Teori Lahirnya Pemimpin

Mahasiswa S1 Pendidikan Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Sayputra Lawu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026, perdebatan klasik tentang asal-usul kepemimpinan kembali menghangat di berbagai ruang publik Indonesia, mulai dari webinar organisasi kemahasiswaan, artikel opini di media massa, hingga obrolan panjang di kanal podcast. Pertanyaan “apakah pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk” bukan sekadar wacana akademis di ruang kuliah, melainkan menyentuh cara bangsa ini memilih, mendidik, dan mempersiapkan calon pemimpinnya di berbagai lini kehidupan, mulai dari pemerintahan, organisasi kepemudaan, hingga dunia usaha.
Ilmu kepemimpinan mengenal tiga teori utama mengenai sebab kemunculan seorang pemimpin. Teori genetik meyakini bahwa pemimpin tidak diciptakan melainkan dilahirkan, karena bakat kepemimpinannya telah dibawa sejak lahir dan bersifat given. Teori sosial berpandangan sebaliknya, bahwa setiap orang berpeluang menjadi pemimpin asalkan disiapkan, dididik, dan dibentuk melalui lingkungan serta kesempatan yang memadai. Sementara teori ekologik, yang muncul belakangan sebagai jalan tengah, menyatakan bahwa kepemimpinan yang berhasil lahir dari perpaduan bakat bawaan dengan pembinaan melalui pendidikan, latihan, dan pengalaman yang sesuai dengan tuntutan lingkungan tempat seseorang tumbuh.
Dukungan terhadap pandangan bahwa pemimpin dilahirkan tampak dari sejumlah kajian akademik maupun ulasan populer. Solikin, Fatchurahman, dan Supardi (2017) dalam artikel Pemimpin yang Melayani dalam Membangun Bangsa yang Mandiri menempatkan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, sebagai representasi Teori Kepemimpinan Sifat (Trait Theory) yang berakar dari tradisi Yunani Kuno dan Romawi, yakni pandangan bahwa pemimpin lahir dengan kualitas bawaan, bukan hasil tempaan pelatihan yang keras. Pandangan ini turut diperkuat oleh ulasan Krajan.id (2024) yang menelusuri Teori Orang Hebat (Great Man Theory) gagasan Thomas Carlyle, dengan mencontohkan tokoh-tokoh seperti Julius Caesar, Mahatma Gandhi, hingga Soekarno sebagai figur yang dianggap membawa kualitas kepemimpinan alami sejak lahir.
Namun demikian, sejumlah kajian mengingatkan bahwa keberhasilan seorang pemimpin tidak semata ditentukan oleh bakat bawaan. Sondang P. Siagian (1994), sebagaimana dikutip Muslim (2015) dalam ulasannya di Kompasiana, menyimpulkan bahwa seseorang hanya akan menjadi pemimpin yang efektif apabila bakat genetiknya dipupuk dan dikembangkan lewat kesempatan menduduki posisi kepemimpinan serta pengetahuan teoretikal yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan. Pandangan senada disampaikan pakar manajemen Warren Bennis, yang menyebut anggapan adanya faktor genetik dalam kepemimpinan sebagai mitos yang paling berbahaya, karena menurutnya kapasitas memimpin justru tumbuh lewat pendidikan dan pengalaman, bukan warisan darah.
Kritik terhadap pandangan bahwa kepemimpinan adalah bakat lahiriah semata juga muncul di ruang publik. Polemik ini mengemuka lewat webinar bertajuk “Pemimpin Dibentuk, Bukan Dilahirkan: Saatnya Mengasah Diri” yang digelar Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman pada 2 Juli 2025. Dalam sesinya, Dr. Gamal Albinsaid (2025) menegaskan bahwa kepemimpinan bukanlah bakat lahiriah, melainkan proses pembentukan dan pengujian yang berkelanjutan, sebagaimana ia buktikan lewat inisiatif sosial “Malang Cerdas” yang digagasnya.
Menanggapi pandangan yang menekankan pembentukan semata, sejumlah penulis mengingatkan bahwa dikotomi dilahirkan-dibentuk berisiko menyederhanakan persoalan. Widasari (2024) dalam ulasannya di Kompasiana berjudul Pemimpin Dilahirkan, tetapi Kepemimpinan Dibentuk berpendapat bahwa kompetensi kepemimpinan tidak dapat diperoleh dengan sendirinya, sehingga bakat dasar tetaplah modal awal yang perlu dibangun lebih lanjut menjadi kapabilitas kepemimpinan yang nyata. Pandangan serupa disuarakan NU Online Lampung (2025), yang menegaskan bahwa setiap manusia pada dasarnya adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri, namun kualitas kepemimpinan itu perlu terus dipupuk oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Perdebatan mengenai asal-usul kepemimpinan ini juga banyak diurai secara terbuka lewat ruang podcast, yang di Indonesia semakin menjadi kanal deliberasi publik untuk isu kepemimpinan nasional. Panuju (2023) dalam kajiannya tentang podcast politik Indonesia mencatat bagaimana sejumlah kanal yang dipandu figur publik seperti Refly Harun, Helmy Yahya, dan Akbar Faisal ramai membahas sosok calon pemimpin bangsa lewat wawancara mendalam bersama akademisi, politisi, dan budayawan. Sementara itu, kajian pada Jourmics: Journal of Media and Communication Studies (2025) tentang podcast kepemimpinan ideal Indonesia menemukan bahwa dialog panjang antarnarasumber, mulai dari perbandingan narasi resmi dengan kritik tajam hingga pembahasan implementasi kepemimpinan yang membumi, memperluas ruang deliberatif publik sekaligus menjadikan kritik sosial sebagai mekanisme kontrol terhadap kualitas pemimpin.
Menurut Penulis, teori genetik dan teori sosial sesungguhnya bukan dua kutub yang harus dipertentangkan, melainkan dua sisi yang saling melengkapi dalam menjelaskan lahirnya seorang pemimpin. Namun, keberhasilan seorang pemimpin tidak boleh diukur semata dari karisma bawaan atau banyaknya pelatihan kepemimpinan yang pernah diikutinya. Selama sistem pendidikan dan seleksi pemimpin publik lebih menonjolkan citra dan ketokohan instan dibanding pembinaan kompetensi yang konsisten dan terstruktur, teori kelahiran pemimpin manapun berisiko berhenti menjadi jargon tanpa transformasi nyata pada kualitas kepemimpinan itu sendiri.
Hal ini sejalan dengan Teori Sifat (Trait Theory) yang menjelaskan bahwa kualitas kepribadian tertentu, seperti keberanian, kecerdasan, dan rasa tanggung jawab, memang menjadi modal dasar yang membedakan calon pemimpin efektif dari yang lain. Namun, modal dasar tersebut hanya akan teraktualisasi bila diperkuat oleh lingkungan yang mendukung, sebagaimana dijelaskan Teori Ekologis dari perspektif ekologi perkembangan Urie Bronfenbrenner yang dikaji Suherni, Zohriah, dan Fauzi (2023). Menurut kajian tersebut, kemampuan memimpin yang sudah dibawa sejak lahir perlu terus diperkuat melalui lapisan-lapisan lingkungan tempat seseorang tumbuh, mulai dari keluarga, institusi pendidikan, hingga sistem sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap program pembentukan calon pemimpin, baik di lembaga pendidikan, organisasi, maupun politik, perlu memperhatikan baik seleksi bakat dasar maupun konsistensi pembinaan lingkungan, agar kepemimpinan yang lahir benar-benar berdampak bagi masyarakat yang dipimpinnya.
Referensi:
Muslim, A. (2015). Pemimpin Itu Dilahirkan Atau Dijadikan?. Kompasiana.
Solikin, A., Fatchurahman, M., & Supardi, S. (2017). Pemimpin yang Melayani dalam Membangun Bangsa yang Mandiri. Anterior Jurnal, 16(2), 90–103.
Krajan.id. (2024). Benarkah Pemimpin Dilahirkan?
Suherni, E., Zohriah, A., & Fauzi, A. (2023). Analisis Teori Kepemimpinan Genetik, Sosial dan Ekologis Pada Kajian Manajemen Pendidikan Islam. Journal on Education, 5(4), 15652–15661.
Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman. (2025). Dr. Gamal Albinsaid: Kepemimpinan Dibentuk, Bukan Dilahirkan.
Widasari, L. (2024). Pemimpin Dilahirkan, tetapi Kepemimpinan Dibentuk. Kompasiana.
NU Online Lampung. (2025). Pemimpin Itu Dilahirkan, tapi Kepemimpinan Dibentuk.
Indonesiana.id. Pemimpin Dibentuk, Bukan Dilahirkan.
Panuju, R. (2023). Podcast Politik Indonesia: Upaya Mencari Calon Presiden Indonesia 2024. Jurnal Komunikasi Nusantara, 5(1), 53–66.
Jourmics: Journal of Media and Communication Studies. (2025). Podcast with Ideal Indonesian Leader: A Critical Analysis of the Role of Podcast as a Channel for Freedom of Expression. Vol. 4, No. 1, 64–81.
https://www.kompasiana.com/abdulmuslim80/54f7a23aa33311a3738b492d/pemimpin-itu-dilahirkan-atau-dijadikan
https://journal.umpr.ac.id/index.php/anterior/article/view/41
https://www.krajan.id/benarkah-pemimpin-dilahirkan/
https://jonedu.org/index.php/joe/article/view/2675
https://www.ppiyaman.org/2025/07/dr-gamal-albinsaid-kepemimpinan.htm
https://www.kompasiana.com/lucywidasari7686/65f38694c57afb695e765072/pemimpin-dilahirkan-tetapi-kepemimpinan-dibentuk
https://lampung.nu.or.id/warta/pemimpin-itu-dilahirkan-tapi-kepemimpinan-dibentuk-45i0l
https://www.indonesiana.id/read/163743/pemimpin-dibentuk-bukan-dilahirkan
https://jkn.unitri.ac.id/index.php/jkn/article/download/222/93
https://ejurnal.iainpare.ac.id/index.php/jourmics/article/view/15505
