Konten dari Pengguna

Konsekuensi Menyebut Diri “Tidak Cukup”

Sayma Sholiha
Mahasiswi Institut Agama Islam SEBI
2 September 2025 16:47 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Konsekuensi Menyebut Diri “Tidak Cukup”
Menyebut diri tidak cukup adalah bentuk self-talk negatif.
Sayma Sholiha
Tulisan dari Sayma Sholiha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi orang dengan gangguan mental (Pexels.com/Daniel Rache)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang dengan gangguan mental (Pexels.com/Daniel Rache)
ADVERTISEMENT
Banyak orang terbiasa merendahkan diri dengan kalimat, “Aku nggak cukup baik”, “Aku belum pantas”, atau “Aku kurang pintar”. Meski terdengar sederhana, cara kita menyebut diri ternyata membawa dampak besar bagi pola pikir dan keseharian.
ADVERTISEMENT
Menurut psikolog kognitif, bahasa yang kita gunakan terhadap diri sendiri membentuk self-talk, yaitu dialog internal yang memengaruhi cara otak merespons tantangan (Peper et al., 2021, Frontiers in Psychology). Saat seseorang sering mengatakan “tidak cukup”, otak mulai mempercayainya sebagai kebenaran.
Konsekuensinya jelas: rasa percaya diri menurun, keputusan jadi ragu-ragu, dan peluang bisa terlewat. Penelitian dari University of Michigan (2013) menunjukkan bahwa individu dengan negative self-talk lebih rentan mengalami stres dan kecemasan dibanding mereka yang menggunakan bahasa positif.
Efek lain yang sering muncul adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Standar kesuksesan akhirnya bukan lagi tentang pencapaian pribadi, tapi seberapa “kalah” atau “menang” dari orang lain. Hal ini membuat rasa syukur semakin sulit hadir.
ADVERTISEMENT
Namun, kabar baiknya, cara kita menyebut diri bisa dilatih ulang. Alih-alih mengulang “tidak cukup”, coba gunakan kalimat yang lebih netral atau suportif, misalnya: “Aku masih belajar” atau “Aku sedang berkembang”. Dengan begitu, otak akan membangun asosiasi yang lebih sehat.
Pada akhirnya, kata-kata yang kita pilih bukan hanya sekadar ucapan, tapi juga cerminan bagaimana kita memperlakukan diri. Menyebut diri “tidak cukup” hanya akan mengurangi langkah kita, padahal setiap orang punya potensi untuk bertumbuh sesuai jalannya masing-masing.