Keteguhan Ibu di Tengah Kehidupan yang Sibuk

Sausan Rofiqoh
I am a journalism and publishing student at Jakarta State Polytechnic.
Konten dari Pengguna
10 Juni 2024 18:25 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sausan Rofiqoh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Di tengah keramaian rumah kami yang tak pernah sepi, terletak sosok yang selalu menjadi pusat segalanya, ibu. Ia bagaikan rembulan di langit malam yang memberi cahaya, tanpa pernah mengeluh atau menuntut balasan. Ibu adalah pusat dari segala hiruk pikuk kehidupan ini, yang membuat segala sesuatu tetap berjalan meski dunia di sekelilingnya kadang terasa kacau dan tidak menentu.
ADVERTISEMENT
Pagi hari adalah momen paling sibuk di rumah kami. Dari pukul lima pagi, ibu sudah bangun, menyiapkan sarapan untuk kami semua. Saya masih sering terheran-heran bagaimana ia bisa bangun lebih awal daripada kami yang lebih muda dan seharusnya punya lebih banyak energi. Saat saya dan saudara-saudara masih terlelap, ibu sudah menyiapkan nasi goreng, telur dadar, dan susu hangat di meja makan. Semua dilakukan dengan penuh ketulusan, meski sering kali ia tidak sempat menikmati sarapannya sendiri.
Begitu anak-anak sudah berangkat sekolah dan ayah sudah pergi bekerja, rumah tak serta merta menjadi sunyi. Ada cucian yang menumpuk, lantai yang harus dipel, dan baju-baju yang harus disetrika. Ibu melakukan semua itu dengan cekatan. Tangannya seolah tak pernah lelah. Dalam keramaian rutinitas ini, ibu selalu menemukan cara untuk tetap tersenyum dan memberikan kehangatan bagi kami semua.
ADVERTISEMENT
Di sore hari, saat anak-anak pulang sekolah, ibu kembali disibukkan dengan membantu kami mengerjakan PR, menyiapkan makanan ringan, dan mendengarkan cerita-cerita kami tentang kejadian di sekolah. Saya masih ingat betul bagaimana ibu bisa membagi perhatiannya secara adil, tidak pernah ada satu pun dari kami yang merasa diabaikan atau kurang diperhatikan. Dalam hiruk pikuk itu, ibu selalu berhasil menciptakan suasana yang hangat dan penuh cinta.
Bukan sekali dua kali saya melihat ibu duduk terdiam di sudut ruang tamu, menatap jauh ke luar jendela. Wajahnya yang lelah namun tetap lembut membuat hati saya terenyuh. Ada beban yang ia pikul sendirian, beban yang mungkin tak pernah ia ceritakan kepada kami. Ketika ayah kehilangan pekerjaannya beberapa tahun lalu, ibu dengan tenang mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga. Ia mulai menerima pesanan kue dari tetangga sekitar, membuat dan mengantarkannya sendiri di sela-sela kesibukannya mengurus rumah.
ADVERTISEMENT
Ibu juga selalu mengajarkan kami untuk berbagi dan peduli terhadap sesama. Meski hidup kami tak selalu mudah, ibu tak pernah ragu untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Saya ingat suatu hari ketika ibu pulang dari pasar dengan membawa lebih banyak sayuran daripada biasanya. Ternyata, sebagian besar sayuran itu ia berikan kepada tetangga sebelah yang sedang kesulitan. “Mereka lebih membutuhkan daripada kita,” kata ibu dengan senyumnya yang menenangkan.
Kebesaran hati ibu adalah pelajaran hidup yang sangat berharga bagi saya. Ia selalu mengingatkan kami bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang apa yang bisa kita bagikan kepada orang lain. Dalam hiruk pikuk kehidupan yang penuh dengan persaingan dan egoisme, ibu adalah oase yang selalu memberikan kesegaran dengan ketulusan dan kebaikannya.
ADVERTISEMENT
Ibu tidak pernah membiarkan kami tumbuh menjadi anak-anak yang egois. Setiap kali kami menerima sesuatu, ibu selalu memastikan bahwa kami juga memberi. Ketika kami menerima baju baru, ibu akan mengajak kami memilih baju lama yang masih layak pakai untuk diberikan kepada anak-anak yang kurang beruntung. "Kita harus selalu bersyukur dan berbagi rejeki," katanya. Pesan ini begitu melekat di hati saya, menjadikan saya selalu ingat untuk berbagi meskipun saya sendiri tidak memiliki banyak.
Di balik kelembutannya, ibu menyimpan kekuatan yang luar biasa. Ketika saya menghadapi masalah atau merasa terpuruk, ibu selalu tahu cara menghibur dan memberikan semangat. Ia tidak hanya mendengarkan dengan sabar, tetapi juga memberikan nasihat yang bijak. “Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan,” katanya suatu ketika. “Selama kita mau berusaha dan berdoa, pasti ada jalan keluarnya.”
ADVERTISEMENT
Nasihat-nasihat ibu sering kali sederhana, tetapi penuh makna dan selalu memberikan ketenangan di hati. Saya belajar dari ibu bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa keras kita melawan, tetapi seberapa sabar dan tabah kita dalam menghadapi segala cobaan.
Ada saat di mana saya merasa sangat putus asa dengan nilai-nilai sekolah yang tidak memuaskan. Saya merasa bahwa semua usaha saya sia-sia dan tidak ada harapan untuk menjadi lebih baik. Ketika saya menceritakan hal ini kepada ibu, ia tidak marah atau mengejek. Sebaliknya, ia duduk di samping saya, mengusap punggung saya dengan lembut dan berkata, "Kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Jangan pernah berhenti mencoba. Ibu percaya kamu bisa."
Kata-kata itu menjadi kekuatan tersendiri bagi saya. Dari situ, saya belajar bahwa kekuatan bukan hanya tentang kemampuan fisik, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memberikan dukungan dan harapan kepada orang lain. Ibu mengajarkan saya untuk selalu berusaha dan tidak pernah menyerah, apapun rintangannya.
ADVERTISEMENT
Hiruk pikuk kehidupan akan terus bergulir, dan waktu akan terus berjalan. Namun, bagi saya, ibu adalah sosok yang akan selalu menjadi pilar yang kokoh di tengah segala kebisingan ini. Ia adalah cahaya yang tak pernah padam, meski kadang redup oleh lelah dan beban hidup. Ibu adalah inspirasi bagi saya untuk terus berjuang, berbuat baik, dan tidak pernah menyerah.
Dalam setiap detik hiruk pikuk kehidupan yang saya jalani, ada jejak ibu yang selalu menemani. Meskipun posisi saya sebagai anak membuat saya merasa lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang begitu mulia, saya tahu bahwa dari posisi ini, saya bisa belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Dan untuk itu, saya akan selalu bersyukur memiliki ibu sebagai pelita dalam hidup saya.
foto ilustrasi Ibu dan Anak (Foto: Shutterstock "Yuganov Konstanti")