Ayam Hutan Hijau: Menyimpan Jejak Genetik Purba dan Hanya Ada di Indonesia!

Pelajar di SMA Talenta Bandung. Lebih 10 judul buku fiksi dan nonfiksi telah diterbitkan.Tulisan juga dimuat di Kumparan, Kompas Muda, GNFI, Jurnalis.org, Kompasiana, Indonesiana, Netralnews.com, dll. IG: @satya-rabani
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Fabian Satya Rabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia selalu memiliki kekayaan untuk memamerkan ragam hayatinya. Dari hutan hujan hingga savana pesisir, selalu ada spesies yang terasa seperti “rahasia besar” yang belum sepenuhnya dikenal publik luas. Salah satunya adalah ayam hutan hijau, burung liar eksotis yang hanya hidup alami di Indonesia.
Ayam hutan hijau bukan sekadar unggas liar biasa. Ia adalah simbol evolusi, sejarah domestikasi, dan identitas hayati Nusantara. Nama ilmiahnya Gallus varius, pertama kali dideskripsikan oleh George Shaw pada 1798 dalam literatur zoologi Eropa.
Dalam buku Evolution of Domesticated Animals (Clutton-Brock, 1999), genus Gallus disebut sebagai fondasi penting sejarah ayam dunia. Gallus varius menempati posisi unik karena merupakan spesies tertua dalam klade Gallus. Penelitian Eriksson dkk. dalam Nature Genetics berjudul Identification of the Yellow Skin Gene Reveals a Hybrid Origin of the Domestic Chicken (2008) juga membuktikan kontribusi genetik ayam hutan hijau dalam evolusi ayam domestik modern.
Ayam hutan hijau dikenal dengan banyak nama lokal. Di Sunda disebut canghegar atau cangehgar. Di Jawa dikenal sebagai ayam alas. Di Madura disebut ajem allas atau tarattah. Nama-nama ini menandakan kedekatan panjang antara manusia Nusantara dan spesies ini.
Burung ini endemik Indonesia. Persebarannya alami hanya di Pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Alor, dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Avibase dan iNaturalist mencatat bahwa tidak ada populasi alami Gallus varius di luar wilayah Indonesia.
Secara klasifikasi, ayam hutan hijau berada dalam Kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Aves, Ordo Galliformes, Famili Phasianidae, Genus Gallus, Spesies Gallus varius. Ia satu genus dengan ayam hutan merah, ayam hutan kelabu, dan ayam hutan Sri Lanka.
Tubuhnya ramping tetapi kuat. Jantan dewasa mencapai panjang sekitar 60 sampai 75 sentimeter. Betina lebih kecil, sekitar 40 sampai 45 sentimeter. Bobot jantan bisa mencapai 1,4 kilogram, sedangkan betina sekitar satu kilogram.
Ciri paling ikonik ada pada bulunya. Leher, tengkuk, dan mantel jantan berwarna hijau metalik dengan tepi kehitaman. Pola ini membentuk efek visual seperti sisik ikan. Inilah asal metafora “bulu seperti sisik ikan” yang sering disebut peneliti burung tropis.
Jengger jantan membulat tanpa gerigi. Warnanya merah dengan nuansa kebiruan di tengah. Kulit muka kebiruan, pial merah besar, dan jambul berwarna campuran merah, biru, kuning, serta ungu. Paruh abu-abu keputihan, iris mata merah, dan kaki kekuningan kemerahan.
Betina tampil lebih sederhana. Warnanya kuning kecokelatan dengan garis dan bintik hitam. Pola ini berfungsi sebagai kamuflase alami saat bersarang di tanah. Bulu betina lebih pendek dan tidak berkilau.
Habitatnya sangat khas. Ayam hutan hijau menyukai hutan terbuka, tepi hutan, savana berhutan, semak pesisir, dan bukit rendah dekat pantai. Di Jawa Barat ia ditemukan hingga 1.500 mdpl. Di Jawa Timur mencapai 3.000 mdpl. Di Lombok tercatat hingga 2.400 mdpl.
Pagi dan sore hari menjadi waktu aktif mencari makan. Siang hari dihabiskan berlindung di bawah tajuk hutan. Pola ini disebut sebagai crepuscular activity, menurut kajian ekologi unggas tropis dalam Avian Ecology karya Newton (1998).
Jejak Evolusi, Nama Lokal, dan Keunikan Genetik
Secara evolusioner, Gallus varius dianggap sebagai garis keturunan paling kuno dalam genus Gallus. Lawal dkk. dalam Genome Biology and Evolution berjudul The Wild Species Genome Ancestry of Domestic Chickens (2020) menyebut Gallus varius sebagai klade basal dalam pohon evolusi Gallus.
Artinya, ayam ini bukan hanya cantik, tetapi penting secara ilmiah. Ia menyimpan jejak genetik purba yang membantu ilmuwan memahami asal-usul ayam domestik. Ini menjadikannya spesies kunci dalam riset evolusi unggas Asia.
Ayam hutan hijau juga berperan dalam sejarah budaya. Di Jawa Timur, ia disilangkan dengan ayam kampung menghasilkan ayam bekisar. Bekisar dikenal karena suara kokoknya yang khas dan menjadi lambang fauna Provinsi Jawa Timur.
Proses hibridisasi ini dijelaskan dalam Nature Genetics (Eriksson dkk., 2008). Studi itu menunjukkan kontribusi gen Gallus varius dalam struktur genetik ayam domestik Asia Tenggara. Secara ilmiah, bekisar adalah bukti hidup interaksi genetika manusia dan alam.
Namun, hibridisasi juga membawa risiko. Penelitian konservasi genetik menyebut terjadinya genetic introgression yang dapat mengurangi kemurnian genetik Gallus varius. Inilah tantangan konservasi yang sering luput dari perhatian publik.
Morfologi, Perilaku, dan Pola Hidup Alami
Ayam hutan hijau adalah omnivora sejati. Makanannya meliputi biji-bijian, pucuk rumput, dedaunan, serangga, laba-laba, cacing, katak kecil, hingga kadal kecil. Pola makan ini menjadikannya pengendali alami populasi serangga.
Ia sering mencari makan di dekat kerbau, sapi, atau banteng. Perilaku ini disebut commensal foraging. Ia memanfaatkan serangga yang terusik dan sisa biji dalam kotoran herbivora.
Kelompoknya kecil, biasanya dua sampai tujuh ekor. Struktur sosial dipimpin jantan dominan. Pola ini konsisten dengan teori social dominance hierarchy pada unggas liar menurut Dawkins (2007).
Kemampuan terbangnya sangat baik. Anak ayam sudah mampu terbang dalam beberapa minggu. Dewasa bisa terbang vertikal hingga tujuh meter ke cabang pohon. Terbang mendatar bisa ratusan meter, bahkan antarpulau berdekatan.
Pada malam hari, mereka bertengger di bambu, perdu, atau daun palem hutan. Tingginya sekitar 1,5 sampai 4 meter dari tanah. Pola ini melindungi dari predator darat.
Reproduksinya berlangsung musiman. Di Jawa Barat antara Oktober dan November. Di Jawa Timur antara Maret dan Juli. Sarang dibuat sederhana di tanah berlapis rumput.
Telur berjumlah tiga sampai empat butir. Warnanya keputihan. Masa mengeram sekitar 20 sampai 21 hari. Anak mulai mandiri dalam beberapa bulan, tergantung tekanan predator dan lingkungan.
Umur hidup di alam liar sekitar lima sampai sepuluh tahun. Di penangkaran bisa lebih panjang. Umur siap reproduksi sekitar satu tahun.
Kokok jantannya khas. Suaranya sengau dan berlapis. Polanya kompleks dan terstruktur. Bioakustikanya bahkan menjadi objek riset perilaku unggas tropis.
Status Konservasi dan Tantangan Masa Depan
Menurut IUCN Red List versi 3.1, status konservasinya Risko Rendah atau Least Concern. Tetapi status ini tidak berarti aman. Populasi alaminya terfragmentasi.
Deforestasi, alih fungsi lahan, perburuan liar, dan hibridisasi menjadi ancaman nyata. Jawa sebagai pusat sebaran utama mengalami tekanan ekologi tertinggi di Indonesia.
Dalam laporan Biodiversity and Conservation in Southeast Asia (Sodhi et al., 2010), spesies endemik pulau memiliki risiko kepunahan lebih tinggi akibat fragmentasi habitat. Gallus varius masuk kategori ini.
Konservasi ayam hutan hijau bukan sekadar soal melindungi burung. Ia adalah upaya menjaga plasma nutfah, identitas genetik, dan sejarah evolusi unggas Nusantara. Ia adalah arsip hidup sejarah biologis Indonesia.
Keindahan bulunya bukan sekadar estetika. Pola sisik ikan adalah hasil seleksi alam jutaan tahun. Warna metalik itu berfungsi dalam seleksi seksual dan komunikasi visual.
Ayam hutan hijau adalah bukti bahwa Indonesia bukan hanya kaya spesies, tetapi kaya makna biologis. Ia bukan sekadar unggas liar. Ia adalah narasi evolusi, budaya, dan ilmu pengetahuan dalam satu tubuh kecil berkilau hijau.
Daftar Pustaka
Clutton-Brock, J. 1999. Evolution of Domesticated Animals. Cambridge University Press: Cambridge.
https://www.cambridge.org/core/books/evolution-of-domesticated-animals/
Eriksson, J., Larson, G., Gunnarsson, U., Bed’hom, B., Tixier-Boichard, M., Strömstedt, L., Wright, D., Jungerius, A., Vereijken, A., Randi, E., Jensen, P., Andersson, L. 2008. Identification of the Yellow Skin Gene Reveals a Hybrid Origin of the Domestic Chicken. Nature Genetics: London.
https://www.nature.com/articles/ng.2007.10
Lawal, R. A., Martin, S. H., Vanmechelen, K., Vereijken, A., Silva, P., Al-Atiyat, R. M., Wu, D. D., Zhang, Y. P., Hocking, P. M., Smith, J., Wragg, D. 2020. The Wild Species Genome Ancestry of Domestic Chickens. Genome Biology and Evolution: Oxford.
https://academic.oup.com/gbe/article/12/3/354/5728890
Sodhi, N. S., Brook, B. W., Bradshaw, C. J. A. 2010. Biodiversity and Conservation in Southeast Asia: Challenges in a Rapidly Changing Environment. Oxford University Press: Oxford.
https://global.oup.com/academic/product/biodiversity-and-conservation-in-southeast-asia-9780199554249
