Konten dari Pengguna

Desa Budaya di Ujung Selatan Pekalongan

Syakirul Amin

Syakirul Amin

Saya merupakan seorang aktivis desa yang fokus menyuarakan dan mengembangkan desa

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syakirul Amin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gapuro desa Linggoasri, Sumber:https://jurnalpost.com/read/kerukunan-masyarakat-linggoasri-jadi-sorotan-satu-atap-namun-beda-agama/5951/
zoom-in-whitePerbesar
Gapuro desa Linggoasri, Sumber:https://jurnalpost.com/read/kerukunan-masyarakat-linggoasri-jadi-sorotan-satu-atap-namun-beda-agama/5951/

Linggoasri, merupakan sebuah Desa yang terletak di dataran tinggi Kecamatan Kajen Kabupaten Pekalongan, berada di ketinggian -+500 MPDl. Desa tersebut dikenal dengan keindahan dan sumber daya alam yang masih melimpah. Tak hanya itu saja, Desa Linggoasri juga terkenal dengan tradisi budaya yang masih melekat dalam diri masyarakat lokal.

Perpaduan antara budaya masyarakat Hindu dan Islam menjadi keunikan tersendiri bagi desa tersebut. Toleransi dan jiwa sosial yang tinggi telah tertanam pada masyarakat Desa Linggoasri sejak nenek moyang mereka.

“Kami masyarakat Linggoasri dari dulu itu sudah bisa menerima perbedaan, dari orang tua kami, leluhur kami, pendahulu-pendahulu kami semua itu sudah terbiasa dengan perbedaan. Jadi, perbedaan itu sudah menjadi kodrat hidup yang tidak bisa kita tolak,” ujar Taswono selaku pemangku adat Dukuh Linggo Desa Linggoasri.

Desa Linggoasri telah menjadi desa percontohan moderasi beragama dan sadar kerukunan. Ide tersebut digagas oleh Tim Pemberdayaan Masyarakat UIN Abdurrahman Wahid Pekalongan bersama Masyarakat Desa Linggoasri pada acara workshop dan FGD Moderasi beragama di Balai Desa Linggoasri 30 November 2022. Masyarakat Desa Linggoasri mayoritas memeluk Agama Islam, tetapi tidak sedikit pula masyarakat yang memeluk agama Hindu, Buddha, dan Kristen.

Terdapat salah satu Pura yang menjadi icon Desa Linggoasri adalah Pura Kalingga Satya Dharma, sebuah bangunan yang memang tidak terlalu besar, sekitar 25x25m luasnya. Pada dua sisi gapura diletakkan patung khas Bali. Setelah melewati gerbang, sentuhan budaya Jawa mulai terlihat.

Sebuah bangunan joglo, rumah khas Jawa, pendek memanjang, tempat sesaji ditaruh, berdiri di tengah Pura tersebut menjadi tempat suci bagi masyarakat penganut agama Hindu di desa tersebut. Ada juga Masjid At-Taqwa, sebuah masjid yang tidak jauh dari Pura Kalingga Satya Dharma. Adanya masjid tersebut menandakan masih kental-nya toleransi antar beragama di desa tersebut.

Tradisi Budaya di Desa Linggoasri juga masih lestari hingga sekarang ini, salah satunya tradisi Ogoh-ogoh. Tradisi tersebut merupakan ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala mempresentasikan kekuatan alam semesta (Butha) dan waktu (kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Biasanya diwujudkan dalam bentuk raksasa.

Selain wujud raksasa, Ogoh-ogoh biasanya digambarkan dengan makhluk-makhluk atau hewan yakni seperti gajah, kera, naga, dan sebagainya. Uniknya, bukan hanya masyarakat penganut agama Hindu saja yang merayakan tradisi ini, bahkan Remaja Masjid dan Banser NU setempat pun ikut memeriahkan Tradisi Ogoh-ogoh di Desa Linggoasri.

Ada juga Tradisi Gunungan Megono. Tradisi tersebut merupakan perayaan yang dilakukan umat Islam menyambut datangnya Bulan Syawal. Seperti namanya, tradisi ini menggunakan Gunungan Megono yang merupakan makanan olahan nasi dengan gori atau serat nangka yang sudah diberi bumbu dan ditumis sehingga memiliki rasa yang gurih dan nikmat. Lalu gunungan megono tersebut diarak beserta beberapa hasil bumi mengelilingi Desa Linggoasri.