Saat Helm Pecah Itu Menjadi Saksi Bisu Sebuah Kota

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Sayyidah Najma Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak banyak cerpen yang memilih kota sebagai tokoh utamanya sendiri. Namun itulah yang dilakukan Kusuma Widjayanti dalam "Kota yang Memakan Anak-anaknya". Kota besar ini tidak hanya menjadi tempat kejadian, tetapi diberi napas, gigi, dan kerakusan, sehingga setiap orang yang hidup di dalamnya terasa seperti berada di dalam tubuh sesuatu yang hidup dan mengancam. Nadia, narator dalam cerpen ini, menjadi saksi dari bagaimana kerakusan itu merenggut kakaknya sendiri, Raka, seorang pengemudi ojek online yang berjuang dengan kaki pincang akibat polio.
René Wellek & Austin Warren (1949) pernah menulis bahwa karya sastra bukan sekadar produk imajinasi, melainkan rekaman dari kondisi sosial yang sungguh dialami masyarakat tempat ia lahir. Gagasan itu terasa pas untuk membaca cerpen ini, sebab sosok Raka bukan lagi tokoh fiksi semata, tetapi representasi nyata dari ribuan pekerja informal yang setiap hari mempertaruhkan keselamatannya demi sekadar bertahan hidup.
Kemiskinan dalam cerpen ini digambarkan tanpa basa-basi. Tidak ada makanan yang cukup, hanya ada suara sendok beradu dengan panci kosong setiap pagi. Di tengah kondisi itu, motor tua milik Raka menjadi satu-satunya andalan keluarga untuk tetap punya penghasilan, sekalipun kondisinya jauh dari layak:
"Motor bebek bututnya adalah kuda kurus yang menolak menyerah pada maut."
Penggambaran semacam ini bukan sekadar hiasan bahasa. Ia menyentuh kenyataan banyak pengemudi ojek daring yang harus terus bekerja dengan kendaraan seadanya, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tidak pernah benar-benar tercukupi. Dari situasi rentan semacam inilah tragedi besar dalam cerpen ini bermula, ketika sebuah kendaraan milik aparat menabrak dan merenggut nyawa Raka begitu saja:
"Truk raksasa besi berwajah kerbau hitam dengan mata menyala melindas tubuh kakakku."
Kematian itu tidak hanya menjadi duka pribadi bagi Nadia, tetapi juga membuka jalan bagi konflik yang lebih besar, yakni pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas hilangnya nyawa rakyat kecil di jalanan.
Tokoh Bagas hadir membawa elemen yang tidak biasa ke dalam cerita ini. Sebagai seorang jurnalis dengan kamera yang anehnya hanya bisa menangkap bayangan, bukan wajah asli manusia, Bagas menjadi simbol dari pencarian kebenaran yang sering kali tersamarkan atau bahkan dibungkam. Ketika ditanya alasan kameranya bekerja seperti itu, jawabannya justru menjadi salah satu titik paling menggugah dalam cerpen ini:
"Bayangan lebih jujur daripada manusia, Nadia. Mereka tak bisa berpura-pura, tak bisa memakai topeng."
Gagasan itu kemudian terbukti penting ketika rekaman milik Bagas, yang awalnya tampak tidak berguna, justru menjadi bukti yang mengguncang seorang pejabat bernama Darmawan di hadapan publik. Rekaman itu menampilkan sosok Raka yang berbicara seolah-olah masih hidup, menegaskan bahwa kematiannya tidak boleh dilupakan begitu saja:
"Aku hidup dalam luka kota ini yang tak kunjung sembuh."
Klimaks cerita ini terjadi saat ribuan pengemudi ojek online turun ke jalan menuntut keadilan atas kematian rekan-rekan mereka, namun aksi itu dibalas dengan tembakan gas air mata. Represi semacam ini menunjukkan bagaimana suara rakyat kecil sering kali dihadapi dengan kekerasan, bukan dialog. Justru dari kekacauan itulah Nadia menyadari bahwa perjuangan kakaknya tidak benar-benar berakhir, melainkan menyatu dengan jalanan yang setiap hari dilalui banyak orang.
Pesan yang ditinggalkan cerpen ini terasa jelas menjelang akhir cerita, ketika kamera milik Bagas kembali menyala dan menampilkan wajahnya sendiri:
"Kamera ini merekam jiwa-jiwa yang telah pergi, memberikan mereka kesempatan untuk berbicara sekali lagi."
Lewat kalimat itu, cerpen ini menegaskan gagasan bahwa kekuasaan boleh saja berusaha membungkam korban dan saksi kebenaran untuk sementara waktu, tetapi ingatan kolektif yang terus dijaga pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri untuk didengar oleh khalayak luas.
Daftar Pustaka
Widjayanti, Kusuma. (2025). Kota yang Memakan Anak-anaknya. Surabaya: Wiedlove.
Wellek, René, & Warren, Austin. (1990). Teori Kesusastraan (terjemahan). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
