Konten dari Pengguna

Semangkuk Mie Ayam Dekat Kantor Baru

Mulki

Mulkiverified-green

wartawan kumparan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mulki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semangkuk Mie Ayam Dekat Kantor Baru
zoom-in-whitePerbesar

Soal perut memang merepotkan. Tak diberi makan ia meraung dan mengganggu kinerja otak. Diberi makan lebih ia memelar dan juga mengganggu kinerja otak, serba salah.

Tapi sudahlah, sebagian besar manusia memang tak cukup kuat melawan godaan untuk menyumpal mulutnya dengan makanan demi memuaskan nafsu perut.

Hanya orang-orang pilihan tuhan sajalah yang mampu dan rela menahan lapar. Entah demi mengikuti prinsip hati ataupun demi menjaga bentuk tubuh, apapun itu intinya mereka mampu menahan dorongan untuk makan atau jajan secara berlebihan.

Diriku, yang baru saja menjadi wartawan Kumparan, ternyata termasuk dalam golongan yang satunya lagi. Yang dengan sukarela  tunduk pada setiap keinginan perut.

Melihat diriku masak dan jajan makanan di tengah malam bukanlah hal aneh bagi orang-orang yang pernah berbagi atap denganku.

Kemampuan makan dengan cepatku pun cukup mumpuni. Suatu hal yang telah diakui oleh banyak orang, termasuk mentorku di Kumparan, Mbak Salmah.

"Udah selesai makannya?" katanya dengan ekspresi kaget di pantry kantor pada suatu siang.

Sayangnya kemampuan makanku yang luar biasa ini memiliki sebuah konsekuensi fatal bagi dompet abu-abu pemberian pacarku tujuh tahun lalu.

Dompetku yang malang ini sering kali kubawa pergi liputan kosong melompong demi mengekang nafsu jajanku yang luar biasa.

Tapi apa daya,  semua bentuk usahaku untuk mengurangi jajan hancur, runtuh berantakan akibat semangkuk mie ayam di sebuah warung sederhana tak jauh dari kantor.

Harganya tak mahal, hanya Rp 10 ribu permangkuk, Rp 13 ribu jika ingin ditambah dengan bakso. Tetapi rasa dan porsinya terbukti mampu menenangkan naga buas dalam perutku.

Tapi bagiku ada satu hal penting yang harus ditanyakan sebelum menobatkan warung mie ayam ini sebagai lokasi nomor satu saat sang naga kembali meraung.

"Pak di sini boleh ngerokok?" tanyaku setelah menghabiskan semangkuk mie ayam dan segelas es jeruk di warung mie ayam yang ternyata cukup ramai dikunjungi orang.

"Boleh mas," jawab si bapak penjual mie ayam.

Sebuah jawaban singkat yang memantapkan diriku untuk menjadikan warung mie ayam di pinggir jalan Jati Murni itu sebagai tempat makan favorit dekat markas baruku yang tak ramah rokok itu.