Kalau Kota Bisa Menelanmu, Apa yang Tersisa?

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Sayyidah Najma Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu berdiri di tengah keramaian kota dan tiba-tiba merasa tidak ada yang benar-benar melihatmu? Gedung-gedung menjulang di kiri kanan, klakson bersahutan tanpa henti, orang-orang bergerak cepat ke segala arah namun di tengah semua kebisingan itu, ada kesunyian yang aneh dan mencekam. Seolah kota ini terus tumbuh, terus bergerak, tanpa pernah peduli siapa yang tertinggal di belakangnya.
Perasaan itulah yang coba dibahasakan oleh Kusuma Widjayanti dalam cerpen Kota yang Memakan Anak-anaknya, yang diterbitkan di Kompas.id. Sejak kalimat pertama, ia tidak memulai dengan tokoh atau konflik. Yang hadir lebih dulu justru kota itu sendiri bukan sebagai latar, melainkan sebagai makhluk hidup yang bernafas dan memangsa. Jakarta digambarkan sebagai naga purba yang tidak pernah mengenal lelap, sisik-sisiknya adalah gedung-gedung kaca, lidahnya adalah jalan-jalan beraspal yang terus berdenyut. Cara bercerita seperti ini langsung memaksa satu pertanyaan muncul: kalau kotanya sendiri adalah pemangsa, lalu apa nasib orang-orang yang hidup di dalam perutnya?
Ketika Bekerja Keras Pun Tidak Cukup
Raka adalah jawaban atas pertanyaan itu. Seorang pengemudi ojek online dengan kaki pincang akibat polio sejak kecil, ia menolak keras dipanggil cacat meski ejekan datang dari setiap sudut jalan yang ia lewati. Setiap hari ia keluar dengan motor tua yang kondisinya jauh dari layak, demi memastikan keluarganya bisa makan.
"Motor bebek bututnya adalah kuda kurus yang menolak menyerah pada maut."
Kalimat itu terasa bukan sekadar deskripsi kendaraan. Ia adalah gambaran dari jutaan pekerja informal yang terus bergerak di bawah tekanan sistem yang tidak pernah benar-benar melindungi mereka. Bekerja keras, jujur, dan tidak menyerah namun tetap rentan. Tetap bisa hilang kapan saja, tanpa ada yang benar-benar bertanggung jawab.
Dan memang begitulah yang terjadi. Raka tewas dilindas kendaraan aparat saat mengantar pesanan terakhirnya. Kematian yang terasa bukan seperti kecelakaan biasa, melainkan seperti sesuatu yang sudah lama disiapkan oleh cara kerja kota ini.
Kebenaran yang Hanya Bisa Direkam dalam Bayangan
Widjayanti kemudian menghadirkan Bagas, seorang jurnalis dengan kamera yang anehnya hanya bisa menangkap bayangan bukan wajah manusia secara utuh. Di permukaan, ini terdengar seperti elemen magis yang tidak masuk akal. Tapi justru di situlah kritiknya terasa paling tajam. Dalam banyak kasus nyata, kebenaran yang paling penting justru adalah yang paling sulit direkam secara utuh yang hanya bisa ditangkap lewat celah-celah, bayangan, dan sisa-sisa yang ditinggalkan.
"Bayangan lebih jujur daripada manusia, Nadia. Mereka tak bisa berpura-pura, tak bisa memakai topeng."
Tulisan-tulisan Bagas sering ditolak redaksi dengan alasan "terlalu tajam". Sebuah detail kecil yang terasa sangat familiar bahwa kebenaran yang paling relevan sering kali adalah yang paling tidak nyaman untuk didengar, dan karena itu paling mudah untuk dibungkam.
Ketika Ingatan Menjadi Satu-satunya Perlawanan
Yang paling mengena dari cerpen ini bukan adegan demonstrasi ribuan ojol yang turun ke jalan, bukan pula gas air mata yang ditembakkan ke kerumunan. Yang paling mengena adalah momen ketika rekaman Bagas muncul di layar besar ruang sidang, menampilkan wajah Raka yang berbicara seolah-olah masih hidup:
"Aku hidup dalam luka kota ini yang tak kunjung sembuh."
Widjayanti seolah ingin mengatakan bahwa sistem hukum tidak selalu cukup untuk menuntut keadilan. Kadang yang paling ampuh justru adalah ingatan yang terus dijaga, terus disebarkan, hingga tidak ada lagi ruang bagi mereka yang bersalah untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Dalam pandangan René Wellek dan Austin Warren (1990), sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat bukan cermin yang memantulkan realita secara utuh, melainkan ekspresi dari sebagian kegelisahan yang dirasakan pengarangnya. Dan kegelisahan yang dirasakan Widjayanti dalam cerpen ini terasa sangat nyata: bahwa di kota yang terus tumbuh ini, selalu ada yang justru hilang dan yang hilang itu sering kali adalah mereka yang paling tidak punya suara.
Mungkin pertanyaan yang paling penting setelah membaca cerpen ini bukan tentang Raka atau Nadia. Pertanyaan yang lebih layak diajukan kepada diri sendiri adalah: di kota tempat kita hidup sekarang, siapa yang sedang ditelan dan apakah kita bahkan menyadarinya?
