Makanan Sintetis: Mengatasi Krisis Pangan Masa Depan?
Tulisan dari Fabian Satya Rabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Krisis pangan masa depan di sini tidak dimengerti sebagai dunia kehabisan makanan. Persoalannya bisa berupa makanan bergizi yang semakin sulit dijangkau masyarakat. Data FAO menunjukkan sekitar 645 juta orang mengalami kelaparan pada 2025. Sekitar 2,1 miliar orang juga mengalami kerawanan pangan sedang atau berat.
Hampir sepertiga penduduk dunia belum mampu membeli makanan sehat. Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan sekadar masalah produksi. Harga, distribusi, daya beli, gizi, dan ketahanan rantai pasok turut menentukan akses pangan.
Indonesia menghadapi persoalan serupa dengan karakter yang berbeda. FAO mencatat sekitar 43,5 persen penduduk Indonesia belum mampu membeli pola makan sehat. Angka tersebut setara dengan sekitar 123 juta orang.
Biaya pola makan sehat Indonesia mencapai sekitar 4,75 dolar PPP per orang setiap hari. Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produksi belum otomatis menjamin makanan bergizi terjangkau. Karena itu, teknologi pangan perlu dinilai berdasarkan manfaat sosialnya.
Salah satu teknologi yang mulai mendapat perhatian adalah makanan sintetis. Istilah tersebut mencakup berbagai pangan hasil proses bioteknologi terkendali. Teknologinya meliputi protein mikroba, precision fermentation, dan cultivated meat. Precision fermentation memanfaatkan mikroorganisme untuk menghasilkan protein atau bahan pangan tertentu. Cultivated meat menumbuhkan sel hewan dalam lingkungan yang dikendalikan. Malila dan kolega menjelaskan teknologi protein alternatif sebagai bagian penting perkembangan pangan masa depan. (Malila et al., Current Challenges of Alternative Proteins as Future Foods, 2024).
Namun, makanan sintetis belum otomatis menjadi pangan murah. Biaya produksi masih menjadi salah satu persoalan terbesar. Media pertumbuhan sel dapat menyumbang bagian besar biaya produksi. Quek dan kolega menunjukkan bahwa media bebas serum masih menjadi komponen biaya penting.
Artinya, tantangan utama industri bukan sekadar menghasilkan produk. Industri harus menemukan proses yang murah, aman, stabil, dan dapat diperbesar. (Quek et al., Exploring Cost Reduction Strategies for Serum Free Media Development, 2024).
Perkembangan penelitian menunjukkan peluang menurunkan biaya tersebut. Pasitka dan kolega mengembangkan produksi ayam kultivasi secara kontinu menggunakan media bebas komponen hewani. Sistem tersebut memungkinkan pertumbuhan sel dengan kepadatan tinggi dan pemanenan berulang.
Analisis mereka menunjukkan biaya produksi teoritis dapat mencapai sekitar 6,2 dolar per pon. Angka tersebut belum sama dengan harga jual konsumen. Namun, penelitian itu menunjukkan bahwa inovasi proses dapat meningkatkan kelayakan ekonomi. (Pasitka et al., Empirical Economic Analysis Shows Cost Effective Continuous Manufacturing, 2024).
Karena itu, makanan sintetis tidak harus diarahkan untuk menggantikan seluruh pertanian. Penggunaannya dapat dimulai dari kebutuhan yang paling sulit dipenuhi. Teknologi tersebut dapat menghasilkan protein untuk pangan bergizi berharga terjangkau. Produk tertentu juga dapat dikembangkan untuk daerah terpencil dan situasi bencana.
Produksi lokal berukuran kecil dapat mengurangi ketergantungan terhadap rantai distribusi panjang. Pendekatan tersebut menjadikan teknologi pangan sebagai instrumen ketahanan.
Indonesia memiliki peluang mengembangkan model tersebut melalui sumber daya lokal. Limbah pertanian tertentu dapat diteliti sebagai bahan baku proses fermentasi. Molases, hasil samping singkong, dan biomassa lainnya dapat menjadi kandidat bahan produksi.
Pemanfaatannya tentu membutuhkan penelitian keamanan dan efisiensi yang ketat. Tujuannya bukan mengubah seluruh limbah menjadi makanan. Tujuannya adalah menciptakan bahan baku bernilai tambah bagi industri bioteknologi.
Keamanan pangan menjadi syarat utama sebelum teknologi tersebut diterapkan secara luas. Produk baru membutuhkan pengujian komposisi, toksisitas, alergi, dan proses produksinya. Singapura telah menggunakan penilaian keamanan sebelum mengizinkan produk protein alternatif tertentu.
Amerika Serikat juga menerapkan proses evaluasi sebelum produk kultur sel dipasarkan. FDA dan Singapore Food Agency menempatkan keamanan sebagai bagian penting pengawasan pangan baru. (FDA, FDA Completes Second Pre-Market Consultation, 2023; SFA, Safety of Alternative Protein, 2026).
Indonesia juga mulai mempersiapkan kerangka menghadapi perkembangan tersebut. BPOM telah membahas cultivated meat sebagai bagian dari perkembangan novel food. Pembahasan mencakup keamanan, ekonomi, penerimaan masyarakat, dan aspek kehalalan.
Langkah tersebut penting karena inovasi pangan membutuhkan kepastian aturan. Regulasi juga harus cukup adaptif menghadapi teknologi yang terus berubah. (BPOM, Mitigasi dan Regulasi Novel Food atau Pangan Baru di Indonesia, 2024).
Persoalan berikutnya adalah risiko munculnya ketimpangan teknologi. Paten, fasilitas bioreaktor, dan bahan produksi membutuhkan modal besar. Jika teknologi hanya dikuasai perusahaan tertentu, harga pangan berpotensi tetap tinggi. Indonesia membutuhkan ekosistem inovasi yang melibatkan perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat.
Laboratorium bersama dapat membantu perusahaan rintisan mengembangkan teknologi tanpa investasi awal terlalu besar. Model tersebut dapat memperluas akses terhadap pengetahuan dan fasilitas penelitian.
Indonesia juga dapat mengembangkan pabrik pangan modular. Fasilitas berukuran lebih kecil dapat ditempatkan dekat pusat konsumsi. Sistem digital dapat memantau kualitas, suhu, kontaminasi, dan kebutuhan produksi secara real time.
Kecerdasan buatan dapat membantu mengoptimalkan formulasi berdasarkan kebutuhan gizi dan harga bahan. Produksi semacam itu berpotensi menjadi pelengkap sistem pangan konvensional. Teknologi juga dapat memperkuat ketahanan pangan di wilayah kepulauan.
Makanan sintetis bukan jawaban tunggal terhadap krisis pangan. Teknologi tersebut masih menghadapi persoalan biaya, energi, penerimaan masyarakat, dan skalabilitas. Goodwin dan kolega menempatkan kelayakan ekonomi sebagai tantangan penting cultivated meat.
Penelitian Pasitka menunjukkan bahwa inovasi proses dapat membuka peluang efisiensi baru. Dua temuan tersebut memperlihatkan bahwa masa depan teknologi masih berkembang. (Goodwin, Aimutis, dan Shirwaiker, A Scoping Review of Cultivated Meat Techno Economic Analyses, 2024).
Karena itu, pertanyaan penting bagi Indonesia bukan apakah makanan sintetis akan menggantikan pertanian. Pertanyaan yang lebih relevan adalah kapan teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat.
Jawabannya bergantung pada harga, keamanan, kebutuhan masyarakat, dan kemampuan produksi. Teknologi harus ditempatkan sebagai pelengkap, bukan penghapus sistem pangan yang sudah ada.
Jika riset, regulasi, dan inovasi berkembang bersama, makanan sintetis dapat menjadi cadangan strategis. Teknologi tersebut dapat membantu Indonesia menghadapi tekanan pangan tanpa meninggalkan prinsip keterjangkauan dan keamanan.

