Ekonomi Makro Indonesia 2026 : Tahan Banting Ditengah Gejolak Global.

Mahasiswi Universitas Pamulang Fakultas Keguruan dan Ilmu Ekonomi FKIP Jurusan : Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Savita Rahma Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa Kabar 3 Pilar Makro Kita?
1. Pertumbuhan PDB 5,1%: Ditopang oleh konsumsi domestik yang masih menyumbang 54% PDB dan investasi dari hilirisasi nikel dan transisi energi. Ini sejalan dengan rumus keseimbangan ekonomi terbuka Y = C + I + G + (X-M).
2. Inflasi 2,8%: Mendekati target Bank Indonesia 2,5% ±1%. Kuncinya adalah sinergi TPIP/TPID dalam menjaga harga pangan. Tahun 2022 inflasi kita sempat 5,5%, sekarang turun konsisten.
3. Nilai Tukar Rp16.200/USD: Stabil berkat surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa US$145 Miliar.
Kebijakan di Balik Layar
Ketahanan ini tidak datang sendiri. Ada dua kebijakan makro yang bekerja:
- Kebijakan Moneter BI: Menjaga stabilitas moneter, sistem pembayaran, dan sistem keuangan. Suku bunga acuan BI-Rate dijaga untuk mengendalikan inflasi tanpa membunuh pertumbuhan.
- Kebijakan Fiskal Kemenkeu: APBN difokuskan untuk bantalan sosial dan pembangunan infrastruktur produktif untuk keluar dari middle income trap.
Dampaknya ke Kita Sebagai Masyarakat?
Secara makro mungkin terdengar jauh, tapi dampaknya nyata:
- Pengangguran turun ke 4,9% karena penciptaan lapangan kerja di sektor hilirisasi.
- Daya beli terjaga karena harga pangan stabil.
- UMKM diuntungkan oleh digitalisasi ekonomi.
Tantangan 2026 masih ada: risiko impor mahal dan perlambatan ekonomi China. Namun dengan fondasi konsumsi domestik yang kuat dan bauran kebijakan moneter-fiskal yang solid, ekonomi Indonesia punya modal untuk tumbuh berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.
