kumparan
21 Agu 2018 12:22 WIB

Mempersiapkan Masa Depan Bagi Joni Pahlawan Cilik

Di tengah ingar-bingar Joni sang pahlawan cilik dari Belu, banyak pihak yang turut memikirkan mengenai masa depannya. Tidak kurang Presiden RI, Panglima TNI, Menpora, dan Pertamina, PLN serta Hotman Paris turut urun membantunya. Ada yang memberi beasiswa sampai S1, ada yang menjamin Ia diterima menjadi anggota TNI sesuai cita-citanya dan banyak lagi.
ADVERTISEMENT
Memikirkan hal ini penulis tertarik melihat bahwa nasib Joni kecil yang akan berkelindan dengan nasib bangsa pada 2030.
Mengapa 2030 penting? Tahun tersebut adalah tahun acuan tercapainya berbagai janji kejayaan nusantara. PricewaterhouseCoopers (PwC) memprediksi Indonesia pada tahun 2030 menjadi ekonomi peringkat Ke-5 terbesar di dunia (berdasar PDB).
Joni yang kelahiran 2004 akan berusia 26 tahun pada saat itu, setidaknya telah memasuki angkatan kerja produktif. Di tangan generasi ini gerak laju ekonomi dan perkembangan negeri akan diamanahkan.
Namun demikian, apakah kita siap memberi masa depan terbaik bagi Joni di 2030? Mari kita telaah bersama.
Janji Kejayaan 2030
Selain menjadi pertaruhan terbesar Joni setelah memanjat tiang menyelamatkan republik, jalan menuju tahun 2030 adalah pertaruhan kita semua.
ADVERTISEMENT
Dokumen Bank Dunia menyebutkan bahwa kita akan berhadapan dengan perangkap negara berpendapatan menengah (middle-income trap) jika kita ingin merengkuh janji kejayaan 2030.
Bagaimana caranya? Di antaranya adalah dengan fokus pada pola pertumbuhan ekonomi yang tinggi, setidaknya di atas 5% per tahun, dengan bersandarkan pada pendekatan pembangunan yang inklusif dan dengan faktor kunci produktivitas sumber daya manusia yang tinggi.
Target keluar dari middle-income trap ini juga direformulasikan dalam inisiatif Indonesia 4.0 dalam dokumen yang baru-baru ini dirilis oleh Kementerian Perindustrian yaitu target menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi dengan teknologi maju sebagai katalisator.
Hal ini akan dillakukan melalui rekalibrasi sektor perindustrian dengan memusatkan pertumbuhan pada beberapa industri unggulan seperti makanan, tekstil, otomotif, elektronik dan kimia. adalah target pencapaian Indonesia 4.0. Faktor enabler pada target ini
ADVERTISEMENT
Risiko jika kita tidak bertumbuh cukup cepat maka bonus demografi akan terlanjur menua berkonsekuensi pada kegagalan melampaui middle-income trap.
Bahasa pasarannya, kita akan menua sebelum kaya dan akan stagnan. Nasib Joni kecil akan suram.
Situasi Terkini di NTT
Namun jalan yang akan kita tempuh tidaklah mudah, utamanya jika kita fokus pada NTT, provinsi tempat Joni berdiam.
Banyak tantangan yang harus diselesaikan di sana untuk dapat menuai hasil pada 2030 dan juga meretas jalan yang baik bagi Joni. Hal yang saat ini tengah gencar dilakukan pemerintah adalah menggenjot pembangunan infrastruktur dan juga ketersediaan air. Namun ada hal lain yang harus juga diperhatikan.
Terkait hal tersebut, kondisi terkini di NTT sebenarnya cukup memprihatinkan. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa saat ini terdapat 1,13 juta penduduk miskin di NTT atau sekitar 21,38% dari jumlah penduduknya yang mencapai hampir 5,3 juta. Saat ini ia tercatat sebagai provinsi ketiga termiskin di Indonesia setelah Papua dan Papua Barat.
ADVERTISEMENT
Indikator lainnya adalah lebih dari 50% angkatan kerja produktif NTT dikuasai oleh masyarakat yang tidak bersekolah, tidak tamat SD dan hanya tamat SD. Sisanya tersebar di berbagai jenjang Pendidikan lainnya. Di level nasional keadaannya tidak lebih baik, sekitar hampir 60% dari angkatan kerja produktif di atas 15 tahun adalah mereka yang tidak bersekolah, tidak lulus sd, lulusan sd dan lulusan SMP.
Ini penting dicermati karena secara umum, tingkat pendidikan tenaga kerja dapat mencerminkan kualitas tenaga kerja.
Situasi ini sungguh tidak menguntungkan bagi upaya pencapaian target melampaui middle-income trap dan meraih Indonesia 4.0.
Kesemuanya mengerucut pada pentingnya pengembangan sumber daya manusia yang mumpuni. Ini dengan tidak semata fokus pada jumlah masyarakat yang mengenyam tingkat pendidikan, tapi juga pada ketersediaan keahlian/kecapakan (skill) dari setiap angkatan kerja.
ADVERTISEMENT
Dalam salah satu wawancara, Tim Cook, CEO Apple menyebutkan bahwa alasan utama Apple memindahkan manufaktur seluruh produknya ke Tiongkok bukanlah karena buruhnya yang murah. Lebih daripada itu, ketersediaan angkatan kerja dengan skill yang mumpuni menjadi alasannya. Ini adalah hasil pengembangan pendidikan yang berorientasikan skill, bukan gelar dan enrolment.
Urgensi pemenuhan kebutuhan ini sangat tinggi namun waktu yang tersedia tidak banyak. Kita hanya memiliki setidaknya 10 tahun untuk mengejar ketertinggalan. Ini menyulitkan mengingat perbaikan pada sistem pendidikan membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun.
Untuk itu, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah juga untuk di NTT guna meningkatkan kualitas angkatan kerja.
Pada jangka pendek-menengah, kita perlu tingkatkan peran sekolah vokasi atau Sekolah Menengah Kejuruan dengan fokus skill yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan pekerjaan. Selain itu, juga perlu digalakkan peran Balai Latihan Kerja guna meningkatkan kapasitas tenaga kerja yang telah terserap.
ADVERTISEMENT
Selain itu juga perlu terus didorong peningkatan kualitas infrastruktur pendidikan yang ditunjang oleh tenaga pendidik berkualitas. Dalam pertemuan dengan para Kepala Sekolah se-Kabupaten Belu, tema umum yang selalu dikeluhkan adalah kurang baiknya kualitas sarana belajar-mengajar, ketiadaan akses internet dan informasi serta kurangnya apresiasi terhadap tenaga bantu pendidikan.
Riak Kecil Harus Jadi Gelombang Perubahan
Seketika video Joni menjadi viral, tanpa sadar Ia telah bergabung dalam narasi gegap gempita namun hanya sementara. Istilah Bahasa Inggris untuk hal ini adalah ephemeral phenomenon.
(Foto: Peserta Sesdilu 61, Kemlu bersama Joni - Sumber: UPT Sesdilu, Kemlu)
Ini adalah kelebihan sekaligus kutukan era digital. Ganjaran yang diberikan budaya layar berujung pada popularitas instan yang ditandai dengan semakin cepatnya informasi berputar. Tentu saja ini berbanding terbalik dengan ingatan serta fokus manusia yang semakin rendah.
ADVERTISEMENT
Dalam hal ini, kita perlu memastikan keteladanan akan keberanian Joni kecil dapat menjadi momentum perhatian dan perbaikan nasib ratusan ribu kawan sebaya atau mungkin segenerasinya yang menginginkan kesempatan yang sama mendapatkan pendidikan yang layak.
Ia tidak boleh hanya menjadi riak kecil dan hilang begitu saja setelah terhempas ke tepian. Mari jangan kecilkan pengorbanan Joni hanya untuk jadi ajang popularitas. Joni dan seluruh pelajar serta anak-anak di Indonesia berhak atas kesempatan yang sama atas pendidikan.
Hanya dengan memperbaiki sistem pendidikan dan meningkatkan kualitas skill masyarakat maka kita akan raih kejayaan di 2030. Semoga kita mau dan mampu mencapainya demi kehidupan Joni dan bangsa Indonesia yang lebih baik. Mari berusaha!
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan