Konten dari Pengguna

Yang Penting Mudik!

Fabian Satya Rabani

Fabian Satya Rabani

Pelajar di SMA Talenta Bandung. Lebih 10 judul buku fiksi dan nonfiksi telah diterbitkan.Tulisan juga dimuat di Kumparan, Kompas Muda, GNFI, Jurnalis.org, Kompasiana, Indonesiana, Netralnews.com, dll. IG: @satya-rabani

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fabian Satya Rabani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebaran adalah soal pulang. Foto: ChatGPT Image.
zoom-in-whitePerbesar
Lebaran adalah soal pulang. Foto: ChatGPT Image.

Mudik selalu punya cara sendiri mengalahkan logika ekonomi. Harga cabai naik. Harga telur ikut menanjak. Tarif tol kadang membuat dompet meringis. Namun ketika Lebaran mendekat, banyak orang tetap berkata santai, “Yang penting mudik.”

Kalimat itu sering diucapkan dengan wajah riang. Ada yang mengucapkannya sambil menghitung sisa uang di dompet. Ada juga yang mengucapkannya sambil membuka aplikasi pinjaman. Namun satu hal pasti, semangat pulang kampung sulit dikalahkan. Mudik adalah peristiwa emosional sekaligus sosial yang sangat khas Indonesia.

Fenomena itu terlihat setiap tahun. Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, permintaan kebutuhan pokok melonjak tajam. Harga berbagai komoditas ikut bergerak naik. Cabai, bawang, telur, beras, dan minyak goreng menjadi langganan kenaikan harga.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan Februari 2026 mencapai 4,76 persen. Angka itu naik dari 3,55 persen pada Januari. Inflasi bulanan juga berubah dari deflasi minus 0,15 persen menjadi inflasi 0,68 persen. Data ini menunjukkan tekanan harga menjelang Ramadan semakin kuat.

Namun bagi banyak orang, inflasi sering kalah oleh rasa rindu. Rindu pada rumah masa kecil. Rindu pada suara ayam pagi hari. Rindu pada ibu yang selalu berkata, “Kamu kurusan.” Padahal berat badan sebenarnya naik lima kilogram.

Dalam ilmu ekonomi, kenaikan harga saat Ramadan memang sering terjadi. Permintaan masyarakat meningkat dalam waktu singkat. Distribusi logistik juga sering tidak mampu mengikuti lonjakan permintaan tersebut. Akibatnya harga di pasar melonjak lebih cepat.

Ekonom Faisal Basri pernah menjelaskan bahwa inflasi pangan Indonesia sangat sensitif terhadap gangguan distribusi. Produksi sering sebenarnya cukup. Namun distribusi antarwilayah tidak selalu berjalan lancer (Kompas, 21 April 2023).

Akibatnya muncul paradoks klasik. Petani menjual hasil panen dengan harga rendah. Konsumen membeli dengan harga tinggi. Selisih harga justru dinikmati oleh rantai perdagangan yang panjang. Namun bagi calon pemudik, persoalan itu kadang terasa jauh dari pikiran.

Sebab bagi sebagian orang, Lebaran adalah momen yang terlalu penting untuk dilewatkan. Mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Mudik adalah ritual sosial yang menyatukan keluarga besar. Orang rela menghadapi macet berjam-jam demi satu kata sederhana, pulang.

Survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pemudik 2026 sekitar 143,91 juta orang. Angka itu memang sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun jumlah tersebut tetap mencerminkan mobilitas sosial yang sangat besar.

Menariknya, sebagian orang sebenarnya tahu kondisi ekonomi sedang tidak terlalu ramah. Harga bahan pokok naik. Tarif transportasi ikut meningkat. Harga bahan bakar juga dipengaruhi ketegangan geopolitik global. Konflik di Timur Tengah sering berdampak pada harga energi dunia.

Ketika harga energi naik, biaya logistik ikut naik. Ongkos distribusi pangan juga bertambah mahal. Dalam negara kepulauan seperti Indonesia, efek ini terasa cepat. Namun pemudik tetap saja berangkat.

Mereka mungkin menghitung biaya perjalanan dengan teliti. Ada yang memutuskan naik kereta ekonomi. Ada yang memilih bus malam. Ada juga yang nekat naik motor dengan tiga tas besar. Rasionalitas ekonomi kadang kalah oleh rasionalitas hati.

Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, pernah menyebut mudik sebagai ritual sosial yang memperkuat identitas keluarga. Dalam tulisannya “Mudik sebagai Ritual Sosial”, Kompas, 10 Mei 2021, ia menjelaskan bahwa tradisi pulang kampung menciptakan rasa keterhubungan yang kuat. Orang merasa menjadi bagian dari jaringan keluarga yang lebih besar.

Karena itu, banyak orang menganggap biaya mudik sebagai investasi emosional. Istilahnya sederhana, uang bisa dicari lagi. Namun kesempatan berkumpul bersama keluarga belum tentu datang dua kali. Terutama bagi mereka yang orang tuanya sudah lanjut usia.

Namun mudik juga selalu membawa cerita komedi. Ada yang lupa membawa oleh-oleh. Ada yang membawa oleh-oleh terlalu banyak sampai koper tidak bisa ditutup. Ada juga yang baru sadar tiket pulang tertinggal di rumah kontrakan.

Cerita lain bahkan lebih klasik. Ada pemudik yang baru tiba di kampung halaman langsung ditanya tetangga, “Kapan nikah?” Pertanyaan itu sering lebih menegangkan dibanding harga cabai. Namun suasana Lebaran biasanya membuat semuanya terasa lebih ringan.

Pemerintah sendiri menghadapi tantangan besar setiap musim mudik. Pergerakan jutaan orang dalam waktu singkat membutuhkan koordinasi transportasi yang rapi. Pengalaman pahit kemacetan panjang di Brebes Timur pada 2016 menjadi pelajaran penting. Peristiwa itu bahkan menimbulkan korban jiwa.

Sejak saat itu pengelolaan arus mudik terus diperbaiki. Operasi Ketupat setiap tahun menjadi operasi nasional untuk menjaga kelancaran lalu lintas. Kepala Korps Lalu Lintas Polri Irjen Agus Suryonugroho menegaskan keselamatan pemudik adalah prioritas utama.

Statistik menunjukkan perbaikan signifikan. Data kepolisian mencatat kecelakaan lalu lintas selama Lebaran 2025 turun 31 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah korban meninggal juga turun lebih dari 50 persen. Ini menunjukkan pengelolaan mudik semakin baik.

Meski demikian, risiko tetap ada. Sepeda motor masih menjadi moda transportasi paling rawan. Data Korlantas Polri menunjukkan lebih dari 70 persen kecelakaan lalu lintas melibatkan kendaraan roda dua. Karena itu pemerintah terus mendorong penggunaan transportasi umum.

Namun realitas sosial sering berbeda. Banyak orang tetap memilih motor karena lebih murah. Ada juga yang memilih motor karena bisa berhenti kapan saja. Termasuk berhenti mendadak ketika melihat warung bakso di pinggir jalan.

Mudik memang tidak selalu rasional. Ia adalah campuran antara logika ekonomi dan kerinduan keluarga. Ia juga campuran antara perhitungan biaya dan kehangatan silaturahmi.

Karena itu setiap tahun orang tetap berangkat. Mereka membawa tas, koper, dan harapan sederhana. Harapan untuk bertemu orang tua. Harapan untuk makan opor ayam buatan ibu. Harapan untuk mendengar suara takbir di kampung halaman.

Inflasi boleh naik. Harga cabai boleh membuat dompet menangis. Namun semangat pulang kampung tetap bertahan. Sebab bagi banyak orang Indonesia, Lebaran bukan hanya soal ekonomi. Lebaran adalah soal pulang. Dan ketika hati sudah berkata pulang, satu kalimat sederhana selalu muncul. Yang penting mudik.