Fenomena Flexing di Media Sosial dan Dampaknya Terhadap Keuangan Generasi Z

Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sausan Haifa Aryanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial telah mengubah Generasi Z membangun citra diri. Ukuran Keberhasilan tidak lagi dinilai dari kemampuan mengelola keuangan, tetapi dari apa yang ditampilkan di media sosial. Unggahan tentang barang bermerek, liburan mahal, dan gaya hidup mewah terus membanjiri berbagai platform digital. Kondisi tersebut melahirkan budaya flexing yang semakin dianggap wajar. Padahal, di balik tampilan tersebut terdapat risiko finansial yang sering kali tidak terlihat oleh publik.
Fenomena flexing banyak ditemukan pada media sosial seperti Instagram dan TikTok dalam beberapa tahun terakhir. Konten yang menampilkan kemewahan umumnya mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan konten edukatif. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa kelompok usia muda merupakan pengguna internet terbesar di Indonesia. Tingginya intensitas penggunaan media sosial membuat Generasi Z menjadi kelompok yang paling sering terpapar tren konsumsi digital. Tidak sedikit mahasiswa dan pekerja muda yang terdorong mengikuti gaya hidup tertentu demi memperoleh pengakuan sosial dari lingkungan sekitarnya.
Topik ini dipilih karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan perilaku sosial, tetapi juga menyentuh aspek keuangan pribadi. Generasi Z merupakan kelompok yang sedang memasuki usia produktif dan mulai membangun kemandirian finansial. Namun, keputusan keuangan sering dipengaruhi oleh dorongan untuk terlihat setara dengan orang lain. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kemampuan ekonomi dan pola pengeluaran. Perilaku konsumsi yang didasarkan pada gengsi berpotensi mengurangi kemampuan menabung, berinvestasi, dan menyusun perencanaan keuangan jangka panjang.
Masalah mendasar dari fenomena ini bukan terletak pada aktivitas membagikan kehidupan pribadi di media sosial. Masalah utama muncul ketika pengakuan sosial dijadikan tujuan utama dalam pengelolaan keuangan. Banyak Generasi Z membeli barang yang tidak dibutuhkan hanya untuk memperlihatkan kemewahan dalam hidupnya. Kontradiksi terlihat ketika sebagian generasi muda menampilkan gaya hidup mewah, tetapi pada saat yang sama mengandalkan fasilitas paylater atau kredit konsumtif. Keputusan tersebut mencerminkan pola pikir yang lebih berorientasi pada penampilan daripada kestabilan finansial. Akibatnya, risiko utang dan tekanan ekonomi menjadi semakin besar.
Masalah tersebut dapat dijelaskan melalui kecenderungan individu untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Paparan konten flexing yang berlangsung terus-menerus mendorong munculnya rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Kondisi ini menyebabkan keputusan konsumsi tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan pada keinginan untuk memperoleh validasi sosial. Fenomena penggunaan layanan paylater di kalangan anak muda menjadi contoh nyata. Kemudahan akses kredit memang membantu transaksi, tetapi dapat berubah menjadi beban ketika digunakan untuk memenuhi gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan ekonomi. Pada akhirnya, citra kemewahan yang ditampilkan di media sosial sering kali tidak mencerminkan kondisi keuangan yang sebenarnya.
Langkah yang perlu dilakukan adalah memperkuat literasi keuangan di kalangan Generasi Z. Pemahaman mengenai pengelolaan tentang tabungan, investasi, dan risiko utang yang perlu ditingkatkan sejak usia muda. Institusi pendidikan harus memasukkan edukasi keuangan dalam kegiatan pembelajaran. Generasi Z juga perlu membangun kesadaran bahwa keberhasilan finansial tidak ditentukan oleh jumlah barang yang dipamerkan, melainkan oleh kemampuan mengelola sumber daya secara bijak. Jika langkah tersebut diterapkan, Generasi Z dapat memanfaatkan media sosial secara lebih sehat tanpa terjebak dalam budaya flexing yang merugikan kondisi keuangan mereka di masa depan.
Budaya flexing telah membentuk pola konsumsi baru di kalangan Generasi Z. Keinginan memperoleh pengakuan sosial sering mendorong pengeluaran yang tidak sejalan dengan kemampuan finansial. Dampaknya terlihat pada meningkatnya perilaku konsumtif, rendahnya kebiasaan menabung, serta penggunaan kredit yang kurang terkendali. Oleh karena itu, literasi keuangan dan penggunaan media sosial yang lebih bijak perlu menjadi perhatian agar generasi muda mampu mencapai kesejahteraan finansial yang berkelanjutan.
