Mengkaji Ulang Makna Sekolah dan Makna Belajar
Tulisan dari Fabian Satya Rabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan seorang anak datang ke sekolah setiap pagi, duduk di kelas, mendengarkan guru, mencatat, mengerjakan tugas, lalu pulang membawa sejumlah nilai. Rutinitas itu terlihat seperti pendidikan, tetapi belum tentu seluruhnya merupakan proses belajar. Di tengah banjir informasi dan kemunculan kecerdasan artifisial, pertanyaan tentang sekolah menjadi semakin mendasar: sebenarnya untuk apa sekolah dibutuhkan?
Pengetahuan kini dapat ditemukan dalam hitungan detik, tetapi kemampuan memahami, menilai, menghubungkan, dan menggunakan pengetahuan tetap membutuhkan proses yang tidak sederhana.
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena perdebatan pendidikan sering berhenti pada persoalan yang mudah dihitung. Kita berbicara tentang jumlah guru, ruang kelas, buku, perangkat digital, jaringan internet, dan anggaran pendidikan. Semua itu penting, terutama karena kondisi sekolah Indonesia masih belum seragam.
Badan Pusat Statistik melalui Statistik Pendidikan 2025 menunjukkan bahwa data pendidikan Indonesia masih menghadapi persoalan terkait ketersediaan dan kondisi ruang kelas, guru, serta sanitasi sekolah. Fakta tersebut menunjukkan bahwa pembenahan infrastruktur tetap diperlukan, tetapi gedung yang lebih baik belum otomatis menciptakan pembelajaran yang lebih baik.
Di sinilah makna sekolah perlu dilihat secara lebih luas. Sekolah bukan sekadar bangunan tempat anak bertemu guru selama beberapa jam setiap hari. Sekolah adalah ruang sosial tempat pengetahuan dipertemukan dengan pengalaman, pertanyaan, perbedaan pendapat, dan kehidupan nyata.
Persoalan itu dirumuskan dengan tepat: sekolah semestinya mengubah waktu yang dihabiskan siswa menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Persoalannya kemudian bukan hanya apakah anak bersekolah, tetapi apakah setelah bersekolah ia menjadi lebih mampu memahami dunia.
Sekolah Bukan Sekadar Tempat Bersekolah
Data PISA memberikan gambaran menarik tentang kualitas pengalaman siswa di ruang kelas. OECD dalam PISA 2022 Results: Indonesia mencatat hanya 57 persen siswa Indonesia yang mengatakan guru matematika menunjukkan perhatian terhadap pembelajaran setiap siswa.
Sebanyak 64 persen siswa mengatakan guru memberikan bantuan tambahan ketika diperlukan, sementara rata-rata OECD masing-masing mencapai 63 persen dan 70 persen. Angka itu tidak berarti guru Indonesia tidak bekerja dengan baik, tetapi menunjukkan bahwa kualitas interaksi pembelajaran masih menjadi persoalan penting.
Karena itu, gagasan tentang sekolah tidak cukup diselesaikan dengan menambah input pendidikan. Penelitian Steven G Rivkin, Eric A Hanushek, dan John F Kain dalam “Teachers, Schools, and Academic Achievement” (2005) menunjukkan bahwa kualitas guru berpengaruh kuat terhadap pencapaian akademik siswa. Penelitian tersebut bahkan menemukan bahwa peningkatan kualitas guru dapat memberikan manfaat lebih besar dibandingkan sekadar mengurangi ukuran kelas. Temuan itu menggeser perhatian dari pertanyaan “berapa banyak guru?” menuju pertanyaan “seberapa efektif pengalaman belajar yang mereka ciptakan?”. Sekolah yang memiliki fasilitas lengkap tetap dapat menghasilkan pembelajaran lama jika pedagoginya tidak berubah.
Perubahan itu sebenarnya sudah mulai masuk ke dalam kebijakan pendidikan Indonesia. Pendekatan Pembelajaran Mendalam menempatkan pengalaman belajar yang bermakna sebagai perhatian penting, bukan sekadar menambah materi atau mengganti nama kurikulum.
Dalam kerangka ini, siswa tidak berhenti pada kemampuan mengingat informasi, tetapi didorong menghubungkan konsep, memahami alasan, dan menggunakan pengetahuan. Pergeseran tersebut membuat sekolah lebih tepat dipahami sebagai ekosistem pembelajaran daripada pabrik penyelesaian kurikulum. Ukuran keberhasilan akhirnya tidak cukup berhenti pada berapa halaman yang selesai diajarkan.
Persoalan tersebut menjadi semakin nyata ketika teknologi masuk semakin jauh ke ruang kelas. Papan digital, platform pembelajaran, internet, dan kecerdasan artifisial menawarkan banyak kemungkinan, tetapi semuanya tetap bergantung pada cara teknologi digunakan.
UNESCO dalam Global Education Monitoring Report 2023: Technology in Education, A Tool on Whose Terms? menegaskan bahwa bukti kuat mengenai nilai tambah teknologi pendidikan masih terbatas.
Bahkan, UNESCO mengingatkan bahwa teknologi seharusnya melayani tujuan pendidikan dan menempatkan guru serta peserta didik sebagai pusat. Teknologi yang hanya menggantikan papan tulis dengan layar tidak otomatis mengubah kualitas pembelajaran.
Belajar Berarti Mampu Belajar
Di tengah perubahan tersebut, makna belajar juga perlu diperiksa kembali. Belajar bukan sekadar menerima penjelasan guru, menghafal materi, lalu mengulanginya dalam ujian. Belajar berarti mengalami perubahan dalam cara seseorang memahami masalah, menguji informasi, menemukan kesalahan, dan memperbaiki pemikirannya.
Education Endowment Foundation dalam Metacognition and Self-Regulation yang diperbarui pada 2025 merangkum 355 penelitian tentang strategi metakognisi dan regulasi diri. Fokusnya adalah kemampuan siswa merencanakan, memantau, dan mengevaluasi proses belajarnya sendiri.
Pandangan tersebut tidak membuat guru kehilangan peran. Justru sebaliknya, guru menjadi semakin penting karena mesin tidak otomatis mampu menentukan pengalaman belajar yang paling bermakna bagi setiap siswa.
Guru perlu mengetahui kapan harus menjelaskan, kapan harus bertanya, kapan memberikan bantuan, dan kapan membiarkan siswa berjuang menemukan jawabannya sendiri. Umpan balik juga menjadi bagian penting karena siswa membutuhkan informasi tentang apa yang sudah dipahami dan apa yang masih keliru. Dengan demikian, guru bukan sekadar penyampai jawaban, melainkan pengarah proses berpikir.
Konsekuensinya terlihat pada cara sekolah menggunakan waktu. Jika seluruh jam pelajaran dipenuhi ceramah, pencatatan, dan pengerjaan soal rutin, ruang untuk berpikir menjadi terbatas. Sebaliknya, pengetahuan inti dapat menjadi titik awal untuk berdiskusi, membaca kasus, melakukan eksperimen, menyelesaikan persoalan, membuat karya, dan mempertahankan alasan.
Pembelajaran semacam itu tidak selalu membutuhkan proyek besar atau perangkat mahal. Bahkan pertanyaan sederhana dapat menjadi pembelajaran mendalam jika siswa harus mencari bukti, membandingkan gagasan, dan menjelaskan alasan.
Kecerdasan artifisial membuat perubahan tersebut semakin mendesak. Ketika mesin mampu menghasilkan jawaban dengan cepat, kemampuan mencari informasi tidak lagi cukup menjadi ukuran utama kecakapan belajar. Siswa perlu mampu memeriksa apakah jawaban tersebut benar, masuk akal, relevan, memiliki bukti, dan sesuai konteks.
Di titik itu, sekolah memperoleh alasan baru untuk tetap penting. Sekolah bukan lagi tempat utama untuk memperoleh semua informasi, melainkan tempat manusia belajar menggunakan informasi secara bertanggung jawab.

