Konten dari Pengguna

Omong Kosong yang Berkedok Keaktifan Berpendapat

Bima Pakusadewa

Bima Pakusadewa

Sedang menempuh studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (Konsentrasi Konseling Islam) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 6 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bima Pakusadewa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini fikiranku sangat terganggu pada sebuah paradoks komunikasi, bagaimana panggung bicara semakin luas tapi pesan yang sampai justru semakin sempit. Di era ketika hampir semua orang memegang dengan mudah membawa mikrofon di podium formal, di dalam kelas kelas pendidikan, dalam toa aksi masa di jalanan, maupun kolom komentar di layar ponsel.

Di zaman ini kemampuan untuk memproduksi suara meningkat pesat, namun terjun bebas pada kualitas isi yang terkoneksi.

Jangan jangan, kita sekarang sebenarnya sedang mengalami krisis kualitas konten? Sayangnya fenomena ini seringkali tak kasatmata dan orang-orang jarang yang sadar karena tertutup oleh kemampuan retorika melenakan. Kita melihat diskusi tetap berjalan, forum di sana sini tetap saja ramai, dan angka partisipasi publik terlihat tinggi.

Orang-orang berbicara sangat panjang hanya untuk memastikan mereka terlihat. Demi eksistensi diri bukan untuk memastikan mereka dipahami.

Sumber : Gemini AI

Penyakit 1 : Orasi Berkedok Pertanyaan

Gejala ini adalah yang paling mengganggu ketika kita mengamati dengan jeli bagaimana sebuah forum intelektual bekerja belakangan ini. Penyakit komunikasi ini paling jelas terlihat dalam forum-forum intelektual atau acara resmi, seperti pada sebuah agenda yang digelar oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada Jumat, 13 Maret 2026 di Student Dormitory UMY. Begitu sesi tanya jawab dibuka, antusiasme peserta meledak puluhan tangan terangkat suasananya mendadak riuh, dan ketika mikrofon diberikan ternyata yang keluar dari mulut mereka malah sering kali bukan pertanyaan.

Beberapa penanya selalu mengawali pertanyaan dengan latar belakang yang terlalu luas dan bersebrangan dari konten pertanyaan mereka, sementara inti yang sebenarnya justru bahkan sangat singkat, dan isinya terlalu ringan. Okelahh.. kita bisa berdebat tentang kualitas dari pertanyaan, tapi untuk efektifitas dalam penyampaian pertanyaan kita bisa sepakat bahwa; langsung, relevan, dan tidak bertele-tele.

Setelah diperhatikan, timbul pertanyaan; seberapa banyak dari mereka yang benar-benar ingin bertanya? Banyak yang justru melakukan "orasi singkat" yang dipaksakan. Mereka berdiri, membacakan tulisan milik orang lain, menyitir kutipan tokoh antah-berantah, menggunakan kata kata rumit yang sebenarnya bisa disederhanakan, dan menutupnya dengan kalimat yang bercampur dengan bahasa asing agar lagi lagi; terdengar keren.

Aku meyakini, kualitas seseorang tercermin dari kemampuannya menyampaikan hal yang rumit menjadi sederhana, sukur sukur tanpa kehilangan makna.

Penyakit 2 : Peserta yang Ingin Lebih Eksis daripada Pemateri

Tidak kalah menyebalkan dari penyakit pertama, yaitu adalah jiwa narsistik peserta yang ingin terlihat lebih keren daripada pemateri utamanya.

Penyakit ini bisa kita temukan pada sebuah sesi pertanyaan. Alih-alih mencari tahu, yang terjadi justru rentetan bicara panjang lebar yang berputar-putar di mana si penanya malah ingin mengalahkan pematerinya sendiri demi sebuah validasi bahwa mereka pintar, keren, dan layak jadi pusat perhatian, sehingga pada titik ini forum diskusi berhenti menjadi ruang pertukaran gagasan dan berubah menjadi panggung eksistensi semata; tempat di mana si penanya sebenarnya tidak sedang berburu jawaban, melainkan hanya butuh panggung agar audiens tahu bahwa dia vokal dan ada di sana dalam sebuah monolog yang dilakukan bergantian, bukan lagi sebuah dialog yang tulus.

Beda lagi kasusnya jika di situ ada sesi jajak pendapat, dimana para peserta bisa bebas beretorika menyampaikan isi kepalanya. Biasanya ini terjadi pada setiap akhir bab penyampaian materi atau tergantung pada kebijakan masing masing pengisi acara. Kondisi ini tidak lagi melihat peserta sebagai orang yang ingin terlihat keren, karena jika argumenya kuat, idenya bagus, dan selaras dengan isi materi; maka setidaknya ada yang akan bersepakat bahwa kamu keren.

Penyakit 3: "Burung Beo Intelektual" Sang "Pengulang Kata" yang Handal.

Peserta yang hanya mengulang poin orang lain (atau pemateri) dengan kalimat yang dibedakan sedikit, hanya demi memegang mikrofon.

Penyakit ketiga ini adalah bentuk kemalasan berpikir yang dibungkus dengan keaktifan semu. Mari kita sebut ini sindrom "Beo Intelektual". Gejalanya mudah dikenali: seseorang angkat tangan, mengambil alih mikrofon, lalu memulai dengan kalimat, "Saya sangat sepakat dengan pemateri, saya hanya ingin menambahkan..." Namun, alih-alih memberikan perspektif baru, studi kasus, atau antitesis yang memperkaya diskusi, ia justru hanya mengulang poin yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Ia meminjam gagasan utama, membungkusnya dengan sinonim kata yang terkesan lebih rumit, lalu mengembalikannya ke forum seolah-olah itu adalah hasil pemikirannya sendiri. Keaktifan semacam ini tidak membawa diskusi bergerak maju satu sentimeter pun. Ini hanyalah ilusi partisipasi; sebuah usaha putus asa untuk ikut bersuara di tengah keramaian, meskipun sebenarnya tidak ada isi kepala yang benar-benar baru untuk ditawarkan.

Sumber : Gemini AI

Kebisingan yang Melelahkan

Dalam ilmu komunikasi, tumpukan kata yang tidak efektif ini kita kenal sebagai konsep noise (gangguan). Pada dewasa ini noise bukan lagi sekadar sinyal yang buruk di ponsel kita atau suara bising saat kita menelfon seseorang, melainkan polusi verbal yang diproduksi oleh ego manusia itu sendiri.

Ketika berbicara di depan umum sudah berubah menjadi sebuah performa penampilan, maka yang terjadi hanyalah transmisi kata-kata kosong saja.

Karena noise terbesar justru datang dari cara kita menyampaikan pesan dengan kalimat yang bertele-tele, ide yang tidak fokus, dan deretan kalimat panjang yang miskin substansi, jargon-jargon rumit yang diselipkan murni demi validasi intelektual, dan hasrat menggebu untuk terus berbicara tanpa niat sejati untuk mendengarkan atau bertukar pikiran. Kita terus-menerus memproduksi suara, namun gagal menciptakan resonansi.

Ternyata masalahnya bukan karena kita yang kekurangan pengetahuan, tapi karena kita terlalu terobsesi pada cara kita tampil saat bicara, sehingga lupa bahwa esensi dari berbicara adalah membuat orang lain mengerti.

Akibatnya sungguh ironis: makin banyak kata yang diucapkan, makin sedikit pesan yang sebenarnya bisa ditangkap oleh audiens. Forum yang seharusnya menjadi tempat bertemunya ide, malah berubah menjadi ruang hampa yang bising. Kita akhirnya benar-benar tenggelam dalam kebisingan yang kita ciptakan sendiri.

Sumber : Gemini AI

Berbicara dengan sadar, dan sadar saat berbicara

Pada akhirnya, kita perlu menyadari satu hal yang fundamental bahwa orang yang pintar beretorika di depan panggung itu tidak selalu equivalent dengan isi kepalanya.

Kebebasan berpendapat dan luasnya panggung diskusi hari ini seharusnya menjadi sarana untuk meruntuhkan ketidaktahuan, bukan malah beralih fungsi menjadi etalase untuk memamerkan ego pribadi.

Jika tujuan kita memegang mikrofon hanya untuk memastikan seluruh ruangan menatap kita; agar kita dinilai eksis, vokal, dan pintar, maka sesungguhnya kita telah gagal memahami esensi paling dasar dari komunikasi. Kita hanya sedang mendirikan monumen kesombongan di atas ruang dengar orang lain.

Sudah saatnya kita mengembalikan forum diskusi pada khitahnya, yaitu menjadi sebuah ruang dialog yang sehat di mana orang berbicara murni untuk membagikan isi kepala, bukan sekadar unjuk gigi, tampil dan memberi ego narsisisme mereka.

Terkadang, memilih untuk diam, menyimak dengan saksama, atau melontarkan satu pertanyaan pendek yang relevan, jauh lebih berkelas dan jauh lebih intelektual daripada memaksakan diri memproduksi deretan kata yang tak bermakna hanya demi kesempatan untuk berbicara di dalam forum.

Atau mungkin kita bisa mulai mencoba untuk lebih sering mendengar dan memahami, daripada banyak bicara tanpa esensi.