Konten dari Pengguna

Muludan di Bonang: Merawat Spiritualitas dalam Arus Modernisasi Seremonial

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sayyidah Syarifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi Masjid (sumber: https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi Masjid (sumber: https://pixabay.com/id/)

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah dan dirayakan oleh masyarakat Muslim di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal yang menarik, Arab Saudi menjadi satu-satunya negara dengan mayoritas Muslim yang tidak menetapkan Maulid Nabi sebagai hari libur nasional. Hal ini disebabkan oleh mayoritas Muslim Arab Saudi yang dominan menganut paham Wahabi termasuk kelompok Salafi dan mereka yang memiliki pemahaman serupa dengan Taliban. Dalam pandangan mereka, perayaan Maulid Nabi dianggap sebagai sebuah bid’ah atau hal yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Tentu saja, para pendukung perayaan Maulid Nabi SAW tidak serta-merta menerima tuduhan sebagai pelaku bid’ah. Dalam pandangan mereka, bid’ah hanya terbatas pada ibadah mahdhah, bukan pada aspek sosial kemasyarakatan atau urusan muamalah. Maulid Nabi merupakan tradisi yang sejak lama ada dan berkembang di masyarakat Islam beberapa waktu setelah Nabi Muhammad wafat. Menurut Sri Isnani (2022), penyebaran tradisi Maulid di Indonesia erat kaitannya dengan peran para sufi yang memperkenalkan Islam melalui pendekatan budaya lokal. Karena itu, banyak praktik keagamaan di Nusantara mencerminkan warisan spiritual yang mereka bawa, meski telah mengalami penyesuaian dengan budaya setempat.

Maulid Nabi merupakan salah satu tradisi yang sangat familiar di tanah jawa, khususnya daerah kelahiran saya di Desa Bonang Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang, di mana Maulid Nabi sering dinamakan Muludan karena acara peringatan hari lahir Nabi Muhammad Saw bertepatan di bulan mulud atau maulud pada penanggalan Jawa dan Rabiul Awal pada penanggalan bulan Hijriyah. Muludan sering dijadikan ajang silaturahmi antar desa maupun antar RT dan RW serta banyak masyarakat mengharapkan berkah dari acara tersebut.

dokumen pribadi

Peringatan Maulid Nabi biasanya dilaksanakan di masjid Bonang tepat pada malam 12 Rabiul Awal dan akan disusul oleh mushola-mushola terdekat di bulan Rabiul Awal tersebut. Acaranya pun cukup sederhana di mana setiap warga bergotong royong membuat 5 sampai 10 makanan (berkat) untuk dikumpulkan di masjid atau mushola dan akan dibagikan ketika acara selesai. Muludan sering berisi tentang pembacaan tahlil, pembacaan al-Barzanji dan inti suatu acara adalah “mau'izah hasanah” yang diisi oleh pemuka agama.

Tradisi Muludan bukan hanya ritual keagamaan semata, melainkan juga mencerminkan masing-masing sila Pancasila:

1) Ketuhanan Yang Maha Esa, melalui pembacaan tahlil, al-Barzanji, serta ceramah agama yang memperkuat spiritualitas.

2) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, melalui kegiatan berbagi makanan (berkat) yang menunjukkan kepedulian dan penghargaan terhadap sesama dan memperkuat rasa kemanusiaan.

3) Persatuan Indonesia. Muludan menjadi ajang silaturrahmi, bukan hanya antarwarga desa, namun juga lintas RT, RW, bahkan antar desa. Ini memperkuat rasa kebersamaan yang semakin jarang ditemukan di tengah budaya individualisme masa kini.

4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan, tercermin lewat musyawarah untuk mencari dana dengan meminta iuran tiap kepala keluarga.

5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, melalui warga yang ikut serta membuat dan menyumbangkan makanan (berkat) serta iuran dalam jumlah yang terjangkau dan adil, menunjukkan distribusi peran dan manfaat yang merata. Setelah acara, semua warga mendapatkan bagian (berkat), mencerminkan keadilan dalam kebersamaan.

Dalam pandangan saya, perayaan Maulid Nabi yang sederhana, religius, dan sarat makna seperti yang dilakukan di Bonang justru perlu dipertahankan di tengah era yang serba digital dan instan. Bentuk perayaan ini menjaga esensi dari Maulid Nabi sebagai momentum mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani akhlak Rasulullah, bukan sekadar seremoni. Pandangan ini juga sejalan dengan KH. Hasyim Asy’ari yang menyatakan bahwa peringatan Maulid Nabi akan menjadi baik jika di dalamnya terkandung hal-hal yang baik pula, seperti membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan sirah nabawiyah. Beliau menambahkan bahwa kegiatan tersebut dapat meningkatkan keimanan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta dianjurkan untuk mempererat persaudaraan melalui sedekah dan berbagi makanan. Bahkan, penggunaan rebana dalam memeriahkan Maulid dianggap tak masalah karena hal tersebut juga pernah terjadi di masa Rasulullah SAW.

ilustari perayaan karnaval (sumber: https://youtu.be/JjB6MRT75gg?si=-jrkhu6a9p8W1YGT)

Jika bergeser ke lingkup pendidikan yang mana bentuk perayaan seperti karnaval kostum yang biasanya digelar oleh pihak sekolah ataupun pondok pesantren terkadang lebih menonjolkan unsur hiburan daripada nilai religius, menurut saya hal tersebut perlu ditinjau ulang. Bukan berarti menolak kreativitas atau ekspresi budaya, namun penting agar nilai utama dari Maulid Nabi tidak luntur hanya karena ingin terlihat meriah atau modern. Perayaan yang terlalu fokus pada tampilan visual seringkali tidak meninggalkan kesan spiritual yang mendalam.

Maka, integrasi nilai-nilai edukatif, spiritual, dan kebersamaan sosial adalah bentuk ideal yang dapat dijaga bahkan dikembangkan. Digitalisasi dapat dimanfaatkan secara bijak, misalnya dengan mendokumentasikan acara, membagikan ceramah lewat media sosial, atau membuat dokumenter tradisi Muludan agar dikenal luas generasi muda.

Tradisi Maulid Nabi di Bonang bukan sekadar kecintaan kepada Rasulullah SAW, tetapi juga cermin kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai religius, kebersamaan, dan kesederhanaan. Di balik tahlil, al-Barzanji, ceramah, dan “berkat” yang dibagikan, tersimpan nilai spiritual, sosial, keadilan dan persatuan yang dalam, sejalan dengan nilai-nilai Pancasila sebagai pondasi dalam kehidupan berbangsa. Di tengah tantangan zaman yang serba modern, tradisi seperti ini perlu terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai warisan budaya yang pantas dilestarikan.

Dengan demikian, Maulid Nabi bukan sekadar agenda tahunan saja, tetapi juga menghadirkan keselarasan antara nilai-nilai agama dan semangat kebangsaan, sebagai ruang memperkokoh nilai spiritual dan membangun solidaritas sosial antarwarga serta menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Daftar Pustaka

Masruri, U.N. (2018). Perayaan Maulid Nabi dalam Pandangan Kh. Hasyim Asy'ari. Riwayah, 4 (2), 281-294.

NUANSA, T. B. D., & DEMAK, P. T. M. LEBARAN MAULID

Zaki, M., Rafif, M. A., Imam, K., Haerani, J., Husna, L., & Wati, N. W. (2025). IMPLEMENTASI NILAI NILAI PANCASILA DALAM TRADISI MAULID NABI PADA MASYARAKAT KARANG PULE SEKARBELA. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 10(01). 385-398.

Sayyidah Syarifah,

Mahasiswi Matematika UIN walisongo Semarang.