sumber berbeda. Semua ini bertujuan untuk mencegah masuknya patogen seperti virus, bakteri, dan parasit yang menjadi penyebab utama penyakit ikan.
Pembudidaya tampak antusias mengikuti penjelasan yang disampaikan, bahkan aktif mengajukan pertanyaan seputar permasalahan kesehatan ikan yang mereka alami di kolam masing-masing. Beberapa di antaranya juga berbagi pengalaman lapangan, seperti cara mereka mengelola air atau mengenali tanda-tanda ikan sakit. Interaksi dua arah ini menciptakan suasana diskusi yang hidup dan edukatif. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya menjaga kesehatan ikan untuk mencegah kerugian dalam budidaya. Pembudidaya berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan agar ilmu yang diterima dapat langsung diterapkan dalam kegiatan budidaya sehari-hari.
